Menteri Pendidikan Malaysia: Budaya Baca Perempuan Kunci Pembangunan Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pendidikan Malaysia menegaskan bahwa budaya membaca di kalangan perempuan merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa, bukan sekadar aktivitas literasi.
- Inisiatif Kelab Perempuan Membaca diluncurkan sebagai wadah untuk memperkuat peran perempuan dalam mencerdaskan keluarga dan masyarakat, sejalan dengan Gerakan Membaca Negara.
- Langkah ini menjadi contoh bagi Indonesia untuk mengintegrasikan budaya baca dalam kebijakan pendidikan, terutama dalam memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan.

KUALA LUMPUR โ Menteri Pendidikan Malaysia, Fadhlina Sidek, menegaskan bahwa budaya membaca yang kuat di kalangan perempuan memiliki peran vital dalam pembangunan bangsa. Pernyataan ini disampaikan saat meluncurkan sesi perdana Kelab Perempuan Membaca bertema "Perempuan dan Bangsa" di Kuala Lumpur, kemarin. Menurutnya, membaca bukan sekadar aktivitas literasi, melainkan bagian dari agenda strategis untuk membangun masyarakat yang cerdas dan berpengetahuan.
Fadhlina menjelaskan bahwa perempuan memegang peran kunci dalam membentuk keluarga, komunitas, hingga negara. "Ketika kita berbicara tentang perempuan membaca, ini bukan sekadar tindakan membaca. Lebih penting lagi, membaca adalah bagian dari agenda pembangunan bangsa," ujarnya. Ia menekankan bahwa kebiasaan membaca harus dimulai sejak usia dini dan dijaga oleh generasi tua agar menjadi ekosistem lintas generasi.
Menteri itu juga mendorong agar masyarakat tidak hanya disiplin membaca setiap hari, tetapi juga berani keluar dari zona nyaman dengan mengeksplorasi bacaan yang progresif dan menantang. "Membaca bukan hanya tentang disiplin harian, tetapi harus progresif. Kita harus menantang diri untuk membaca di luar zona nyaman," tambahnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam kebiasaan literasi, tidak hanya sekadar rutinitas.
Dalam kesempatan tersebut, Fadhlina menyoroti minimnya buku yang mendokumentasikan kontribusi perempuan Malaysia. Ia menyebut dua buku inspiratif, yaitu Ibu Melayu Mengelilingi Dunia dari Rumah ke London yang mengisahkan Tan Sri Aishah Ghani, dan The Rapid Fire yang menampilkan Tan Sri Rafidah Aziz. Menurutnya, lebih banyak buku tentang perempuan dan peran mereka sangat dibutuhkan untuk menginspirasi generasi mendatang.
Kelab Perempuan Membaca merupakan bagian dari inisiatif Perbadanan Kota Buku, yang secara resmi diakui sebagai klub membaca terbesar di Malaysia. Klub ini akan mengadakan sesi membaca bulanan hingga Juli tahun depan, sebagai bagian dari Gerakan Membaca Negara yang lebih luas. Gerakan ini dirancang untuk menanamkan budaya membaca dan pengetahuan di seluruh lapisan masyarakat Malaysia.
Langkah Malaysia ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, yang juga tengah berupaya meningkatkan minat baca masyarakat. Data UNESCO menunjukkan tingkat literasi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga. Peran perempuan dalam menumbuhkan budaya baca di keluarga dapat menjadi katalis perubahan, terutama di tengah era digital yang penuh distraksi. Pemerintah Indonesia dapat mengadopsi model klub membaca serupa untuk memberdayakan perempuan sebagai agen literasi di komunitasnya.
Para pengamat pendidikan menilai bahwa keberhasilan program semacam ini tidak hanya diukur dari jumlah anggota, tetapi juga dari dampaknya terhadap kualitas pemikiran masyarakat. Seperti diungkapkan Fadhlina, membaca harus menjadi bagian dari ekosistem yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek sesaat. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengambil langkah serupa untuk memperkuat fondasi literasi nasional melalui pemberdayaan perempuan?



