Starship SpaceX Sukses Mengorbit, Bawa 26 Satelit Starlink V3
Baca dalam 60 detik
- SpaceX berhasil menerbangkan Starship ke orbit untuk pertama kalinya dalam uji terbang ke-14, membawa 26 satelit Starlink V3.
- Keberhasilan ini membuka jalan bagi perluasan jaringan internet Starlink dan memperkuat ambisi NASA kembali ke Bulan.
- Meski satu mesin atas sempat mati, tim misi memutuskan melanjutkan ke orbit, menandai hilangnya margin keamanan yang selama ini dinikmati.

SpaceX mencetak tonggak baru dalam program Starship setelah roket raksasa itu mencapai orbit Bumi untuk pertama kalinya pada Senin (waktu setempat). Dalam uji terbang ke-14, Starship tidak hanya mengangkasa, tetapi juga melepaskan 26 satelit Starlink V3 ke jalur orbitnya. Peluncuran berlangsung dari fasilitas Starbase di Boca Chica, Texas, pukul 07.48 pagi waktu setempat.
Keberhasilan ini bukan tanpa drama. Satu dari enam mesin tahap atas Starship mengalami kegagalan saat pendakian. Namun, setelah sekitar 22 menit evaluasi, tim pengendali misi memastikan kendaraan masih mampu melanjutkan perjalanan ke orbit. Sementara itu, booster Super Heavy melakukan pendaratan lunak di perairan Teluk Amerika, bukan kembali ke menara peluncuran. Langkah ini merupakan bagian dari pengujian modifikasi perangkat keras dan lunak untuk meningkatkan keandalan penyalaan ulang mesin—masalah yang muncul pada penerbangan ke-13.
Rencana awal misi ini cukup ambisius: perjalanan sekitar 10 jam dengan enam kali mengelilingi Bumi pada ketinggian kurang lebih 275 kilometer, lalu mendarat di Samudra Pasifik sebelah barat Chile. Namun, setelah lepas landas, manajer misi memangkas durasi menjadi sekitar tiga jam dan mengalihkan titik pendaratan ke zona utara Hawaii. Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan kondisi dinamis selama penerbangan.
Bagi SpaceX, lompatan ini krusial karena bisnis konektivitas Starlink—segmen pendapatan terbesar dan satu-satunya yang menguntungkan hingga kuartal kedua—sangat bergantung pada Starship untuk menempatkan satelit V3 yang lebih besar. Satelit V3 tidak dapat diluncurkan dengan Falcon 9. Dengan demikian, kesuksesan orbit ini menjadi prasyarat bagi ekspansi layanan internet berbasis satelit perusahaan.
Selain itu, Starship juga menjadi tulang punggung program Artemis NASA. Badan antariksa Amerika Serikat itu telah memilih SpaceX untuk menyediakan wahana yang akan menurunkan astronaut ke permukaan Bulan. Misi Artemis III yang dijadwalkan meluncur akhir tahun depan akan menguji pertemuan antara kapsul Orion dan Starship. Jika berhasil, misi ini akan mengembalikan manusia ke Bulan setelah lebih dari lima dekade.
"Keberhasilan mencapai orbit adalah langkah penting, tetapi tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa Starship dapat diandalkan untuk misi berawak," ujar seorang analis antariksa yang tidak ingin disebutkan namanya.
Konsekuensi dari penerbangan orbital ini juga menghapus margin keamanan yang selama ini dinikmati. Sebelumnya, 13 uji terbang menggunakan lintasan suborbital yang memungkinkan kendaraan kembali terkendali jika terjadi masalah. Dengan terbang ke orbit, tidak ada lagi jalur mundur yang aman. SpaceX menyatakan bahwa sebelum melakukan pembakaran penyisipan orbit, tim penerbangan telah memverifikasi sistem panduan dan pendaratan beserta redundansinya berfungsi dengan baik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Layanan internet satelit Starlink telah beroperasi di Tanah Air dan menjadi alternatif konektivitas di daerah terpencil. Kapasitas tambahan dari satelit V3 berpotensi memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi penyedia lokal. Di sisi lain, kemajuan program Artemis dapat membuka peluang kerja sama riset antariksa, meskipun Indonesia belum memiliki program luar angkasa berawak.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Starship bisa mencapai orbit, melainkan seberapa cepat SpaceX dapat mengulanginya dan memastikan keandalan penuh. NASA menargetkan Artemis III pada akhir tahun depan, sementara SpaceX perlu membuktikan bahwa Starship mampu melakukan perjalanan berulang dengan aman. Jika berhasil, dominasi SpaceX dalam ekonomi orbit akan semakin sulit digoyang—dan lanskap industri antariksa global akan berubah secara permanen.



