Taka ONE OK ROCK Dihujat Usai Bela Ed Sheeran dalam Kontroversi Macklemore
Baca dalam 60 detik
- Vokalis ONE OK ROCK, Taka, menjadi sasaran kemarahan penggemar setelah memberikan dukungan publik kepada Ed Sheeran terkait keluarnya Macklemore dari tur Loop.
- Kontroversi ini menyoroti perpecahan di industri musik global antara solidaritas kemanusiaan dan kebebasan artistik, yang berdampak pada citra dan karier para musisi.
- Bagi penggemar di Indonesia, insiden ini menjadi cermin bagaimana isu geopolitik dapat merembes ke ranah hiburan dan memengaruhi hubungan antara artis dan basis penggemarnya.

Vokalis band rock asal Jepang, ONE OK ROCK, Taka, menghadapi gelombang kritik tajam dari penggemarnya sendiri setelah ia secara terbuka memuji Ed Sheeran terkait keputusan kontroversial mencopot Macklemore dari daftar penampil tur Loop. Dukungan tersebut diunggah Taka melalui kolom komentar di unggahan Instagram Sheeran pada 19 September, memicu reaksi keras dari basis penggemar yang menilai sikapnya tidak sensitif terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.
Macklemore, yang dikenal vokal menyuarakan dukungan untuk Palestina, sebelumnya diumumkan sebagai salah satu artis pembuka dalam tur Loop milik Ed Sheeran. Namun, ia kemudian dicoret dari daftar tersebut—sebuah langkah yang oleh banyak pihak ditafsirkan sebagai buntut dari tekanan politik dan kontroversi yang menyertai aktivisme Macklemore. Keputusan itu memicu solidaritas berantai: sejumlah artis pembuka lain, termasuk band pengiring Sheeran, dikabarkan mengundurkan diri sebagai bentuk protes.
Dalam komentarnya, Taka menyebut langkah Sheeran sebagai tindakan yang membutuhkan "keberanian" dan menyamakan penyanyi asal Inggris itu sebagai "cermin" bagi dirinya. "Hormat yang sebesar-besarnya," tulisnya. Namun, alih-alih mendapat dukungan, pernyataan tersebut justru memantik kemarahan. Banyak penggemar ONE OK ROCK membanjiri kolom komentar Taka dengan seruan "Bebaskan Palestina" dan menuduhnya "berpihak pada pihak yang salah."
Menghadapi eskalasi kritik, Taka akhirnya merilis permintaan maaf. Ia menegaskan bahwa komentarnya lahir dari loyalitas pertemanan, bukan afiliasi politik. "Jika saya menyebabkan kesalahpahaman, saya minta maaf. Saya tidak bisa tinggal diam melihat seorang teman dalam situasi seperti itu," ujarnya. Taka juga menegaskan penolakannya terhadap perang dan kekerasan sipil, serta menghormati hak Macklemore untuk menyuarakan pandangan politiknya. Meski demikian, ia tetap membela keputusan Sheeran sebagai tanggung jawab pribadi seorang seniman.
Kontroversi ini bukan sekadar perselisihan antarpenggemar di media sosial. Ia memperlihatkan bagaimana isu geopolitik—khususnya konflik Palestina—kini menjadi garis pemisah yang semakin tegas di industri hiburan global. Artis dituntut untuk mengambil sikap, namun di saat yang sama, pilihan sikap itu dapat mengasingkan sebagian basis penggemar. Ed Sheeran sendiri mengaku merasakan dampak personal dari keputusannya, termasuk dijauhi oleh keluarganya.
"Saya tidak bisa tinggal diam melihat seorang teman dalam situasi seperti itu," tulis Taka dalam pernyataan permintaan maafnya.
Bagi publik Indonesia, dinamika ini menawarkan pelajaran penting. Penggemar musik Tanah Air semakin terhubung dengan komunitas global melalui platform digital, dan mereka tidak lagi hanya menikmati karya, tetapi juga mengawasi nilai-nilai yang dipegang idola mereka. Ketika seorang artis seperti Taka—yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia—terseret dalam kontroversi semacam ini, resonansinya bisa terasa hingga ke sini, memengaruhi persepsi penggemar, penjualan tiket konser, hingga kerja sama merek.
Lebih jauh, insiden ini menggarisbawahi tekanan yang dihadapi para musisi untuk menavigasi antara ekspresi pribadi dan ekspektasi publik. Di satu sisi, solidaritas kemanusiaan menjadi tuntutan moral yang semakin lantang. Di sisi lain, hubungan personal dan profesional antarseniman tetap menjadi pertimbangan yang tidak bisa diabaikan. Taka, dalam hal ini, terjepit di antara keduanya.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa besar dampak jangka panjang dari kontroversi ini terhadap karier Taka dan ONE OK ROCK, terutama di pasar Asia Tenggara yang menjadi salah satu basis penggemar terbesar mereka. Apakah permintaan maafnya cukup untuk meredakan kemarahan, atau justru menjadi preseden bahwa batas antara politik dan hiburan semakin kabur? Yang jelas, industri musik global kini berada di titik di mana setiap kata dapat menjadi bumerang.



