Pijat Drainase Limfatik: Klaim Kencangkan Kulit Wajah, Benarkah atau Sekadar Tren?
Baca dalam 60 detik
- Teknik pijat wajah yang viral di media sosial diklaim mampu mengurangi bengkak dan mengencangkan kulit, namun bukti ilmiahnya masih terbatas.
- Para ahli menilai manfaat utamanya lebih kepada relaksasi dan peningkatan sirkulasi darah, bukan perubahan struktur kulit yang permanen.
- Meski relatif aman, hasilnya bersifat sementara dan tidak menggantikan perawatan medis untuk kondisi pembengkakan kronis.

Gerakan mengusap lembut dari pipi ke rahang lalu turun ke leher—yang dikenal sebagai pijat drainase limfatik—kini menjadi ritual kecantikan favorit di media sosial. Para penggiatnya meyakini teknik ini mampu mengencangkan kulit, mengurangi bengkak, dan membuat wajah tampak lebih cerah. Namun, apakah klaim tersebut sejalan dengan fakta medis?
Metode ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam dunia terapi fisik, drainase limfatik telah lama digunakan untuk membantu pasien dengan limfedema, yaitu pembengkakan kronis yang umum terjadi di lengan atau tungkai. Sentuhan ringan dan berirama dipercaya mampu mengalirkan cairan limfa—cairan bening yang membawa sel imun—sehingga mengurangi penumpukan cairan di jaringan. Dokter kulit Arpana A Shah dari MedStar Health di Maryland menjelaskan bahwa kebiasaan seperti kurang tidur, konsumsi makanan asin, dehidrasi, atau tidur telentang dapat memicu penumpukan limfa di wajah, membuatnya tampak lebih bengkak.
Namun, efektivitas pijat ini untuk kecantikan wajah masih menjadi perdebatan. Sebuah studi pada 2025 yang melibatkan 34 wanita menunjukkan perbaikan terbatas pada elastisitas kulit dan kontur wajah setelah delapan minggu menggunakan roller atau gua sha. Sementara penelitian lain pada 2018 menemukan peningkatan aliran darah di pipi yang hanya bertahan sepuluh menit setelah pemijatan. Para ahli menilai ukuran sampel yang kecil dan durasi penelitian yang singkat belum cukup untuk membuktikan manfaat jangka panjang.
Menurut dokter bedah plastik Roy Kim dari San Francisco, pijat drainase limfatik memang sering direkomendasikan setelah operasi kosmetik untuk mengurangi nyeri dan bengkak. Namun, ia menegaskan hasilnya cenderung marginal dan sementara. "Tidak ada salahnya mencoba, karena metode ini aman dan menenangkan," ujarnya. Alat seperti roller wajah atau gua sha pun relatif murah, berkisar US$10 hingga US$20, sehingga mudah diakses masyarakat.
Di Indonesia, tren ini juga merebak, terutama di kalangan pengguna TikTok dan Instagram. Banyak content creator lokal yang mempromosikan teknik ini sebagai solusi instan untuk wajah bengkak atau tanda penuaan. Namun, dermatologis di dalam negeri, seperti yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), umumnya mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur klaim berlebihan. Perawatan kulit yang efektif tetap membutuhkan konsistensi dan pendekatan holistik, termasuk pola makan sehat, hidrasi cukup, dan perlindungan dari sinar matahari.
Manfaat psikologis dari pijat wajah juga tidak bisa diabaikan. Sentuhan lembut dapat memicu relaksasi dan mengurangi stres, yang secara tidak langsung memperbaiki kondisi kulit. Stres diketahui memperburuk jerawat dan eksim, serta mempercepat penuaan akibat produksi hormon kortisol. Dengan demikian, pijat drainase limfatik dapat menjadi ritual perawatan diri yang menenangkan, meski bukan solusi ajaib untuk kecantikan.
Bagi yang ingin mencoba, para ahli menyarankan untuk memulai dengan wajah bersih dan tangan atau alat yang steril. Gunakan tekanan ringan, pijat searah dari tengah wajah ke arah leher, telinga, atau garis rambut, lalu lanjutkan ke leher dan sekitar tulang selangka. Ulangi selama lima menit. Hindari tekanan berlebihan yang bisa menyebabkan memar atau iritasi. Jika wajah bengkak terus-menerus tanpa sebab jelas, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk menyingkirkan kondisi medis seperti alergi atau gangguan hormonal.
Ke depan, riset yang lebih besar dan panjang diperlukan untuk memastikan efektivitas pijat drainase limfatik dalam perawatan kulit. Sementara itu, publik perlu bijak menyikapi tren kecantikan yang belum tentu didukung bukti ilmiah kuat. Apakah Anda akan mencobanya sebagai ritual relaksasi, atau menunggu bukti lebih lanjut sebelum memercayai klaimnya?



