Merah Putih di Puncak Gunung dan Dasar Laut: Refleksi Kedaulatan yang Kian Partisipatif
Baca dalam 60 detik
- HUT ke-81 RI dirayakan dengan upacara di lokasi ekstrem, dari goa hingga dasar laut, menandai pergeseran makna seremoni kemerdekaan.
- Untuk pertama kalinya, logo resmi HUT RI dipilih melalui voting publik, dengan 68.569 suara terkumpul dan karya Fajar Novario menang.
- Ekspedisi 81 dan upacara di Goa Luweng Ombo mengintegrasikan konservasi lingkungan, menegaskan kedaulatan tidak hanya soal teritorial.

Lima ratus pendaki menjejakkan kaki di Puncak Ogal Agil, Gunung Arjuno, sementara di kedalaman Goa Luweng Ombo, Pacitan, seorang bupati bersiap memimpin upacara Detik-Detik Proklamasi. Di tempat lain, penyelam menata Merah Putih raksasa di dalam akuarium Sea World Ancol. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini jelas tidak ingin dirayakan dengan cara yang biasa-biasa saja.
Namun di balik kemeriahan yang tersebar dari perbatasan hingga dasar laut, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar: apa arti kemerdekaan setelah 81 tahun? Tema tahun ini, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", memberi kerangka, tetapi publik tampaknya ingin menerjemahkannya dengan cara yang lebih konkret—bukan sekadar slogan di spanduk.
Salah satu terobosan yang patut dicatat adalah pemilihan logo resmi HUT RI yang melibatkan suara publik untuk pertama kalinya. Antara 24 hingga 28 Juni 2026, sebanyak 68.569 suara masuk, dan karya Fajar Novario dari Padang, Sumatera Barat, keluar sebagai pemenang dengan 30.699 suara (44,73 persen). Ini sinyal bahwa simbol kenegaraan tidak lagi lahir dari ruang tertutup birokrasi, melainkan dari denyut partisipasi warga.
Fajar sendiri mengaku desainnya terinspirasi cara pandang para pendiri bangsa terhadap keberagaman. Logo, baginya, adalah bahasa visual yang membawa gagasan persatuan dan masa depan. Dengan melibatkan publik, proses ini sekaligus menguji apakah masyarakat benar-benar merasa memiliki simbol tersebut—atau sekadar menjadi penonton di rumah masing-masing.
Pergeseran makna juga terlihat dari lokasi upacara. Jika dulu upacara identik dengan halaman kantor pemerintahan, kini ia bisa berlangsung di lereng Gunung Merapi, Bukit Klangon, Sleman, atau di kedalaman bumi Pacitan. Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, akan memimpin langsung dari Goa Luweng Ombo—sebuah goa karst yang selama ini jarang tersentuh. Ini bukan sekadar atraksi; ekspedisi yang berlangsung 9–19 Agustus itu membawa misi pemetaan, penelitian, dan konservasi kawasan karst.
Di Gunung Arjuno, Ekspedisi 81 tidak hanya mengibarkan bendera, tetapi juga menanam 500 batang Ficus dan cemara gunung, memasang papan imbauan pencegahan kebakaran, serta membersihkan jalur pendakian. Kegiatan ini menunjukkan bahwa kemerdekaan bisa dirayakan dengan tindakan merawat ruang hidup, bukan hanya dengan sorak-sorai.
Bagi Indonesia, momen ini menegaskan bahwa kedaulatan tidak melulu soal garis batas negara. Ia juga tentang kemampuan bangsa menjaga sumber air, pangan, dan keanekaragaman hayati. Ketika upacara digelar di pos lintas batas atau di tengah hutan, pesan yang ingin disampaikan adalah: kedaulatan harus dirasakan hingga titik terjauh, sekaligus dirawat dari hal yang paling dekat.
Namun, pertanyaan yang menggantung adalah apakah partisipasi semacam ini akan berlanjut atau hanya menjadi euforia tahunan. Akankah pemilihan logo berikutnya tetap melibatkan publik? Dan yang lebih penting, apakah semangat merawat lingkungan yang ditunjukkan di Arjuno dan Pacitan akan menjadi gerakan nasional, atau sekadar seremoni belaka? Jawabannya ada pada konsistensi kita setelah bendera diturunkan.



