Quentin Tarantino Luncurkan Novel Sekuel 'Cliff Booth' Desember 2026, Film Netflix Tayang Lebih Dulu
Baca dalam 60 detik
- Quentin Tarantino merilis novel terbaru berjudul The Adventures of Cliff Booth pada 8 Desember 2026 melalui HarperCollins.
- Novel ini melanjutkan kisah stuntman Hollywood Cliff Booth yang diperankan Brad Pitt di Once Upon a Time in Hollywood (2019).
- Film Netflix The Further Mis-Adventures of Cliff Booth, yang disutradarai David Fincher, tayang di IMAX mulai 25 November dan streaming 23 Desember, menciptakan fenomena dua medium sekaligus.

Quentin Tarantino kembali mengejutkan industri hiburan dengan mengumumkan perilisan novel terbarunya, The Adventures of Cliff Booth, yang akan diterbitkan HarperCollins pada 8 Desember 2026. Buku ini merupakan kelanjutan dari kisah Cliff Booth, stuntman Hollywood yang diperankan Brad Pitt dalam film Once Upon a Time in Hollywood (2019).
Namun, ini bukan sekuel film yang selama ini dinanti penggemar. Tarantino memilih medium novel untuk mengembangkan narasi Booth, sementara film berjudul The Further Mis-Adventures of Cliff Booth justru digarap sutradara David Fincher dan akan tayang di Netflix. Tarantino menulis skenario film tersebut, tetapi tidak duduk di kursi sutradara—sebuah keputusan yang menandai babak baru dalam kariernya.
Film The Further Mis-Adventures of Cliff Booth dijadwalkan tayang di bioskop IMAX selama dua pekan mulai 25 November 2026, sebelum akhirnya tersedia eksklusif di Netflix pada 23 Desember. Artinya, penonton akan menyaksikan versi film lebih dulu, baru kemudian membaca novelnya. Kedua karya ini sama-sama ditulis Tarantino, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana alur keduanya akan saling melengkapi atau justru bertentangan.
Pada 2021, Tarantino telah merilis novelisasi Once Upon a Time in Hollywood yang memperluas kisah di luar film, termasuk nasib Booth dan Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) setelah peristiwa klimaks. Langkah itu menunjukkan minat Tarantino pada format prosa sebagai kanal bercerita alternatif. Kini, dengan novel The Adventures of Cliff Booth, ia berpotensi memperdalam elemen yang tidak sempat dieksplorasi dalam film—terutama karena ia tidak menyutradarai versi layar lebar.
"Tarantino selalu melihat novel sebagai ruang kebebasan yang tidak terikat durasi atau sensor studio," ujar seorang pengamat industri film yang enggan disebutkan namanya. "Ini bisa jadi cara dia mengontrol narasi secara penuh."
Dari sisi industri, langkah ini memperkuat tren hibrida antara film dan sastra yang dalam beberapa tahun terakhir makin diminati. Netflix, misalnya, gencar mengadaptasi novel ke layar kaca, tetapi kali ini urutannya terbalik: film lebih dulu, novel menyusul. Strategi ini berpotensi menciptakan ekosistem penggemar yang lebih dalam, di mana penonton film akan terdorong membeli buku untuk memahami latar belakang karakter.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini bisa menjadi angin segar bagi penerbit lokal. Novel Tarantino sebelumnya, termasuk novelisasi Once Upon a Time in Hollywood, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Jika HarperCollins menggandeng penerbit nasional untuk edisi terjemahan, bukan tidak mungkin The Adventures of Cliff Booth akan tersedia di toko buku Tanah Air pada 2027. Selain itu, perilisan film di Netflix memudahkan akses penonton Indonesia tanpa harus menunggu jadwal bioskop—meski IMAX hanya tersedia di kota-kota besar.
Yang menarik, Tarantino dikenal sebagai sutradara yang sangat protektif terhadap karyanya. Keputusannya menyerahkan kursi sutradara kepada Fincher—kolaborator Pitt dalam Fight Club dan Seven—menandakan kepercayaan penuh pada visi sutradara lain. Fincher sendiri punya gaya khas yang gelap dan presisi, yang mungkin memberi warna berbeda pada kisah Booth dibandingkan sentuhan Tarantino. Apakah hasilnya akan memuaskan penggemar berat Tarantino, atau justru memicu perdebatan tentang otentisitas?
Dengan dua karya yang dirilis berdekatan, publik akan segera menilai apakah strategi transmedia ini berhasil. Jika sukses, bukan tidak mungkin Tarantino akan makin sering menggunakan novel sebagai medium utama untuk cerita-cerita yang tidak ia angkat ke layar lebar. Pertanyaannya, akankah ia kembali menyutradarai film setelah ini, atau justru beralih sepenuhnya menjadi penulis? Kita tunggu tanggal 8 Desember.



