Trump Kembali Hebohkan Wall Street: 1.156 Transaksi Saham Juli, Jual Microsoft-Amazon hingga Rp400 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump melaporkan 1.156 transaksi sekuritas sepanjang Juli dengan nilai total mencapai US$270 juta, termasuk penjualan saham Microsoft dan Amazon masing-masing hingga US$25 juta.
- Aktivitas perdagangan masif ini memicu pertanyaan etika karena terjadi di tengah kebijakan yang berdampak langsung pada perusahaan-perusahaan tersebut, seperti kontrak pertahanan dan regulasi teknologi.
- Transparansi portofolio Trump menjadi sorotan global, termasuk bagi investor Indonesia yang perlu mencermati potensi konflik kepentingan dan dampaknya pada pasar keuangan internasional.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mencuri perhatian pasar modal global setelah mengungkapkan lebih dari 1.100 transaksi sekuritas yang dilakukan atas namanya sepanjang Juli 2026. Dalam laporan pengungkapan keuangan yang dirilis Selasa (22/9), tercatat 1.156 transaksi jual-beli dengan nilai total berkisar antara US$79 juta hingga US$270 juta—angka yang setara dengan Rp1,2 triliun hingga Rp4,1 triliun (asumsi kurs Rp15.300). Transaksi terbesar adalah penjualan saham Microsoft dan Amazon masing-masing senilai US$5 juta sampai US$25 juta pada 20 Juli.
Laporan tersebut menunjukkan pembelian mencapai setidaknya US$43,6 juta, sementara penjualan minimal US$35,6 juta. Ini bukan pertama kalinya Trump melakukan perombakan portofolio besar-besaran. Pada Juni, ia melaporkan 1.051 transaksi dengan nilai total US$78,1 juta–US$263,1 juta. Sepanjang 2025, pengungkapan tahunannya mencatat lebih dari 21.000 transaksi di delapan akun dengan nilai aset setidaknya US$858 juta—lonjakan drastis dibandingkan hanya 86 transaksi saham pada tahun pertama masa jabatannya di 2017.
Yang menarik, beberapa transaksi terjadi bersamaan dengan kebijakan yang berdampak langsung pada perusahaan terkait. Pada 20 Juli, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperketat persyaratan rantai pasok kontraktor pertahanan dan membatasi keringanan impor material kritis dari Tiongkok. Di hari yang sama, ia menjual saham Northrop Grumman senilai US$250.001–500.000. Laporan tidak mengungkap waktu pasti transaksi atau siapa yang mengambil keputusan investasi.
Trump juga tercatat memperdagangkan saham perusahaan yang dipimpin Elon Musk. Ia membeli SpaceX senilai US$15.001–50.000—perusahaan yang merupakan kontraktor utama Pentagon dan penyedia peluncuran NASA, serta memiliki xAI dengan kontrak pertahanan hingga US$200 juta. Saham Tesla juga diperdagangkan berulang kali: setelah membeli US$100.001–250.000 pada 15 Juni dan US$15.001–50.000 keesokan harinya, Trump menjual US$131.004–365.000 dalam empat transaksi sebelum kembali membeli US$100.001–250.000 pada 27 Juli.
"Portofolio saham dan obligasi Presiden Trump dikelola secara independen oleh lembaga keuangan pihak ketiga. Baik Presiden Trump maupun anggota keluarganya tidak memiliki kemampuan untuk mengarahkan, memengaruhi, atau memberikan masukan mengenai bagaimana portofolio diinvestasikan atau kapan investasi dibeli atau dijual," ujar juru bicara Gedung Putih Davis Ingle.
Meski demikian, praktik ini menuai kritik karena presiden-presiden sebelumnya umumnya melepaskan kepemilikan saham individual atau menggunakan blind trust untuk menghindari konflik kepentingan. Nilai transaksi yang sangat besar dan frekuensinya yang tinggi menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan etika di lingkaran kekuasaan.
Konteks Indonesia
Bagi investor Indonesia, laporan ini bukan sekadar berita politik Amerika. Pasar keuangan global sangat terhubung, dan keputusan investasi Trump dapat memengaruhi sentimen terhadap sektor teknologi dan pertahanan yang juga diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Misalnya, saham perusahaan teknologi dan pertahanan dalam negeri sering bergerak seiring dengan berita global. Selain itu, kebijakan Trump yang membatasi impor material kritis dari Tiongkok dapat berdampak pada rantai pasok global, termasuk bagi Indonesia yang merupakan pemasok bahan mentah. Investor perlu mencermati apakah aktivitas perdagangan Trump mencerminkan keyakinan terhadap sektor tertentu yang dapat menjadi sinyal tidak langsung bagi pasar.
Ke depan, akuntabilitas pengelolaan portofolio presiden AS akan terus menjadi sorotan, terutama menjelang pemilu. Pertanyaannya, apakah transparansi yang ada saat ini cukup untuk mencegah potensi konflik kepentingan, ataukah diperlukan regulasi yang lebih ketat? Bagi Indonesia, penting untuk memastikan bahwa kebijakan investasi dalam negeri juga mengedepankan tata kelola yang baik dan menghindari benturan kepentingan, terutama di tengah meningkatnya partisipasi investor asing.



