Suku Bunga KPR AS Tembus 7%, Peminjam Beralih ke Kredit Berisiko
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata bunga KPR tetap 30 tahun di AS melonjak ke 7,12%, level tertinggi sejak 2024.
- Porsi pengajuan kredit dengan bunga variabel (ARM) naik ke 9,8%, mendekati dua kali lipat dari awal pandemi.
- Permintaan refinancing anjlok 62% year-on-year, menandakan tekanan likuiditas bagi pemilik rumah.

Bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di Amerika Serikat kembali menanjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, memaksa sejumlah peminjam memilih produk kredit yang lebih berisiko. Data Asosiasi Bankir Hipotek (MBA) menunjukkan rata-rata bunga KPR tetap 30 tahun dengan plafon konvensional naik menjadi 7,12% pekan lalu, dari sebelumnya 6,97%. Kenaikan ini memicu penurunan permintaan pinjaman secara keseluruhan sebesar 1,5% dibandingkan pekan sebelumnya.
Yang menjadi sorotan adalah lonjakan porsi kredit dengan suku bunga variabel (adjustable-rate mortgage/ARM) menjadi 9,8% dari total pengajuan. Angka ini melonjak dari 8,4% pada pekan sebelumnya dan jauh di atas level pandemi yang hanya sekitar 3%. "Dengan bunga tetap yang jauh lebih tinggi, lebih banyak peminjam memilih ARM karena bunga 5/1 ARM lebih dari satu poin persentase lebih rendah," ujar Mike Fratantoni, ekonom senior MBA. ARM menawarkan bunga tetap untuk beberapa tahun awal, namun setelah itu menyesuaikan dengan pasar dan bisa naik tajam.
Permintaan refinancing anjlok 3% dalam sepekan dan 62% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terendah sejak Februari 2025. Sementara pengajuan KPR untuk pembelian rumah turun 1% secara mingguan dan 11% year-on-year. Musim gugur yang biasanya menjadi periode tersibuk kedua setelah musim semi kini lesu. Agen properti melaporkan penurunan tajam akibat bunga tinggi, dan pembeli mulai mencari celah penghematan, termasuk produk kredit berisiko.
Bagi pasar Indonesia, dinamika ini menjadi cermin penting. Meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia dan bunga KPR domestik tidak secara langsung mengikuti pergerakan AS, tren global kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap rupiah berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya membebani bunga KPR dan kredit properti di dalam negeri.
Selain itu, porsi ARM yang meningkat di AS menunjukkan bahwa konsumen mulai mengambil risiko lebih besar untuk tetap bisa memiliki rumah. Jika tren ini berlanjut, risiko kredit macet di sektor properti AS bisa meningkat, terutama jika bunga ARM menyesuaikan naik dalam beberapa tahun ke depan. Dampaknya bisa terasa ke pasar keuangan global, termasuk obligasi dan saham properti di Asia.
"Peminjam harus waspada terhadap risiko reset bunga ARM. Meski cicilan awal lebih ringan, kenaikan bunga di masa depan bisa membebani anggaran rumah tangga," ujar Fratantoni.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah lonjakan bunga KPR ini bersifat sementara atau berlanjut. Jika inflasi AS tetap tinggi dan The Fed mempertahankan suku bunga, tekanan pada pasar properti global bisa berlanjut. Bagi investor Indonesia, penting untuk memantau dampak tidak langsung terhadap sektor properti dan perbankan domestik, terutama jika arus modal asing berbalik arah.



