Burnham Pertaruhkan Karir Politik demi Reformasi Social Care Inggris: Pajak Baru di Depan Mata?
Baca dalam 60 detik
- PM Inggris Andy Burnham berencana mengusung sistem perawatan sosial gratis dan didanai negara dalam manifesto pemilu mendatang, meski harus menaikkan pajak.
- Langkah ini berisiko memicu kemarahan publik dan oposisi, dengan bayang-bayang 'death tax' dan 'dementia tax' yang pernah menggagalkan reformasi serupa.
- Keberhasilan Burnham akan bergantung pada rekomendasi Baroness Casey dan kemampuan meyakinkan Partai Buruh serta pemilih untuk menerima beban fiskal baru.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham secara terbuka menyatakan akan menjadikan perbaikan sistem perawatan sosial (social care) sebagai janji utama dalam pemilu berikutnya, dengan mengusung gagasan layanan perawatan gratis yang dibiayai negara. Pernyataan ini disampaikannya dalam wawancara dengan BBC, menandai langkah politik berani yang berpotensi mengubah lanskap kesejahteraan Inggris—sekaligus mempertaruhkan popularitasnya.
Burnham, yang pernah menjabat Menteri Kesehatan di era Gordon Brown, telah lama menyuarakan keprihatinan atas kondisi social care di Inggris. Kini, sebagai pemimpin, ia berjanji akan mengerahkan seluruh modal politiknya untuk membenahi sistem yang dinilainya rusak. Namun, pertanyaan besar soal pendanaan masih menggantung. Yayasan Kesehatan (Health Foundation) memperkirakan sistem gratis akan menguras kas negara hingga £18 miliar per tahun—angka yang dibantah Burnham, meski ia mengakui kebijakan ini bisa membuatnya tidak populer.
Pemerintahan sebelumnya telah berkali-kali mencoba mereformasi social care dan selalu mundur karena biaya politik yang tinggi. Theresa May pada 2017 gagal total setelah usulannya dijuluki 'dementia tax'. Burnham pun menyadari manifesto Partai Buruh yang ada saat ini—yang melarang kenaikan pajak penghasilan, PPN, dan asuransi nasional—akan menyulitkannya mencapai target. Isyarat kuat bahwa ia akan mengusung kenaikan pajak dalam manifesto mendatang semakin terang.
Opsi pendanaan alternatif masih terbuka, termasuk rencana lama Burnham untuk membebankan sebagian biaya kepada ahli waris. Ia juga bisa berlindung di balik hasil kajian Baroness Casey, pakar kebijakan yang memimpin komisi perawatan sosial dewasa sejak April tahun lalu. Casey diminta mencari solusi berkelanjutan, dan dalam lingkup tugasnya termasuk merekomendasikan perubahan pajak serta pemotongan belanja di sektor lain.
"Saya akan mencurahkan seluruh modal politik yang saya miliki untuk memperbaiki sistem perawatan sosial yang rusak," tegas Burnham dalam wawancara dengan BBC.
Kritik datang dari dalam partai. Darren Jones, mantan kepala staf Keir Starmer yang kini menjadi pengkritik internal Burnham, memperingatkan agar tidak hanya menaikkan pajak dan berutang tanpa pemotongan. Ia menyarankan agar Burnham berani mengorbankan triple lock pensiun—kebijakan yang dijamin dalam manifesto 2024—jika ingin memprioritaskan social care. Partai Konservatif dan Reform juga sudah menembakkan kritik, menyebut rencana ini sebagai 'death tax' baru.
Bagi sebagian anggota parlemen Buruh, prospek harus menjual kebijakan tidak populer seperti kenaikan pajak atau perubahan triple lock di depan pintu pemilih menjadi mimpi buruk. Namun, tren beberapa tahun terakhir menunjukkan politisi dari kedua kubu semakin berani mengambil sikap tegas, meski berisiko. Burnham sendiri tampak percaya diri bisa memenangkan argumen, dan orang-orang di sekitarnya yakin siapa pun yang berhasil membenahi social care akan menuai pujian besar.
Sejarah menunjukkan, perdana menteri yang gagal meyakinkan publik soal reformasi social care biasanya tidak bertahan lama. Burnham telah berbicara soal ini selama bertahun-tahun, dan kini ia mengambil langkah besar. Akankah ia berhasil meyakinkan publik Inggris—dan Partai Buruh—untuk menerima beban pajak baru? Atau akankah nasibnya berakhir seperti Theresa May?



