Lima Pendaki Hilang di Nepal Ditemukan Tewas, Tim Evakuasi Terkendala Cuaca
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat menemukan lima jasad di lokasi longsoran salju Yalung Ri, Nepal, tempat para pendaki hilang sejak November tahun lalu.
- Cuaca buruk menghambat upaya evakuasi, sementara identitas jasad belum dapat dipastikan.
- Insiden ini menyoroti risiko pendakian di Himalaya dan pentingnya kesiapan menghadapi bencana alam.

Tim pencari dan penyelamat akhirnya menemukan lima jasad di kawasan Gunung Yalung Ri, Nepal, delapan bulan setelah longsoran salju menerjang rombongan pendaki asing dan lokal. Temuan ini menjadi titik terang sekaligus duka bagi keluarga korban yang selama ini menanti kepastian nasib orang-orang terkasih.
Lima pendaki yang hilang tersebut terdiri dari tiga warga negara asing—seorang Kanada keturunan Italia, satu warga Italia, dan satu warga Jerman—serta dua pemandu lokal Nepal. Mereka tersapu longsoran salju pada November tahun lalu saat mencoba menaklukkan puncak setinggi 5.630 meter di Distrik Dolakha, tepat di perbatasan dengan wilayah Tibet, China. Dua pendaki lain, masing-masing dari Italia dan Prancis, dilaporkan tewas di kamp dasar sebelum longsor terjadi.
Menurut Thabindra Kumar Kafle, pejabat setempat dari Gaurishankar Rural Municipality, jasad-jasad tersebut pertama kali terlihat oleh pekerja yang ditugaskan perusahaan pendakian untuk mencari korban pada Jumat lalu. Namun, upaya untuk mencapai lokasi penemuan masih terhambat cuaca buruk. "Kami berusaha mencapai lokasi, tetapi terkendala cuaca," ujar Phurba Tenjing Sherpa dari perusahaan Dreamers' Destination, yang memandu para pendaki asing, saat dihubungi dari Bongar Khola, dekat lokasi kejadian.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih menunggu helikopter yang disiagakan untuk mengevakuasi jasad, namun jarak pandang yang minim membuat operasi udara belum bisa dilakukan. Belum dapat dipastikan apakah kelima jasad yang ditemukan adalah mereka yang hilang sejak tahun lalu, mengingat medan yang sulit dan proses identifikasi yang membutuhkan waktu.
Gunung Yalung Ri terletak di Lembah Rolwaling, kawasan yang dikenal dengan medan pendakian ekstrem—kombinasi bebatuan, es, dan salju. Kondisi ini menjadikan setiap ekspedisi memiliki risiko tinggi, terutama saat musim hujan atau perubahan cuaca mendadak. Kejadian ini mengingatkan kembali pada pentingnya manajemen risiko dalam pendakian gunung tinggi, termasuk pemantauan cuaca yang ketat dan kesiapan tim penyelamat.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dalam kegiatan pendakian, terutama di kawasan seperti Gunung Everest dan pegunungan lainnya yang kerap menjadi tujuan pendaki Tanah Air. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) sendiri telah berulang kali melakukan evakuasi korban kecelakaan pendakian di dalam negeri, namun kasus di luar negeri menuntut koordinasi internasional yang lebih kompleks.
Para ahli keselamatan pendakian menilai bahwa insiden seperti ini sering kali dipicu oleh kurangnya informasi cuaca terkini dan underestimasi terhadap kondisi medan. "Pendaki harus selalu mempersiapkan diri dengan baik, termasuk memahami tanda-tanda bahaya alam," ujar seorang analis yang enggan disebut namanya. Ia juga menyoroti perlunya peningkatan standar keselamatan bagi perusahaan jasa pendakian.
Operasi evakuasi di Yalung Ri masih berlangsung, dan tim penyelamat berupaya semaksimal mungkin untuk segera memulangkan jasad korban ke keluarga masing-masing. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah insiden ini akan mendorong otoritas Nepal untuk memperketat regulasi pendakian di kawasan terpencil? Atau justru sebaliknya, semakin banyak pendaki yang nekat menantang alam tanpa mempertimbangkan risiko?



