Iran Desak Qatar dan Kuwait Buka Data Pilot yang Ditangkap, ICRC Diminta Turun Tangan
Baca dalam 60 detik
- Teheran menuntut akses investigasi ke Qatar untuk memverifikasi nasib pilot yang diklaim ditawan, sementara Doha membantah dan menyebut hanya menemukan jenazah satu pilot.
- Komite Pencari Hilang Iran menuding Qatar dan Kuwait sengaja menunda proses, memicu ketegangan diplomatik baru di kawasan Teluk.
- Langkah Iran meminta keterlibatan ICRC menunjukkan upaya internasionalisasi sengketa, yang berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional.

Teheran kembali menekan Doha dan Kuwait dalam sengketa penanganan personel militernya. Seorang pejabat tinggi militer Iran, Minggu (16/8), menuntut izin masuk ke Qatar bagi tim investigasi untuk mengusut nasib pilot yang diklaim ditawan pasukan Qatar. Tuntutan ini muncul setelah Doha membantah menahan pilot mana pun dan justru menawarkan kerja sama pemulangan jenazah.
Menurut laporan media semi-resmi Tasnim, Komandan Komite Pencarian Orang Hilang Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Mohammad Baqerzadeh, menyatakan tim ahli dan pencari fakta Angkatan Udara Iran telah berbulan-bulan menunggu lampu hijau dari otoritas Qatar. Ia menuduh pejabat Qatar berulang kali menunda penyelidikan dan menghalangi kepulangan pilot-pilot tersebut. Baqerzadeh juga mendesak Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk segera menindaklanjuti kasus ini.
Ketegangan ini berakar pada insiden Maret lalu, ketika pesawat Iran disebut melanggar wilayah udara Qatar dan tidak merespons upaya kontak. Doha mengklaim tim pencari dan penyelamatnya menemukan sisa-sisa jenazah satu pilot, dan telah menghubungi Teheran untuk mengoordinasikan penyerahan. Namun, Iran menilai respons Qatar tidak transparan dan mencurigai adanya penyembunyian informasi.
Di sisi lain, Kuwait turut disorot. Baqerzadeh menuding Kuwait menahan informasi tentang nasib empat warga Iran yang ditahan di negara itu. Sejak Mei, Iran menyebut keempat orang tersebut terkait dengan Korps Garda Revolusi dan sedang melakukan patroli maritim sebelum memasuki perairan Kuwait akibat gangguan navigasi. Kuwait, sebaliknya, menduga mereka merencanakan aksi permusuhan terhadap negaranya.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat mayoritas penduduknya Muslim dan memiliki hubungan diplomatik erat dengan negara-negara Teluk. Konflik yang memanas dapat berdampak pada stabilitas pasokan energi global, mengingat kawasan Teluk adalah pemasok utama minyak dan gas. Selain itu, Indonesia juga memiliki warga negara yang bekerja di kawasan tersebut, sehingga eskalasi ketegangan berpotensi memengaruhi keselamatan mereka.
Para pengamat menilai langkah Iran membawa isu ini ke ICRC merupakan upaya untuk menginternasionalkan sengketa dan menekan Qatar serta Kuwait melalui jalur hukum dan kemanusiaan. Namun, efektivitas tekanan ini masih diragukan karena kedua negara Teluk memiliki hubungan keamanan yang kuat dengan Barat dan sekutu regionalnya.
"Kami telah menunggu berbulan-bulan, tetapi tidak ada respons yang memadai. Ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi menyangkut nyawa dan kehormatan personel kami," demikian kira-kira pernyataan Baqerzadeh yang dikutip media Iran.
Ke depan, penyelesaian kasus ini akan menjadi ujian bagi mekanisme dialog keamanan di kawasan Teluk. Apakah Qatar dan Kuwait bersedia membuka akses penuh bagi tim investigasi Iran, atau justru memperkuat koordinasi keamanan internal untuk menangkal tuduhan serupa? Jawabannya akan menentukan arah hubungan diplomatik di kawasan yang sudah sarat ketegangan.



