SBY Nilai Arah Pembangunan Era Prabowo Makin Jelas: Target 6 Persen Ambisius tapi Terealisasi
Baca dalam 60 detik
- Presiden ke-6 RI menilai blueprint pembangunan pemerintah saat ini lebih terarah dan memberi harapan baru, merujuk pada pidato kenegaraan 16 Agustus lalu.
- Optimisme itu ditopang rekam jejak kepemimpinannya yang mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 persen selama satu dekade, disertai penurunan kemiskinan dan utang.
- Ia mengingatkan pemerintah menjaga disiplin fiskal dan evaluasi berkala, karena tantangan domestik-global masih membayangi realisasi agenda besar.

Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyatakan keyakinannya bahwa cetak biru pembangunan yang disusun pemerintahan Prabowo Subianto semakin terarah dan menjanjikan, terutama saat memasuki tahun fiskal 2027. Pandangan ini disampaikan melalui rekaman video dari Rochester, Amerika Serikat, dan diunggah di akun Instagram resmi @aniyudhoyono, Minggu (16/8).
SBY, sapaan akrabnya, mengaku memantau jalannya Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (14/8). Selain menyimak langsung, ia juga mendapatkan ringkasan substansi pidato dari sejumlah koleganya di Tanah Air. Menurutnya, berbagai gagasan yang dipaparkan pemerintah telah menjawab kebutuhan strategis bangsa di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika domestik.
Ia menyebut sejumlah prioritas yang dinilai krusial, antara lain menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, menekan angka pengangguran dan kemiskinan, memperbaiki layanan kesehatan dan pendidikan, serta mempercepat pembangunan infrastruktur. "Ini agenda yang sangat penting," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip dari kanal media sosial tersebut. SBY menegaskan bahwa arah kebijakan yang diambil sudah tepat meski tantangan yang dihadapi tidak ringan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun eksternal.
Perhatian khusus disorotkan pada target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen yang dipatok pemerintahan Prabowo-Gibran. SBY menilai angka itu ambisius, tetapi masih dalam batas ketercapaian. Ia merujuk pada pengalamannya memimpin Indonesia selama sepuluh tahun dengan rerata pertumbuhan serupa. "Meskipun ambisius, tidak berarti tidak bisa dicapai. Pengalaman saya memimpin dulu dengan 10 tahun rata-rata 6 persen, dan alhamdulillah kemiskinan turun tajam, pengangguran juga, utang negara menurun drastis," tuturnya. Ia menambahkan, pertumbuhan yang stabil akan berdampak langsung pada peningkatan produk domestik bruto dan pendapatan per kapita masyarakat.
Di tengah dukungannya, SBY menyelipkan pesan penting bagi para pengampu kebijakan. Ia mengingatkan agar pemerintah menjaga kesehatan fiskal, memastikan implementasi program berjalan tanpa penyimpangan, dan melakukan evaluasi berkala. "Great hope, tetapi tantangan juga tidak ringan. Yang penting do the best pemimpin dan pemerintah kita agar yang disampaikan di hadapan rakyat melalui mimbar Senayan kemarin bisa diwujudkan dengan baik," katanya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa optimisme harus dibarengi dengan eksekusi yang disiplin dan transparan.
Bagi pembaca di Indonesia, sikap SBY ini menarik dicermati. Sebagai tokoh yang pernah memimpin negara, dukungannya memberikan sinyal politik dan psikologis bagi pasar dan investor. Namun, publik juga menunggu pembuktian dari sisi realisasi anggaran dan kebijakan. Pertanyaannya, akankah pemerintahan Prabowo mampu menembus angka 6 persen di tengah ketidakpastian global dan tekanan fiskal? Jawabannya akan menentukan kredibilitas rencana besar yang telah dipaparkan di depan parlemen.



