Kebakaran Hutan Indonesia Meluas, 107.000 Hektare Hangus dan Kabut Asap Menyebar ke Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 107.000 hektare lahan di Indonesia terbakar, mendorong pemerintah menerjunkan pesawat untuk modifikasi cuaca guna memadamkan api.
- Kabut asap lintas batas telah menurunkan kualitas udara di Sarawak, Malaysia, dengan indeks polusi mencapai level tidak sehat.
- Fokus pemadaman diarahkan ke enam provinsi dengan lahan gambut luas, sementara El Nino memperparah musim kemarau tahun ini.

Indonesia tengah berjibaku melawan kebakaran hutan dan lahan yang telah melalap lebih dari 107.000 hektare di berbagai wilayah. Pemerintah mengerahkan pesawat untuk penyemaian awan atau hujan buatan, sementara sejumlah sekolah di daerah terdampak terpaksa diliburkan selama tiga hari berturut-turut. Situasi ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan jutaan warga yang terpapar kabut asap pekat.
Kebakaran kali ini dipicu oleh musim kemarau yang lebih panjang dan kering dari biasanya, diperparah oleh fenomena El Nino yang oleh sebagian ilmuwan dijuluki "Godzilla El Nino". Dampaknya terasa hingga ke negara tetangga; kabut asap telah menyelimuti sebagian Malaysia, dengan indeks pencemaran udara di kota kecil Serian, Sarawak, mencapai angka 195 pada Rabu pagiโmasuk kategori tidak sehat. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di negara bagian itu, dan setidaknya sembilan wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara tidak sehat.
Upaya pemadaman difokuskan pada enam provinsi yang memiliki hamparan gambut luas dan rawan terbakar, yaitu Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau. Gambut yang kering menjadi bahan bakar sempurna bagi api yang sulit dipadamkan, terutama ketika sumber air mulai menipis. Seorang warga Kalimantan Tengah, Darwin Romy, yang merupakan warga Dayak asli, mengaku telah mengalami kebakaran selama lebih dari sebulan. "Asapnya sudah sangat pekat. Saat keluar rumah, mata langsung perih. Baunya juga menyengat," ujarnya kepada BBC Indonesia. Ia juga menyebut api sudah mendekati permukiman dan air untuk pemadaman mulai langka.
Di Kalimantan Barat, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyatakan bahwa pembelajaran akan dilakukan secara daring selama kebakaran masih berlangsung. "Kami sudah mulai merasakan dampaknya, terutama pada malam dan pagi hari, karena kabut asap telah menyelimuti kota Pontianak," katanya seperti dikutip AFP pada Senin. Sementara itu, di Jawa Timur, kebakaran di Taman Nasional Gunung Bromo yang berlangsung hampir seminggu telah menghanguskan sekitar 550 hektare kawasan taman sebelum akhirnya berhasil dipadamkan pada Senin. Meski demikian, otoritas setempat memperingatkan munculnya titik api baru di dekat kaldera gunung berapi aktif yang juga menjadi destinasi wisata utama itu. Gunung Bromo sendiri telah ditutup untuk pengunjung sejak 8 Agustus.
Penyebab kebakaran di Bromo masih dalam penyelidikan, namun dugaan sementara adalah kelalaian manusia. "Seseorang menyalakan api, lalu memadamkannya, tetapi api tidak benar-benar mati," kata Gatot Soebroto, kepala badan penanggulangan bencana setempat, kepada wartawan pada Senin. Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya pengawasan ketat terhadap aktivitas yang berpotensi memicu api, terutama di kawasan rawan.
Bagi Indonesia, kebakaran hutan tahunan ini bukan sekadar bencana ekologis, tetapi juga krisis kesehatan masyarakat dan diplomasi regional. Kabut asap yang menyeberang ke Malaysia dan Singapura kerap memicu ketegangan antarnegara. Tahun ini, dengan El Nino yang lebih kuat, risiko kebakaran semakin tinggi. Pemerintah perlu memperkuat sistem deteksi dini dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan, serta mengedepankan restorasi gambut untuk mencegah terulangnya bencana serupa. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah darurat seperti hujan buatan cukup efektif mengatasi akar masalah, atau justru hanya menjadi solusi sementara yang mengabaikan faktor kelalaian dan perubahan iklim?



