Gerakan Perbaiki, Bukan Beli: Melawan Budaya Konsumtif di Tengah Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Repair Cafe, gerakan global yang mengajak masyarakat memperbaiki barang rusak, telah memperbaiki hampir satu juta barang per tahun.
- Inflasi dan krisis biaya hidup mendorong orang beralih dari membeli barang baru ke memperbaiki yang lama, menghemat uang dan mengurangi limbah.
- Fenomena ini berpotensi mengubah perilaku konsumen di Indonesia, sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan dan ekonomi sirkular.

Di tengah derasnya arus konsumerisme global, sebuah gerakan akar rumput justru mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan memperbaiki barang-barang yang rusak, bukan membuangnya. Pada suatu Sabtu pagi di akhir Mei, ruang bawah tanah sebuah gereja di New Paltz, New York, dipenuhi oleh lampu antik, pisau tumpul, mixer rusak, dan ritsleting macet. Sekitar belasan relawan dengan keahlian teknis menyambut pemilik barang-barang tersebut dalam acara Repair Cafe, sebuah fenomena yang mulai merebak di berbagai negara.
Repair Cafe, yang dimulai dari satu acara di Belanda pada 2009, kini telah menjadi jaringan nirlaba global dengan lebih dari 59.000 anggota dan sekitar 4.000 kafe yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Setiap tahunnya, mereka berhasil memperbaiki sekitar 850.000 barang. Pendiri Repair Cafe, Martine Postma, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar tempat memperbaiki barang, melainkan sebuah sinyal kuat bahwa perubahan ekonomi diperlukan. "Kita perlu mengubah pola pikir dan ekonomi kita," ujarnya, seraya menambahkan bahwa meskipun Repair Cafe tidak bisa menyelesaikan masalah sendirian, kehadirannya menjadi bukti bahwa perubahan pada level yang lebih tinggi sangat dibutuhkan.
Di New Paltz, sebuah kota perguruan tinggi di Lembah Hudson, sekitar 50 orang datang membawa 85 barang, mulai dari kipas angin antik yang perlu rewiring, pakaian, jaket, hingga boneka. Ada juga foto keluarga lama yang perlu direstorasi dan perhiasan yang perlu diganti talinya. Para ahli yang hadir berhasil memperbaiki 71 barang, menemukan empat barang yang memerlukan perbaikan lebih lanjut, dan menilai sepuluh barang lainnya sudah tidak bisa diperbaiki. Menariknya, para relawan ini mengaku mendapatkan kepuasan tersendiri dari kegiatan ini. "Saya bisa datang, bekerja, bertemu orang-orang baik, dan menunjukkan cara merakit sesuatu," kata Patrick L. Murphy, seorang kontraktor.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Gerakan serupa seperti Buy Nothing Project, legislasi "right to repair", dan perpustakaan alat (tool libraries) juga tumbuh subur. Buy Nothing Project, yang dimulai di Washington pada 2013, kini memiliki jaringan hingga 12,5 juta orang di Facebook. Pendirinya, Liesl Clark, menyebut gerakan ini telah menjadi jaring pengaman bagi jutaan orang. "Orang-orang mulai menyadari bahwa mereka tidak harus pergi ke Amazon untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan; ada budaya material yang kuat di komunitas mereka. Kami ingin mengubah cara dunia mengonsumsi," katanya. Gerakan ini, menurut Clark, dimulai sebagai eksperimen sosial, ekonomi, dan lingkungan, dan kini berhasil menembus berbagai hambatan.
Peter Counter, seorang insinyur yang sedang meneliti Repair Cafe untuk gelar doktornya di University for the Creative Arts di Inggris, menyoroti hilangnya keterampilan memperbaiki barang di tengah budaya sekali pakai. "Ide bahwa kamu bisa memperbaiki barang sendiri semakin memudar karena keterampilan ini tidak lagi diwariskan. Jika ingin sesuatu diperbaiki, hampir pasti lebih murah membeli yang baru," jelasnya. Namun, perbaikan berbasis komunitas berkembang justru karena dilakukan oleh relawan, sehingga secara finansial layak meskipun harus membeli suku cadang. Gerakan "right to repair" juga mendorong konsumen untuk bisa memperbaiki produk mereka sendiri, dengan sejumlah negara bagian AS yang telah mengesahkan undang-undang yang mewajibkan produsen menyediakan alat dan instruksi.
Di tengah inflasi yang melonjak, terutama akibat perang dengan Iran yang mendongkrak harga bensin, gerakan ini semakin relevan. Masyarakat mencari cara untuk menghemat pengeluaran, dan memperbaiki barang adalah salah satu solusinya. Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat. Maraknya komunitas bengkel mandiri, kelas perbaikan elektronik, dan tren thrifting menunjukkan bahwa kesadaran untuk tidak konsumtif mulai tumbuh. Meskipun belum sebesar di Barat, potensi gerakan ini di Indonesia sangat besar, mengingat budaya gotong royong dan kearifan lokal yang masih kuat. Jika didukung oleh kebijakan yang memihak pada hak konsumen untuk memperbaiki, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu episentrum gerakan anti-konsumerisme di Asia Tenggara.
Kisah Paula Weinstein, 79 tahun, yang membawa jam Hammond buatan 1930-an ke Repair Cafe, menjadi ilustrasi nyata. Jam itu diperbaiki oleh Bob Morton, 82 tahun, mantan insinyur listrik IBM. Setelah berjam-jam bekerja bersama, jarum jam itu akhirnya bergerak. "Ya, berhasil!" teriak Weinstein. "Saya senang bertahan," kata Morton. Momen seperti ini menunjukkan bahwa perbaikan bukan hanya soal menghemat uang, tetapi juga membangun hubungan antarmanusia dan melestarikan keterampilan. Pertanyaannya, apakah gerakan ini akan mampu menggeser dominasi industri barang sekali pakai yang telah mengakar selama setengah abad? Atau akankah ia tetap menjadi alternatif bagi segelintir orang yang sadar akan dampak lingkungan dan sosial dari konsumerisme?



