Proyek MRT Fase 2A Tembus 62,68 Persen, Rp25,3 Triliun Disuntik untuk Tujuh Stasiun Bawah Tanah
Baca dalam 60 detik
- Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A mencapai 62,68 persen per 25 Juli 2026, melampaui target 61,92 persen.
- Proyek senilai Rp25,3 triliun ini didanai pinjaman bilateral Indonesia-Jepang dan menargetkan rampung bertahap hingga 2029.
- Terowongan utara-selatan telah tersambung penuh, menandai kemajuan signifikan menuju integrasi transportasi massal Jakarta.

PT MRT Jakarta (Perseroda) mengumumkan bahwa pembangunan Fase 2A Lin Utara Selatan telah mencapai 62,68 persen per 25 Juli 2026, melampaui target 61,92 persen. Proyek senilai Rp25,3 triliun yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota ini menjadi tulang punggung integrasi transportasi massal ibu kota, dengan dukungan pinjaman dari Pemerintah Jepang.
Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta, Rendy Primartantyo, mengungkapkan bahwa pendanaan proyek ini berasal dari skema kerja sama bilateral antara Indonesia dan Jepang. "Fase ini dibangun dengan biaya sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang," ujarnya di Jakarta, Kamis. Investasi sebesar itu mencerminkan komitmen kedua negara dalam memperkuat infrastruktur perkotaan yang berkelanjutan.
Fase 2A membentang sepanjang 5,8 kilometer dan mencakup tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Proyek ini dibagi menjadi dua segmen: segmen pertama Bundaran HI–Harmoni ditargetkan beroperasi pada akhir 2027, sedangkan segmen kedua Harmoni–Kota menyusul pada akhir 2029. Percepatan konstruksi menjadi krusial mengingat target ambisius yang telah ditetapkan pemerintah untuk memperluas jaringan MRT secara bertahap.
Kemajuan terlihat pada seluruh paket kontrak. Paket CP201 yang mencakup Stasiun Thamrin dan Monas telah mencapai 93,90 persen, sedikit di atas target 93,89 persen. Di Stasiun Thamrin, pekerjaan kini fokus pada reinstatement area pejalan kaki, pembangunan kembali halte Transjakarta, serta instalasi MEP dan finishing pintu masuk. Sementara itu, Stasiun Monas tengah menyelesaikan interior, akses pintu masuk, dan uji penerimaan sistem. Paket CP202, yang meliputi terowongan dan stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar, tercatat 68,00 persen. Pada Juli 2026, mesin bor terowongan 1 telah menembus sisi selatan Stasiun Mangga Besar, sehingga terowongan arah utara dari Bundaran HI hingga Kota telah terhubung penuh—sebuah pencapaian teknis yang menandai kelancaran rute bawah tanah. Paket CP203 untuk Stasiun Kota dan Glodok mencapai 86,85 persen, dengan pekerjaan arsitektural seperti instalasi pipa, kabel, plastering, dan pemasangan panel dinding yang terus berjalan.
Bagi warga Jakarta, proyek ini bukan sekadar infrastruktur fisik. Fase 2A akan memperpendek waktu tempuh dari kawasan bisnis Bundaran HI menuju Kota Tua, sekaligus mengurangi kemacetan di koridor Sudirman–Thamrin. Kehadiran stasiun bawah tanah seperti Monas dan Harmoni juga diharapkan mendorong aktivitas ekonomi di sekitar kawasan tersebut, sejalan dengan konsep transit-oriented development (TOD) yang digagas pemerintah provinsi. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal pembebasan lahan dan koordinasi dengan utilitas bawah tanah yang padat di pusat kota.
Dengan pendanaan yang berasal dari pinjaman Jepang, proyek ini juga menegaskan posisi Jepang sebagai mitra strategis Indonesia dalam pembangunan infrastruktur. Sebelumnya, Jepang terlibat dalam pembangunan MRT Fase 1 yang menghubungkan Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Keberlanjutan kerja sama ini menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap stabilitas ekonomi dan komitmen pemerintah Indonesia dalam merealisasikan proyek jangka panjang. Meski demikian, publik akan mencermati apakah target penyelesaian 2027 dan 2029 dapat dipenuhi tanpa kendala berarti, mengingat kompleksitas teknis dan koordinasi lintas lembaga yang dibutuhkan.
Ke depan, keberhasilan Fase 2A akan menjadi barometer bagi proyek-proyek MRT berikutnya, termasuk lintas Timur-Barat yang tengah dilelang. Pertanyaan yang menggantung: akankah pemerintah mampu menjaga momentum ini dan memastikan integrasi antarmoda yang mulus bagi pengguna? Jawabannya akan menentukan wajah transportasi publik Jakarta dalam dekade mendatang.



