Zelenskyy Tawarkan Gencatan Energi, Desak Trump Panggil Putin dan Xi
Baca dalam 60 detik
- Zelenskyy menyatakan Ukraina siap menghentikan serangan jika Rusia berhenti menargetkan infrastruktur energi.
- Ia meminta Trump menggelar pertemuan trilateral dengan Putin dan melibatkan Xi Jinping untuk menekan Moskow.
- Ukraina tengah bersiap menghadapi musim dingin dengan permintaan paket rudal Patriot dan lisensi produksi senjata.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengajukan proposal gencatan senjata sektor energi kepada Rusia dan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump memprakarsai pertemuan trilateral bersama Presiden Rusia Vladimir Putin. Pernyataan itu disampaikan Zelenskyy usai pertemuan bilateral dengan Trump di sela Sidang Umum PBB di New York, Selasa (22/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Zelenskyy menegaskan Ukraina siap menyetujui gencatan senjata energi asalkan Moskow menghentikan serangan terhadap infrastruktur kelistrikan, pemanas, dan pasokan air. "Kami siap. Saya tidak yakin Rusia siap hari ini, tetapi kami membicarakan gencatan senjata energi," ujar Zelenskyy melalui media sosial, mengutip keterangannya kepada wartawan.
Zelenskyy juga meminta Trump melibatkan Presiden China Xi Jinping, yang dinilainya memiliki pengaruh terhadap Putin. "Jika kita ingin mengakhiri perang ini, kita semua harus bekerja 24/7," tegasnya. Ia menambahkan siap bertemu langsung dengan Putin dan Trump kapan pun semua pihak siap, seraya menekankan perlunya bergerak "secepat mungkin".
Pertemuan di New York menjadi momen langka bagi Zelenskyy untuk membahas dukungan pertahanan udara dan jaminan keamanan bagi Kyiv. Namun, upaya diplomatik menemui jalan buntu seiring pergeseran fokus Washington ke konflik dengan Iran. Negosiator Jared Kushner dan Steve Witkoff sempat berkunjung ke Ukraina awal bulan ini, tetapi belum membuahkan hasil konkret.
Trump, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, menyatakan komitmennya menyelesaikan perang. "Kami akan menyelesaikannya," ujarnya. Meski demikian, ia juga menyoroti bahwa Rusia kehilangan kendali atas industri minyak diesel akibat perang, yang berdampak pada lonjakan harga solar di AS.
"Saya katakan kepada Presiden Trump secara terbuka, jika ia juga melibatkan Presiden Xi, ia memiliki pengaruh terhadap Putin. Jika kita ingin mengakhiri perang ini, kita semua harus bekerja 24/7 untuk rakyat," kata Zelenskyy.
Bagi Indonesia, perkembangan ini berpotensi memengaruhi stabilitas harga energi global. Ketegangan di Ukraina dan Iran telah mendorong harga bahan bakar fosil, termasuk solar, ke level tertinggi. Sebagai importir minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak pasokan yang dapat memperlebar defisit anggaran dan mengancam daya beli masyarakat. Selain itu, eskalasi konflik dapat mengganggu rantai pasok pangan dan pupuk, mengingat Ukraina dan Rusia adalah produsen utama komoditas tersebut.
Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika geopolitik ini, terutama dampaknya terhadap program subsidi energi dan ketahanan pangan nasional. Diplomasi ekonomi yang aktif, termasuk diversifikasi sumber impor dan penguatan cadangan strategis, menjadi krusial untuk mengantisipasi ketidakpastian global.
Ke depan, apakah gencatan senjata energi akan terwujud atau justru menjadi babak baru eskalasi? Semua bergantung pada kesediaan Moskow dan efektivitas tekanan internasional, termasuk peran China yang selama ini enggan bersikap tegas terhadap Rusia.



