Gen Z Bandung Meragukan Makna Kemerdekaan: Biaya Hidup Tinggi dan Lapangan Kerja Sempit
Baca dalam 60 detik
- Kaum muda di Bandung menilai kemerdekaan belum dirasakan secara ekonomi karena biaya hidup yang melonjak dan sulitnya mendapatkan pekerjaan.
- Mereka mengkritik program pemerintah yang dianggap tidak menyentuh akar masalah, seperti pendidikan dan kesejahteraan sosial.
- Suara ini menjadi refleksi kritis bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan agar kemerdekaan tidak sekadar seremoni tahunan.

Menjelang peringatan kemerdekaan ke-81, sekelompok anak muda di Bandung justru diliputi kegelisahan. Mereka mempertanyakan esensi kemerdekaan yang selama ini dirayakan, terutama ketika biaya hidup terus merangkak naik dan lapangan kerja semakin sempit. Bagi mereka, kata "merdeka" belum sepenuhnya terasa, baik secara ekonomi maupun kebebasan berpendapat.
Gilang Fathu Romadhan, mahasiswa tingkat akhir Universitas Sangga Buana YPKP Bandung, mengungkapkan bahwa momen 17 Agustus seharusnya menjadi bahan refleksi, bukan sekadar euforia. "Hari kemerdekaan ini jadi momen untuk melihat lagi, sebenarnya kemerdekaan itu sudah dirasakan semua orang atau belum," ujarnya. Ia menilai kemerdekaan sejati berarti masyarakat hidup layak, bebas dari ketakutan terhadap pemerintah, dan memiliki kesempatan menentukan masa depan tanpa intervensi negara.
Namun, realitas yang ia hadapi jauh dari harapan. Sejak semester satu, Gilang bekerja paruh waktu sebagai koresponden media lokal untuk membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Ia menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman sebayanya kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan upah layak. "Banyak Gen Z yang masih jauh dari kata merdeka secara ekonomi. Biaya hidup makin mahal, sementara cari kerja juga enggak gampang. Janji 19 juta lapangan pekerjaan juga belum kelihatan," keluhnya.
Senada dengan Gilang, Indah Permatasari, seorang pegawai toko aksesori berusia 20 tahun, mengaku meski telah menerima upah minimum kota, ia tetap diliputi kecemasan. "Beban pikiran kita merasa makin hari makin jauh dari merdeka. Mungkin karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi, sedangkan realitas kita semakin menjauh dari ekspektasi," tuturnya. Indah juga menyayangkan sikap negara yang represif terhadap warga yang memilih tidak memasang bendera, seperti kasus tukang cukur di Bogor. Baginya, kebebasan berekspresi adalah bagian dari kemerdekaan yang sesungguhnya.
Kritik juga datang dari Rafli Fitrananda, mahasiswa UNISBA, yang menyoroti pentingnya pendidikan. "Jangan fokus ke makan-makanlah. Pendidikan paling penting. Saya hanya mau pendidikan itu menjadi sorotan utama bagi pemerintah," tegasnya. Rafli menilai tanpa perhatian serius pada pendidikan, bangsa ini tidak akan pernah benar-benar merdeka. Sementara itu, Indrianti, mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati, menambahkan bahwa kemerdekaan masih sekadar pengakuan administratif. "Gen Z saat ini belum sepenuhnya merdeka secara ekonomi, terutama keadaan sekarang yang biaya hidup mahal tidak didukung dengan ketersediaan lowongan pekerjaan," ujarnya.
Para anak muda ini berharap pemerintah tidak hanya fokus pada program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kopdes, melainkan juga melihat realitas di lapangan. "Jangan terlalu fokus ke MBG dan Kopdes. Segera melek, melihat kenyataan negeri dari bawah. Jangan sampai kemerdekaan cuma dirayakan lewat seremoni dan slogan setiap tahun," kata Gilang. Mereka menginginkan kebebasan berpendapat yang tidak dibayangi ketakutan, serta kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka: akankah pemerintah mendengar kegelisahan generasi muda ini, atau kemerdekaan akan terus menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan berarti? Jawabannya menentukan apakah anak-anak muda ini akan benar-benar merasakan kemerdekaan, atau terus bertanya seperti lirik lagu Kelompok Penerbang Roket, "Di mana merdeka?"



