Identifikasi DNA Ungkap ABK KM Arupadhatu, Jasad Sempat Dimakamkan Warga Enggano
Baca dalam 60 detik
- Surakman, ABK KM Arupadhatu 1, teridentifikasi melalui uji DNA setelah jasadnya ditemukan di perairan Enggano, Bengkulu.
- Jasad sempat dikuburkan warga setempat karena tidak ada yang mengklaim, sebelum polisi melakukan ekshumasi dan autopsi.
- Polisi akan memulangkan jenazah ke Jakarta pada Kamis (24/9), sementara operasi SAR terhadap delapan korban telah dihentikan sejak 17 September.

Kepolisian Daerah Banten memastikan salah satu awak KM Arupadhatu 1 yang hilang di Selat Sunda, Surakman, telah diidentifikasi melalui pemeriksaan DNA. Jasad pria yang berperan sebagai anak buah kapal itu ditemukan nelayan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada 12 September—lima hari setelah kapal yang membawa lima jurnalis tersebut hilang kontak.
Sebelum proses identifikasi resmi, jasad Surakman ternyata sempat dimakamkan oleh warga Pulau Enggano. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Banten Kombes Maruli Hutapea, warga tidak mengenali jenazah tersebut dan menguburkannya karena kondisi tubuh yang sudah membusuk. "Warga tidak ada yang merasa kehilangan, jadi jenazah dimakamkan," ujar Maruli dalam keterangan yang dikutip dari detikcom, Rabu (23/9).
Kapolda Banten Irjen Hengki mengungkapkan bahwa penemuan jasad bermula dari laporan Kapolda Bengkulu. Tim SAR yang tengah mencari delapan orang hilang—lima jurnalis dan tiga awak kapal—menerima informasi tentang sosok tanpa identitas di Pulau Enggano. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk autopsi dan pengambilan sampel DNA.
Proses pencocokan identitas dilakukan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri. Mereka membandingkan data primer dari delapan keluarga yang kehilangan kontak dengan kapal tersebut. "Secara genetik, jenazah teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal," tegas Hengki dalam jumpa pers di Polda Banten.
Rencananya, jasad Surakman akan dipulangkan ke Jakarta pada Kamis (24/9). Proses pemulangan akan diberangkatkan dari Bidang Dokkes Polda Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sementara itu, operasi SAR besar-besaran terhadap lima jurnalis dan tiga awak KM Arupadhatu 1 resmi dihentikan pada 17 September setelah 10 hari pencarian tanpa hasil signifikan.
KM Arupadhatu 1 bertolak dari dermaga Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9) untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Kapal itu hilang kontak di perairan Selat Sunda. Hingga kini, nasib lima jurnalis dan dua awak lainnya belum diketahui. Penemuan jasad Surakman menjadi satu-satunya titik terang dalam misteri hilangnya kapal tersebut.
"Kami mendapat informasi dari Kapolda Bengkulu bahwa di Pulau Enggano ditemukan seorang jenazah misterius. Setelah dilakukan pemeriksaan, jenazah teridentifikasi sebagai Surakman," ujar Irjen Hengki.
Insiden ini menyoroti pentingnya protokol keselamatan pelayaran, terutama bagi awak kapal yang membawa rombongan jurnalis ke area berisiko tinggi seperti kawasan gunung berapi aktif. Selat Sunda dikenal memiliki cuaca ekstrem dan arus laut yang kuat, yang dapat berubah cepat tanpa peringatan. Meski operasi SAR telah ditutup, keluarga korban masih menanti kepastian mengenai anggota mereka yang belum ditemukan.
Ke depan, publik akan menantikan apakah pemerintah akan mengevaluasi standar keselamatan kapal wisata dan ekspedisi jurnalistik di zona rawan bencana. Selain itu, transparansi proses identifikasi DNA menjadi krusial untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat. Pertanyaan yang tersisa: akankah pencarian dilanjutkan dengan metode lain, ataukah delapan keluarga harus menerima kenyataan pahit tanpa jasad yang bisa dimakamkan?



