Krisis Kepemilikan West Ham: Perebutan Saham di Tengah Ambisi Kembali ke Premier League
Baca dalam 60 detik
- West Ham United memulai musim Championship dengan ketidakpastian di level manajemen, setelah rencana akuisisi oleh miliarder Daniel Kretinsky gagal dan memicu perang saham.
- Penjualan saham Vanessa Gold kepada konsorsium Amanda Staveley memicu manuver balik Kretinsky, yang menjual sebagian sahamnya untuk menghindari ambang batas 50 persen.
- Dengan 50.000 tiket musiman terjual, suporter berharap fokus di lapangan, tetapi konflik di ruang rapat berpotensi mengganggu stabilitas klub dan menarik perhatian regulator independen.

West Ham United mengawali petualangan di Championship setelah 14 tahun absen dengan beban ganda: optimisme di atas lapangan versus kekisruhan di ruang rapat. Klub yang baru saja terdegradasi dari Premier League ini harus menghadapi Burnley di laga perdana, sementara di belakang layar, pertarungan sengit perebutan kendali saham masih belum menemukan titik terang.
Musim panas ini sejatinya memberi secercah harapan bagi pendukung The Hammers. Manajer Nuno Espirito Santo memutuskan bertahan, kapten Jarrod Bowen turut memperpanjang kontrak, dan rekrutan anyar seperti Manor Solomon serta Joel Veltman menambah kedalaman skuad. Meski kehilangan Mateus Fernandes ke Tottenham dan Crysencio Summerville ke Al Hilal, animo suporter tetap tinggi—terbukti dari penjualan 50.000 tiket musiman. Namun, di balik gemerlap persiapan tim, awan gelap menyelimuti masa depan kepemilikan klub.
Dua bulan setelah David Sullivan mundur dari jabatan co-chair menyusul tuduhan pelecehan seksual oleh tujuh perempuan—yang dengan tegas ia bantah—kondisi internal justru semakin rumit. Awalnya, rencana Daniel Kretinsky, miliarder Ceko pemilik Royal Mail, untuk meningkatkan kepemilikan sahamnya hingga 43 persen tampak mulus. Kesepakatan dengan Vanessa Gold, yang memegang 25,1 persen saham, diumumkan pada Juni lalu. Namun, pada 1 Agustus, Gold membatalkan kesepakatan tersebut dan memilih menjual seluruh sahamnya kepada konsorsium yang dipimpin Amanda Staveley, mantan pemilik Newcastle United.
Langkah Gold memicu reaksi berantai. Kretinsky, yang sebelumnya merasa yakin menjadi penguasa mayoritas, kini harus berpikir ulang. Ia merespons dengan menjual 2 persen sahamnya kepada rekan senegaranya, Jakub Havrlant. Manuver ini diduga sebagai cara untuk menghindari aturan yang mewajibkan pemegang saham di atas 50 persen untuk menawarkan pembelian sisa saham dengan harga yang jauh lebih tinggi. Jika Kretinsky akhirnya membeli saham Gold, kepemilikannya akan berada di bawah ambang batas tersebut, sehingga ia tidak terikat kewajiban itu.
Struktur kepemilikan West Ham memang rumit. Ada hak pre-emption yang mengharuskan setiap penjualan saham besar ditawarkan lebih dulu kepada pemegang saham existing dengan harga yang sama, dengan masa tunggu 30 hari. Dalam skenario teoretis, Sullivan—yang masih memegang 38,8 persen saham—bisa membeli 13 persen saham Gold, yang akan membawanya melampaui 50 persen. Namun, langkah itu kemungkinan akan mendapat sorotan dari Independent Regulator, yang pembentukannya justru ditentang keras oleh Sullivan dan Brady. Sumber-sumber dekat Kretinsky meyakini regulator akan turun tangan untuk mencegah Sullivan memperbesar sahamnya, mengingat tuduhan yang dialamatkan kepadanya, meski teori ini belum teruji.
Kekisruhan ini tidak hanya menjadi konsumsi publik Inggris, tetapi juga menarik perhatian pengamat sepak bola global, termasuk di Indonesia. Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, kisruh kepemilikan klub-klub Eropa sering kali menjadi pelajaran tentang tata kelola klub yang sehat. Fenomena ini mengingatkan pada pentingnya regulasi yang jelas dan transparansi dalam manajemen klub, sesuatu yang tengah didorong oleh FIFA dan AFC untuk diterapkan di Asia, termasuk Indonesia. Jika West Ham gagal menyelesaikan konflik internal ini, bukan tidak mungkin performa tim di lapangan ikut terpengaruh, mengingat fokus manajemen akan terpecah.
Seorang suporter setia West Ham yang enggan disebut namanya mengungkapkan kekecewaannya. "Kami punya peluang nyata musim panas ini untuk mengakhiri periode yang menyedihkan, menyatukan semua elemen, dan bersaing dengan serius. Alih-alih, kami justru disuguhi sinetron di ruang rapat, seperti EastEnders," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan banyak pendukung yang merasa klub mereka terjebak dalam pusaran kepentingan bisnis para pemilik.
Hingga kini, belum ada satu pun dari empat pihak—Sullivan, Gold, Kretinsky, atau Staveley—yang memaparkan strategi jangka panjang mereka secara terbuka. Spekulasi pun bermunculan, termasuk kabar bahwa konsorsium Staveley juga telah mengajukan tawaran untuk saham Sullivan, meski belum ada konfirmasi resmi. Yang jelas, kebuntuan ini meninggalkan banyak pertanyaan: akankah West Ham mampu bangkit langsung ke Premier League di tengah ketidakpastian di pucuk pimpinan? Atau justru konflik ini akan menjadi bumerang yang menghambat langkah mereka? Satu hal yang pasti, mata para penggemar dan pengamat sepak bola dunia akan tertuju pada bagaimana klub sekelas West Ham menavigasi salah satu periode paling krusial dalam sejarah mereka.



