Bitcoin Tertahan di Level US$86.000, Rally Mulai Menyempit
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin bertahan di kisaran US$86.000 setelah lonjakan awal pekan, tetapi volume perdagangan turun 36% menjadi US$38 miliar.
- Penguatan pasar kripto tidak merata: hanya sebagian aset yang naik, sementara XRP dan Bitcoin Cash menguat, Ethereum justru melemah.
- Penurunan harga minyak Brent di bawah US$100 mengurangi tekanan inflasi global, namun pasar kripto tetap menjadi tujuan investasi alternatif.

Bitcoin (BTC) masih bergerak di sekitar level US$86.000 pada perdagangan Rabu, setelah lonjakan signifikan pada awal pekan. Harga aset kripto utama ini tercatat US$86.379 pada sesi Eropa, hanya naik 0,24% sejak tengah malam UTC, meskipun dalam 24 jam terakhir masih menorehkan kenaikan 1,3%. Namun, volume perdagangan harian merosot tajam 36% menjadi US$38 miliar, menandakan minat pasar yang mulai mengendur.
Di balik angka indeks yang masih positif, rally kripto sebenarnya menyempit. Dari 100 konstituen CoinDesk 100, sebanyak 38 aset tercatat melemah pada hari yang sama, meski indeks secara keseluruhan naik 0,67% ke 1.926,99. Dalam periode 24 jam bergulir, gambaran masih cukup luas dengan 87 aset menguat dan 13 melemah, yang menunjukkan bahwa pelemahan baru terjadi dalam beberapa jam terakhir, bukan sejak Selasa.
Pasar juga terbelah: XRP melonjak 3,3% ke US$1,62 dan Bitcoin Cash naik 2,0% ke US$351,59, sementara Ethereum justru turun tipis 0,089% ke US$2.750,24 dan Chainlink melemah 0,0053%. Pola ini mengindikasikan bahwa likuiditas tidak lagi merata ke seluruh aset kripto, melainkan terkonsentrasi pada segmen tertentu.
Penurunan harga minyak mentah Brent ke bawah US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 9 September turut mempengaruhi sentimen pasar. Brent diperdagangkan di US$99,13 setelah sempat menyentuh US$108 pada pertengahan September. Penurunan ini meredakan kekhawatiran inflasi yang sempat dipicu oleh kenaikan suku bunga Federal Reserve pada 16 September. Penyebabnya adalah harapan akan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, dengan mediator asal Qatar yang saat ini berada di New York untuk berdiskusi dengan pejabat AS, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan berpidato di Sidang Umum PBB hari ini.
Aset safe haven tradisional justru dijual. Harga emas turun 0,85% menjadi US$4.321 dan perak melemah 2,2% ke US$65,53. Indeks dolar AS menguat 0,21% ke 100,76, sementara futures ekuitas AS hampir tidak berubah. Kondisi ini menjadikan kripto sebagai salah satu dari sedikit aset yang masih diminati di tengah ketidakpastian global.
"Pasar kripto saat ini menjadi tempat berlindung sementara bagi investor yang mencari imbal hasil di luar aset tradisional," ujar seorang analis pasar kripto, seperti dikutip dari CoinDesk.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Penurunan volume perdagangan global dapat berdampak pada likuiditas pasar kripto domestik, yang selama ini cukup terintegrasi dengan bursa internasional. Selain itu, pelemahan harga minyak dunia berpotensi mempengaruhi kebijakan energi dalam negeri, meskipun di sisi lain dapat meredakan tekanan inflasi. Apresiasi dolar AS juga menjadi sinyal waspada bagi nilai tukar rupiah, yang secara historis berkorelasi dengan pergerakan aset kripto di dalam negeri.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan pidato Presiden Pezeshkian di PBB, yang bisa mengubah arah sentimen risiko. Jika ketegangan geopolitik mereda, aliran dana ke aset berisiko seperti kripto mungkin kembali menguat. Namun, jika volume perdagangan terus menipis, reli Bitcoin berpotensi kehilangan tenaga. Pertanyaannya, apakah kripto masih mampu menjadi alternatif investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya usai?



