Prabowo: Generasi Muda Wajib Membaca Sejarah agar Tak Jadi Korban Bangsa Lain
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo menyerukan literasi sejarah untuk membangun ketahanan nasional di tengah arus informasi global.
- Ia mengaitkan pemahaman masa lalu dengan kemampuan Indonesia menghadapi tekanan eksternal dan menjaga kedaulatan.
- Seruan ini muncul saat peluncuran motor listrik nasional, menandai sinergi antara kemajuan teknologi dan kesadaran historis.

Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan momen peluncuran motor listrik nasional di Cikarang, Jawa Barat, Kamis, untuk menyampaikan pesan yang jarang terdengar di tengah hingar-bingar industrialisasi: generasi muda harus serius mempelajari sejarah bangsanya. Tanpa pemahaman itu, ia memperingatkan, Indonesia berisiko terus menjadi sasaran kepentingan asing.
"Saudara-saudara, terutama anak-anak muda, belajarlah sejarah. Bangsa yang tidak mengerti sejarah akan dihukum oleh sejarah," ujar Prabowo dalam sambutannya yang dikutip dari Antara. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan pengingat bahwa perjalanan Indonesia pasca-kemerdekaan penuh dengan ujian yang kerap muncul tepat saat negara hendak melaju.
Menurut Prabowo, proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah titik akhir perjuangan. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus melalui perang lima tahun untuk mempertahankan kemerdekaan, sebuah fase yang sering dilupakan generasi sekarang. "Tahun 45 kita proklamasikan kemerdekaan kita, tapi dilanjutkan perang. Perang 5 tahun berhasil kita rebut kemerdekaan kita," katanya.
Lebih jauh, kepala negara menyebut sederet gangguan keamanan yang pernah menguji keutuhan bangsa, mulai dari Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), hingga Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Semesta (PRRI/Permesta) dan Gerakan 30 September. Ia meminta publik membuka kembali lembaran sejarah untuk memahami pola-pola yang berulang.
"Bukalah sejarah kita. Kerusuhan-kerusuhan. Tiap kali kita di ambang take off, muncul ini, muncul itu," keluhnya. Pesan ini relevan di tengah upaya pemerintahan menarik investasi dan membangun industri hilir, karena stabilitas politik menjadi prasyarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi.
Yang menarik, pesan sejarah ini justru disampaikan di tengah acara yang sarat nuansa teknologi. Hal itu mengisyaratkan bahwa kemajuan industri tanpa akar historis yang kuat dianggap rapuh oleh pemerintah. Bagi investor dan pelaku usaha, pernyataan presiden ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa stabilitas nasional adalah prioritas yang tak bisa ditawar.
Prabowo juga menekankan bahwa pembelajaran sejarah bukan dimaksudkan untuk menumbuhkan kebencian terhadap bangsa lain. "Tidak pernah saya mengajak kita untuk membenci bangsa lain. Tidak," tegasnya. Justru, dengan memahami perilaku negara-negara lain di masa lalu, Indonesia dapat lebih cerdas dalam menjalin hubungan internasional dan melindungi kepentingan nasional.
Di akhir sambutannya, presiden menyoroti kemajemukan Indonesia sebagai kekuatan, bukan kelemahan. "Kita ditakdirkan lahir sebagai bangsa majemuk. Banyak suku yang berbeda-beda, banyak agama yang berbeda-beda, banyak bahasa daerah, banyak adat daerah, tapi ternyata kita bisa rukun," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di tengah polarisasi politik dan sosial, kohesi kebangsaan adalah modal berharga yang harus dirawat.
Bagi generasi muda Indonesia, seruan ini bisa menjadi pintu masuk untuk menelisik kembali narasi sejarah yang sering disederhanakan. Pertanyaannya, akankah kurikulum pendidikan dan ruang publik mampu menyajikan sejarah secara kritis dan kontekstual, sehingga anak muda tidak hanya menghafal tahun dan nama tokoh, tetapi juga memahami dinamika kekuasaan yang membentuk Indonesia hari ini? Jawabannya akan menentukan apakah bangsa ini benar-benar belajar dari masa lalu atau terus mengulang kesalahan yang sama.


