Sharon Stone di Variety Power of Women: Dari Simbol Seks ke Advokasi Hak Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Sharon Stone menerima penghargaan atas advokasi hak perempuan dan filantropi di Variety Power of Women.
- Ia menegaskan bahwa kekuatan perempuan terletak pada peran sehari-hari yang sering diabaikan.
- Kiprahnya di Euphoria dan perjalanan karier dari Basic Instinct menjadi sorotan dalam acara tersebut.

Aktris senior Hollywood Sharon Stone kembali mencuri perhatian publik setelah menerima penghargaan bergengsi Variety Power of Women di Beverly Hills Hotel, Los Angeles, pekan ini. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan kegiatan filantropi, khususnya dukungannya terhadap American Civil Liberties Union (ACLU).
Dalam acara yang dipandu komedian Iliza Shlesinger itu, Stone tidak hanya berbicara tentang pencapaian kariernya, tetapi juga menyoroti peran fundamental perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kekuatan perempuan sering kali luput dari perhatian karena tertanam dalam rutinitas yang dianggap biasa, seperti mengasuh anak, mengelola rumah tangga, hingga mengambil keputusan konsumsi.
“Perempuanlah yang membuat hampir semua pilihan dasar dalam hidup ini. Itu adalah kekuatan dan pengaruh yang luar biasa,” ujar Stone di atas panggung, seperti dikutip dari Page Six. Ia mendorong perempuan untuk memanfaatkan kekuatan tersebut secara penuh kasih dan bertanggung jawab, serta saling mendukung satu sama lain.
Perjalanan Stone dari seorang bintang film yang lekat dengan citra “simbol seks” menuju juru bicara isu perempuan menjadi salah satu narasi menarik dalam acara tersebut. Ia mengaku sebagai “produk dari mimpi Amerika”, merujuk pada latar belakang keluarganya yang sederhana—ayahnya bekerja di pabrik di Pennsylvania. Stone menegaskan bahwa ia berhasil bertahan di industri hiburan yang keras dengan tetap membumi, meski harus berjalan di atas lantai beton dengan sepatu hak tinggi empat inci.
“Saya telah menempuh jarak dari seorang simbol seks... dan saya melakukannya dengan menjaga kedua kaki yang lelah ini tetap tertanam kuat di bumi,” ujarnya, menambahkan bahwa ia tidak pernah merasa berdiri sendiri karena berada di antara perempuan-perempuan kuat lainnya.
Kembalinya Stone ke layar kaca melalui musim ketiga dan terakhir serial HBO Euphoria juga menjadi sorotan. Ia berperan sebagai produser Hollywood Patricia Lance dalam lima episode, bergabung dengan bintang-bintang muda seperti Zendaya dan Sydney Sweeney. Langkah ini menandai adaptasi Stone di era industri hiburan yang kian didominasi platform streaming, sekaligus memperlihatkan bahwa aktris senior tetap relevan di pasar global.
Bagi Indonesia, kisah Stone menyoroti bagaimana isu kesetaraan gender dan representasi perempuan di media masih menjadi pekerjaan rumah. Di dalam negeri, industri film dan hiburan tanah air juga menghadapi tantangan serupa: bagaimana perempuan yang telah lama berkarya dapat terus diberi ruang, bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai agen perubahan. Advokasi Stone melalui ACLU mengingatkan bahwa kekuatan selebritas dapat diarahkan untuk mendorong kebijakan yang lebih inklusif, termasuk di Indonesia yang masih memperjuangkan RUU Keadilan Gender.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana bintang Hollywood seperti Stone mampu menginspirasi generasi muda untuk tidak terjebak pada label sempit, melainkan menggunakan platform mereka untuk perubahan sosial yang lebih luas. Dengan semakin banyaknya perempuan di kursi kepemimpinan industri kreatif, akankah citra “simbol seks” perlahan tergantikan oleh narasi kekuatan yang lebih substantif?



