El Nino Diprediksi Menguat ke Level Ekstrem, Indonesia Berpotensi Alami Kemarau Panjang
Baca dalam 60 detik
- Peluang El Nino mencapai level kuat hingga sangat kuat pada Oktober mencapai 81%, dengan potensi berlanjut hingga awal tahun depan.
- Malaysia memperingatkan defisit curah hujan hingga 35% di sejumlah wilayah, meningkatkan risiko kekeringan dan kabut asap lintas batas.
- Fenomena ini dapat memperparah musim kemarau di Indonesia, mengancam ketahanan pangan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Badan Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengeluarkan peringatan dini bahwa fenomena El Nino diprediksi menguat ke level kuat hingga sangat kuat mulai Oktober mendatang. Dengan probabilitas mencapai 81%, kondisi ini berpotensi memicu hari-hari yang lebih panas dan periode kering yang berkepanjangan, tidak hanya di Malaysia tetapi juga di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Dalam laporan prospek cuaca jangka panjang periode Agustus hingga Januari tahun depan, MetMalaysia menyebut peluang El Nino bertahan hingga awal tahun berikutnya mencapai 97%. Dampaknya, curah hujan diprediksi berada di bawah normal di sebagian besar wilayah, terutama di pesisir barat, timur, dan selatan Semenanjung Malaysia, serta sebagian Sarawak dan Sabah. Defisit curah hujan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan ini, seiring dengan berlangsungnya musim barat daya yang biasanya membawa udara lebih kering.
Kepala MetMalaysia, Dr. Mohd Hisham Mohd Anip, mengingatkan bahwa kondisi atmosfer yang lebih kering meningkatkan risiko kabut asap, baik yang bersumber dari kebakaran lokal maupun lintas batas. "Periode kering ini meningkatkan risiko kabut asap lokal dan transboundary, terutama jika ada pembakaran terbuka yang tidak terkendali," ujarnya dalam pernyataan resmi. Ia juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan, terutama antara pukul 11.00 hingga 16.00, karena intensitas UV dapat meningkat signifikan.
Fenomena El Nino kali ini mengingatkan pada kejadian ekstrem 1997-1998, ketika Asia Tenggara dilanda kabut asap parah, krisis air, dan gangguan penerbangan. Saat itu, Malaysia mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, 40,1 derajat Celsius di Chuping, Perlis, pada April 1998. MetMalaysia sebelumnya juga telah memperingatkan potensi suhu mencapai 40 derajat Celsius pada awal tahun depan akibat "Super El Nino".
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi sinyal penting. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga telah memproyeksikan bahwa El Nino akan berdampak pada musim kemarau yang lebih kering dari normal, terutama di wilayah selatan Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara. Hal ini berpotensi mengganggu produksi pangan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta memicu krisis air bersih di sejumlah daerah. Pemerintah daerah dan pusat perlu menyiapkan langkah mitigasi, seperti optimalisasi waduk, sosialisasi penghematan air, dan penguatan sistem peringatan dini kebakaran.
Menurut analis iklim, El Nino tahun ini diperkirakan tidak sekuat kejadian 1997-1998, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak signifikan. "Intensitasnya mungkin tidak sehebat 1997, tetapi dengan kondisi lingkungan yang semakin rentan, dampaknya bisa terasa lebih luas," ujar seorang peneliti iklim yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa kerja sama regional dalam pengendalian kebakaran hutan dan pengelolaan sumber daya air menjadi krusial untuk meminimalkan risiko.
Dengan proyeksi El Nino yang berlanjut hingga awal tahun depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, dalam menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran. Apakah langkah-langkah mitigasi yang ada saat ini cukup untuk mencegah terulangnya bencana kabut asap seperti dua dekade lalu? Hanya waktu yang akan menjawab, namun kewaspadaan sejak dini menjadi kunci.



