Asean di Ambang 60 Tahun: Konektivitas Jadi Kunci, Suara Anak Muda Menggema di Bangkok
Baca dalam 60 detik
- Perayaan ulang tahun Asean ke-59 di Bangkok menegaskan komitmen integrasi ekonomi digital dan perluasan kemitraan strategis, dengan target menjadi ekonomi terbesar keempat dunia pada 2030.
- Seorang remaja Myanmar, Thet Tant Eain, mencuri perhatian melalui pidato yang menekankan kesenjangan akses kesempatan, menyoroti pentingnya investasi pendidikan bagi masa depan kawasan.
- Menjelang ulang tahun ke-60, Asean menghadapi ujian relevansi, terutama dalam penanganan krisis Myanmar dan transisi kepemimpinan ke Singapura, sementara Indonesia perlu mencermati dinamika ini.

Bangkok, 7 Agustus 2026 โ Di tengah perayaan ulang tahun Asean yang ke-59, para pemimpin regional dan generasi muda berkumpul untuk menegaskan bahwa konektivitas adalah aset terbesar kawasan. Forum CAsean 2026 yang mengusung tema "Resilient Asean Connectivity as an Advantage" menjadi panggung bagi diskusi tentang masa depan, diwarnai pidato seorang remaja Myanmar yang menggetarkan ruangan.
Dr. Parnpree Bahiddha-nukara, ketua dewan penasihat Wakil Perdana Menteri Thailand, dalam pidato kuncinya menggarisbawahi bahwa Asean harus memperkuat regionalisme, ketahanan, dan relevansi. Dengan populasi lebih dari 680 juta jiwa dan PDB gabungan sekitar US$4,5 triliun yang tumbuh 4,5 persen per tahun, ia menyerukan integrasi yang lebih dalam dan strategi konektivitas hingga 2035. Salah satu sorotan utamanya adalah Asean Digital Economy Framework Agreement yang ditargetkan ditandatangani akhir tahun ini, yang disebut sebagai pakta ekonomi digital regional pertama di dunia dan berpotensi menggandakan ukuran ekonomi digital kawasan.
Namun, di balik optimisme ekonomi, Asean masih diuji oleh krisis Myanmar. Dr. Parnpree menyebut kunjungan presiden Myanmar ke Thailand dan pertemuan Aung San Suu Kyi dengan perwakilan Komite Internasional Palang Merah sebagai bukti bahwa Asean tetap menjadi saluran dialog yang penting. Ini menjadi pengingat bahwa stabilitas politik masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi blok yang berdiri sejak 1967 ini.
Malam perayaan resmi menjadi milik Thet Tant Eain, pemenang Kontes Pidato Pemuda Asean 2026. Dengan lantang, ia melontarkan pertanyaan kritis: "Siapa yang membentuk masa depan Asean?" Bagi remaja 18 tahun yang pernah menjadi sukarelawan mengajar anak-anak di Myanmar ini, jawabannya tegas: masa depan adalah milik semua suara. Ia mengingatkan bahwa bakat ada di mana-mana, tetapi kesempatan tidak. "Ketika kesempatan tidak menjangkau anak-anak, kita kehilangan ide, inovasi, dan pemimpin masa depan," ujarnya, yang disambut tepuk tangan meriah. Pidatonya menekankan dua prioritas: investasi berkelanjutan di bidang pendidikan dan penciptaan kesempatan yang setara.
Dari sisi diplomasi, Duta Besar Filipina, Millicent Cruz-Paredes, yang negaranya menjadi ketua Asean tahun ini, menegaskan bahwa Asean telah mengubah Asia Tenggara dari kawasan yang terpecah menjadi komunitas yang solid. Ia menyebut integrasi Timor-Leste sebagai anggota ke-11 terus berjalan, dan menargetkan Asean menjadi ekonomi terbesar keempat dunia pada 2030. Tahun ini juga ditandai dengan bergabungnya Turki sebagai mitra dialog, serta Denmark, Jerman, dan Qatar sebagai mitra sektoral.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan. Sebagai salah satu pendiri Asean, Indonesia perlu mencermati bagaimana pakta ekonomi digital akan berdampak pada UMKM dan arus investasi. Selain itu, kepemimpinan Asean yang akan beralih ke Singapura tahun depan dan Thailand pada 2028 membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran dalam mendorong konektivitas dan stabilitas kawasan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah Indonesia akan mengambil peran lebih besar dalam menjembatani kesenjangan digital dan politik di Asean?
Thapana Sirivadhanabhakdi, ketua CAsean, menutup forum dengan harapan bahwa diskusi ini akan melampaui sekadar dialog. "Semoga forum ini memperdalam saling pengertian dan menerjemahkan ide menjadi aksi kolektif yang bermakna," katanya. Dengan sejarah panjang sejak 1967, Asean kini berdiri di ambang ulang tahun ke-60. Perayaan di Bangkok bukan hanya refleksi masa lalu, tetapi juga panggung bagi pertanyaan besar: apakah Asean mampu mewujudkan janji konektivitas dan inklusivitas bagi semua warganya, terutama generasi muda yang menjadi penentu masa depan?



