Banjir Assam Tewaskan 97 Orang, Ribuan Warga Mengungsi: Bencana Terparah dalam Beberapa Tahun
Baca dalam 60 detik
- Banjir di Assam, India timur laut, telah menewaskan sedikitnya 97 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat penampungan sementara.
- Luapan sungai Brahmaputra dan anak-anak sungainya merendam lebih dari 14.000 hektare lahan pertanian, memperparah krisis pangan di wilayah tersebut.
- Para ahli mengaitkan meningkatnya frekuensi dan keparahan banjir dengan perubahan iklim serta pembangunan yang tidak terencana, sementara penambangan batu bara ilegal di negara bagian tetangga turut disorot.

Banjir dahsyat yang melanda negara bagian Assam, India timur laut, telah menewaskan sedikitnya 97 orang dan memaksa hampir 170.000 warga mengungsi ke tempat penampungan sementara. Bencana ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir, dengan desa-desa terkubur lumpur dan lahan pertanian terendam.
Menurut laporan resmi yang dirilis akhir pekan ini, banjir yang dipicu meluapnya Sungai Brahmaputra dan anak-anak sungainya telah merendam lebih dari 14.000 hektare lahan pertanian. Di distrik Sivasagar, yang menjadi wilayah terparah, jurnalis AFP melaporkan rumah-rumah setengah terendam, pohon-pohon tumbang, dan kendaraan terkubur lumpur. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi penampungan darurat yang disediakan pemerintah.
Menteri Kesehatan India, JP Nadda, yang mengunjungi wilayah terdampak pada Kamis lalu, mengakui skala kerusakan yang sangat besar. "Normalisasi akan memakan waktu lama," ujarnya, menggambarkan betapa parahnya dampak bencana ini. Sementara itu, Menteri Kepala Assam, Himanta Biswa Sarma, membagikan video dirinya menghibur orang tua seorang bocah 13 tahun yang tewas saat mencoba menyelamatkan anjing peliharaannya dari terjangan air. "Tidak ada orang tua yang seharusnya mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya," tulisnya di media sosial.
Banjir memang menjadi langganan di Assam setiap musim hujan Juni-September, ketika Brahmaputraโsungai terbesar di Indiaโdan anak-anak sungainya meluap. Namun, para ahli menilai perubahan iklim dan pembangunan yang tidak terencana telah meningkatkan frekuensi, intensitas, dan dampak bencana ini. Pola curah hujan yang semakin ekstrem membuat daerah-daerah yang sebelumnya jarang banjir kini ikut terendam.
Warga dan pejabat setempat juga menyalahkan aktivitas penambangan batu bara ilegal di negara bagian tetangga, Nagaland, yang memperparah banjir. Mereka menilai penambangan tersebut telah mengubah aliran sungai dan menyebabkan sedimentasi, sehingga daerah yang secara historis tidak rawan banjir kini ikut terdampak. Menteri Kepala Assam berencana mengangkat masalah ini ke pemerintah pusat di New Delhi.
Bencana ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga kerap dilanda banjir dan tanah longsor akibat curah hujan ekstrem. Pengalaman Assam menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dengan respons darurat, tetapi juga membutuhkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan penegakan hukum terhadap aktivitas yang merusak ekosistem. Koordinasi antarwilayah dan kesiapsiagaan jangka panjang menjadi kunci untuk mengurangi risiko di masa depan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana pemerintah India dan negara bagian dapat menyeimbangkan kebutuhan pembangunan ekonomi dengan perlindungan lingkungan. Apakah langkah-langkah seperti moratorium penambangan dan perbaikan tata kelola air akan segera diambil? Atau akankah bencana serupa kembali terulang dengan skala yang lebih besar? Jawabannya menentukan nasib jutaan warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai.



