Jon Watts dan Simon Kinberg Kembali ke Skywalker: Strategi Aman Disney yang Berisiko
Baca dalam 60 detik
- Jon Watts ditunjuk menyutradarai film Star Wars utama berikutnya, bagian dari trilogi baru yang ditulis Simon Kinberg, memicu kekecewaan penggemar.
- Keputusan ini dinilai sebagai langkah aman Disney yang mengulang formula Skywalker, padahal basis penggemar mendambakan cerita segar di luar saga lama.
- Kinerja box office The Mandalorian & Grogu yang lesu menjadi bayang-bayang, sementara ekspektasi terhadap Episode X justru menurun.

Lucasfilm dikabarkan menunjuk Jon Watts sebagai sutradara film Star Wars utama berikutnya, yang akan menjadi bagian dari trilogi baru dalam saga Skywalker dengan Simon Kinberg sebagai penulis naskah. Kabar yang pertama kali dilaporkan The Hollywood Reporter pada Sabtu lalu itu langsung memicu gelombang kekecewaan di kalangan penggemar, yang menilai Disney kembali mengambil jalur aman alih-alih mengeksplorasi wilayah baru di semesta Star Wars yang luas.
Kekecewaan pertama muncul dari premis film itu sendiri. Alih-alih menghadirkan cerita dari era atau karakter yang sama sekali baru, Episode X disebut akan kembali berpusat pada keluarga Skywalker. Padahal, semesta Star Wars membentang ribuan tahun dan mencakup tak terhitung planet, faksi, serta periode waktu yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Bagi sebagian penggemar, keputusan ini terasa seperti mengulang siklus yang sudah kelelahan, terutama setelah Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) dinilai terlalu memaksakan nostalgia dan menghidupkan kembali ikonografi lama.
Pilihan Watts sebagai sutradara juga menuai kritik. Ia dikenal lewat trilogi Spider-Man yang dibintangi Tom Holland—produksi yang secara komersial sukses, tetapi tidak dianggap sebagai karya seorang auteur. Gaya penyutradaraannya sering disebut fungsional, mampu menyelesaikan proyek besar tepat waktu, namun kurang memiliki distingsi visual. Meski demikian, Watts bukan tanpa modal di jagat Star Wars: ia ikut menciptakan, menulis, dan menyutradarai sejumlah episode Star Wars: Skeleton Crew, serial Disney+ yang mendapat pujian kritis. Ia juga punya rekam jejak menghasilkan hit untuk Marvel, sesuatu yang tampaknya semakin dicari Lucasfilm di tengah banyaknya proyek Star Wars yang mandek di tahap pengembangan.
"Pertanyaan tulus, bagaimana dia masih punya pekerjaan?" tulis seorang pengguna X, merujuk pada daftar film Simon Kinberg yang pernah mendapat penilaian buruk.
Kritik lebih tajam diarahkan kepada Kinberg. Penulis naskah ini tercatat terlibat dalam sejumlah film yang dicemooh kritikus, seperti Fantastic Four (2015), X-Men: The Last Stand, X-Men: Apocalypse, Dark Phoenix, dan Jumper. Namun, ia juga menulis X-Men: Days of Future Past yang diterima baik. Seorang pengguna X, Daniel Ritchtman, menilai Kinberg justru disukai di Hollywood sebagai produser dan penggagas ide yang andal. Artinya, reputasi Kinberg di industri tidak sepenuhnya tercermin dari daftar film yang gagal secara kritis.
Pola ini memperlihatkan Disney cenderung memilih pendekatan paling aman, meski hasilnya belakangan tidak selalu memuaskan. Kesenjangan antara antusiasme penggemar dan arah kreatif studio semakin melebar. Sebelas tahun lalu, The Force Awakens membuktikan bahwa waralaba ini bisa menyedot perhatian global secara masif. Kini, setelah beberapa proyek kurang menggigit, kepercayaan publik terhadap film Star Wars baru menurun. Penggemar tampaknya mendambakan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi Disney justru kembali ke sumur yang sama.
Bagi pasar Indonesia, keputusan ini punya implikasi langsung. Star Wars adalah salah satu waralaba Hollywood dengan basis penggemar besar di Tanah Air, dan perilisan film utama selalu menjadi ajang bagi bioskop jaringan besar untuk mengejar pendapatan akhir tahun. Jika Episode X kembali menyasar nostalgia Skywalker, daya tariknya di kalangan penonton muda Indonesia yang lebih akrab dengan Marvel dan anime bisa jadi terbatas. Sebaliknya, jika Disney berani mengeksplorasi era Old Republic atau karakter non-Skywalker, peluang menarik segmen baru di pasar Asia Tenggara terbuka lebih lebar. Keputusan ini juga memengaruhi ekosistem merchandise, game, dan konten streaming di Indonesia, yang selama ini bergantung pada momentum film layar lebar.
Dengan Watts dan Kinberg di kursi utama, pertanyaannya bukan lagi apakah film ini akan tayang, melainkan apakah formula aman ini masih cukup untuk membangkitkan gairah penggemar yang semakin skeptis. Jika The Mandalorian & Grogu saja kesulitan menarik penonton, akankah Episode X mampu mengembalikan kejayaan box office Star Wars, atau justru menjadi penanda bahwa saga Skywalker sudah kehabisan tenaga?



