USS George Washington Gantikan Lincoln di Timur Tengah: Alarm Kelelahan Armada AS Kian Nyaring
Baca dalam 60 detik
- Kapal induk USS George Washington bergerak dari Pasifik menuju Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah beroperasi tanpa henti selama 240 hari.
- Tekanan politik meningkat di Washington setelah laporan kekurangan pasokan dan masalah kesehatan mental di atas Lincoln, sementara Pentagon membantah kondisi tersebut.
- Pergeseran ini mengosongkan kehadiran kapal induk AS di Pasifik, memberi ruang bagi China untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan yang juga menjadi perhatian Indonesia.

Ketika USS George Washington meninggalkan Vietnam dan melintasi Selat Malaka pekan ini, sinyal yang dikirim Washington bukan sekadar rotasi kapal induk biasa. Ini adalah pengakuan diam-diam bahwa mesin perang Amerika di Timur Tengah mulai kelelahanโdan konsekuensinya akan terasa hingga ke Pasifik, kawasan yang selama ini menjadi penyeimbang utama pengaruh China.
Kapal induk tersebut, bersama satu kapal penjelajah dan satu kapal perusak, dikonfirmasi berada di perairan yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, menempuh rute menuju Teluk. Langkah ini menjawab laporan bahwa USS Abraham Lincoln, yang telah bertugas sejak November tahun lalu dan mencatat rekor 240 hari berturut-turut di laut, akan segera dipulangkan. Namun, di balik rotasi ini, tersimpan kisah tentang kelangkaan makanan, keterlambatan surat, dan meningkatnya tekanan psikologis di atas kapal yang beroperasi di zona perang.
Angkatan Laut AS sendiri mengakui bahwa lingkungan operasi di Timur Tengah "sangat kontestatif," dengan pusat pasokan tradisional terganggu oleh aksi tempur. Akibatnya, prioritas pengiriman logistik berubah: makanan dulu, kemudian perlengkapan kebersihan, baru surat-menyurat. Meski pejabat angkatan laut menjamin awak kapal kini memiliki akses air bersih dan makanan sehat, pernyataan itu tidak meredam kekhawatiran para senator Demokrat. Richard Blumenthal dari Connecticut, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat, menulis surat kepada pimpinan Angkatan Laut yang menekankan bahwa penempatan yang diperpanjang ini terjadi di tengah operasi militer berkelanjutan melawan Iran dan kemungkinan kebutuhan pasukan angkatan laut yang signifikan dalam jangka panjang.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah laporan kondisi buruk di atas Lincoln, menyebutnya "sepenuhnya salah gambaran." Dalam kunjungannya ke Panama, ia menegaskan bahwa setiap kapal dan awak mendapat dukungan penuh, dan menyatakan rasa hormatnya kepada para pelaut yang bertugas dalam kondisi keras dengan pelabuhan persinggahan yang jarang. Namun, pernyataan tersebut berbenturan dengan fakta di lapangan: seorang pelaut dilaporkan jatuh ke laut pada awal Agustus dan harus dievakuasi untuk perawatan lanjutan, meskipun pejabat menolak mengaitkannya dengan percobaan bunuh diri. Angkatan Laut juga menolak memberikan data mengenai tren ide bunuh diri di kapal, dengan alasan keamanan operasional dan privasi pasien.
Ketegangan memuncak dalam pertemuan balai kota yang diadakan pekan lalu untuk keluarga awak Lincoln, di mana komandan angkatan udara dan permukaan berjanji melakukan segala cara untuk meringankan beban kapal. Sementara itu, Senator Ruben Gallego dari Arizona, veteran Korps Marinir, menyebut perlakuan terhadap pelaut "tidak hanya menjijikkan, tetapi berbahaya" dan berencana membawa delegasi bipartisan untuk inspeksi resmi ke kapal.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita militer asing. Selat Malaka adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dan setiap pergeseran kekuatan militer AS di kawasan ini berdampak langsung pada stabilitas keamanan maritim. Ketika kapal induk AS meninggalkan Pasifik, ruang yang ditinggalkan dapat dimanfaatkan China untuk memperluas patroli di Laut China Selatan, yang berbatasan langsung dengan zona ekonomi eksklusif Indonesia di Natuna. Pemerintah Indonesia perlu mencermati apakah rotasi ini akan mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik, terutama dalam konteks meningkatnya aktivitas militer China di wilayah tersebut.
Pergeseran ini juga menyoroti dilema strategis Washington: mempertahankan tekanan terhadap Iran di Timur Tengah atau memastikan kehadiran yang cukup di Pasifik untuk menahan ekspansi Beijing. Hegseth menyatakan AS dapat mempertahankan blokade di Selat Hormuz "tanpa batas waktu," tetapi tanpa kejelasan strategi keluar dari perang, biaya manusia dan material akan terus menumpuk. Pertanyaan yang menggantung: berapa lama lagi kapal induk AS dapat bertahan dalam ritme operasi yang begitu intensif, dan akankah kegagalan logistik seperti yang terjadi di Lincoln menjadi preseden yang memaksa perubahan doktrin penempatan?



