Tren Peluk Semangka sebagai AC Alami Viral di China, Pakar Ingatkan Risiko Kesehatannya
Baca dalam 60 detik
- Viral di media sosial China, aksi memeluk semangka raksasa saat tidur dianggap sebagai alternatif murah pengganti AC.
- Para ahli memperingatkan bahwa kebiasaan ini dapat memicu gangguan kesehatan akibat dingin, serta risiko semangka meledak karena fermentasi internal.
- Tradisi ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dahulu, namun perlu diadaptasi dengan bijak dan tidak berlebihan.

Media sosial China tengah diramaikan oleh tren tidur sambil memeluk semangka besar sebagai pengganti pendingin ruangan. Metode yang dianggap hemat energi ini memang efektif menurunkan suhu tubuh, namun para pakar mengingatkan adanya risiko kesehatan yang mengintai, mulai dari masuk angin hingga semangka yang bisa meledak di tengah malam.
Semangka yang terdiri dari lebih dari 95 persen air memiliki sifat menyerap panas, membuatnya terasa lebih dingin 3-5 derajat Celsius dibanding suhu ruangan. Saat ditempelkan ke tubuh, buah ini mampu menarik panas permukaan kulit sehingga memberikan sensasi sejuk. Dalam meme yang beredar, semangka raksasa seberat 7,5 kilogram dijuluki sebagai AC portabel tanpa listrik dan senyap.
Meski terkesan modern, trik ini sebenarnya telah digunakan oleh masyarakat Tiongkok kuno untuk bertahan dari panasnya musim panas, sebagaimana tercatat dalam dokumen sejarah. Namun, di era sekarang, tren ini kembali populer berkat media sosial, terutama di kalangan anak muda yang mencari cara murah untuk mengatasi cuaca panas.
Ding Yiyun, dokter dari Departemen Pengobatan Psikosomatik di Rumah Sakit Dongfang, Universitas Kedokteran Tiongkok Beijing, menjelaskan bahwa tidur dengan semangka efektif bagi mereka yang mengalami insomnia akibat panas atau kecemasan. Namun, ia menegaskan bahwa orang dengan kondisi tubuh yang sensitif terhadap dingin sebaiknya tidak mengikuti tren ini karena berisiko menimbulkan masalah kesehatan. Ia menyarankan untuk memeluk semangka hanya 10-20 menit sebelum tidur, bukan sepanjang malam, dan mengganti semangka secara berkala untuk mencegah penumpukan bakteri.
Di luar saran medis, sejumlah pengguna media sosial melaporkan insiden tidak mengenakkan. Beberapa orang terbangun di malam hari dan menemukan semangka mereka pecah, dengan cairan busuk berbau menyengat berceceran di kasur dan lantai. Seorang warganet di Provinsi Hubei mengunggah video yang memperlihatkan 'bencana' tersebut, dan mengaku harus membuang semua barang yang terkena cairan. Komentar lain menyebut 'baunya menyiksa'.
Fenomena ini juga mendapat sorotan dari ahli pertanian. Ao Qingyan, ahli agronomi senior di Akademi Ilmu Pertanian dan Kehutanan Chengdu, menjelaskan bahwa ketika semangka menempel di kulit sepanjang malam, panas tubuh dan panas dari ruang di bawah selimut mengubah semangka menjadi semacam inkubator. Dalam kondisi hangat dan lembap, mikroba berkembang biak dengan cepat, mengurai gula dan zat organik di dalam semangka, menghasilkan karbon dioksida dan gas lain. Kulit semangka yang kedap udara memerangkap gas-gas ini, sehingga tekanan internal meningkat dan akhirnya menyebabkan ledakan.
Bagi masyarakat Indonesia yang tengah dilanda cuaca panas, tren ini mungkin tampak menarik. Namun, perlu diingat bahwa iklim tropis Indonesia lebih lembap dibanding Tiongkok, sehingga risiko fermentasi dan ledakan semangka bisa lebih tinggi. Selain itu, kebiasaan tidur dengan semangka juga berpotensi mengganggu kualitas tidur karena posisi tidur yang tidak nyaman. Para ahli menyarankan untuk lebih bijak dalam menyikapi tren ini, dan tidak menjadikannya sebagai pengganti AC yang sesungguhnya.
Meski demikian, semangka tetap menjadi pilihan buah yang menyegarkan di musim panas. Jika tidak ingin mengikuti tren tidur dengan semangka, Anda bisa mengolahnya menjadi jus atau sup dingin yang juga memberikan efek menyejukkan tanpa risiko 'ledakan'. Yang terpenting, selalu utamakan kesehatan dan kenyamanan Anda dalam menghadapi cuaca panas.
Ke depan, tren seperti ini mungkin akan terus bermunculan seiring dengan meningkatnya kesadaran akan efisiensi energi dan biaya hidup. Namun, apakah masyarakat akan tetap setia pada semangka atau beralih ke inovasi lain yang lebih aman? Hanya waktu yang bisa menjawab.



