Terapi Insomnia Bisa Perlambat Penuaan Biologis? Studi UCLA Buka Harapan Baru
Baca dalam 60 detik
- Riset UCLA Health menemukan terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) berkaitan dengan laju penuaan biologis yang lebih lambat pada lansia.
- Partisipan yang menjalani CBT-I memiliki kemungkinan remisi insomnia hampir tiga kali lipat dibandingkan mereka yang hanya mendapat edukasi tidur.
- Meski menjanjikan, temuan ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat dan masih memerlukan uji lanjutan dengan sampel lebih besar dan beragam.

Sebuah studi terbaru dari UCLA Health yang dipublikasikan di The Lancet Healthy Longevity mengungkap bahwa terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) tidak sekadar memperbaiki kualitas tidur, tetapi juga dikaitkan dengan laju penuaan biologis yang lebih lambat pada orang dewasa lanjut usia. Temuan ini membuka diskusi baru tentang peran tidur dalam proses penuaan seluler.
Penelitian tersebut melibatkan hampir 100 partisipan berusia 60 tahun ke atas yang memenuhi kriteria diagnosis gangguan insomnia menurut DSM-IV. Mereka direkrut dari Los Angeles, Amerika Serikat, dan secara acak dibagi ke dalam dua kelompok: satu menerima CBT-I selama delapan minggu, sementara kelompok kontrol hanya mendapat edukasi tidur umum. Hasilnya, kelompok CBT-I hampir tiga kali lebih mungkin mengalami remisi insomnia dibandingkan kelompok kontrol.
Yang menarik, peneliti juga menganalisis sampel darah sebelum perawatan dan selama dua tahun follow-up. Dengan menggunakan tiga penanda penuaan biologis—DunedinPACE, GrimAge, dan PC-PhenoAge—mereka menemukan bahwa CBT-I berkaitan dengan perlambatan laju penuaan biologis yang signifikan, terutama pada ukuran DunedinPACE. Perbedaan laju penuaan antara kedua kelompok rata-rata -0,02, yang berarti setiap tahun, partisipan CBT-I menua 2% lebih lambat.
Penulis utama, Judith Carroll, PhD, Associate Professor Psikiatri di UCLA Health, menegaskan bahwa pesan terpenting dari riset ini adalah pentingnya menangani insomnia, bukan hanya untuk tidur yang lebih baik tetapi juga untuk melindungi kesehatan secara keseluruhan. "Kami memahami tidur sebagai waktu bagi tubuh untuk memulihkan diri dari aktivitas dan stres harian. Saat tidur, sistem saraf parasimpatis aktif, yang menekan respons stres," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa gangguan tidur dapat memicu peningkatan aktivitas seluler seperti inflamasi dan metabolisme yang berkontribusi pada kerusakan jaringan dan penuaan sel.
Meski demikian, Carroll mengingatkan bahwa temuan ini tidak berarti CBT-I dapat membalikkan penuaan atau membuat seseorang menjadi lebih muda secara biologis. "Perbedaan yang diamati adalah pada ukuran berbasis biomarker, bukan usia kronologis. Ini sulit diterjemahkan secara praktis untuk individu, tetapi dalam jangka panjang bisa bermakna bagi kesehatan," tambahnya. Ia menganalogikan DunedinPACE seperti speedometer yang mengukur kecepatan penuaan, sedangkan ukuran lain seperti odometer yang menunjukkan jarak tempuh penuaan.
"CBT-I adalah pendekatan yang dirancang dengan baik untuk mengobati insomnia dan sangat efektif bagi banyak orang—ini adalah standar emas perawatan saat ini," tegas Carroll.
Studi ini memiliki keterbatasan, antara lain jumlah partisipan yang relatif kecil dan hanya berasal dari satu lokasi. Selain itu, perubahan pada biomarker penuaan tidak secara otomatis berarti umur panjang atau penurunan risiko penyakit tertentu. Peneliti menekankan perlunya penelitian lebih lanjut dengan sampel lebih besar dan beragam, serta menguji apakah efek serupa juga terlihat pada terapi insomnia lain, termasuk obat-obatan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi insomnia yang cukup tinggi, terutama di kalangan lansia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan sekitar 10% penduduk Indonesia mengalami gangguan tidur, dan angka ini cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Akses terhadap CBT-I di dalam negeri masih terbatas, umumnya hanya tersedia di kota-kota besar melalui psikolog klinis atau layanan kesehatan mental swasta. Jika manfaat CBT-I terhadap penuaan biologis terbukti konsisten, ini bisa menjadi argumen kuat untuk mengintegrasikan terapi tersebut ke dalam layanan kesehatan primer atau program Jaminan Kesehatan Nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah perbaikan tidur yang berkelanjutan selama bertahun-tahun dapat memberikan dampak yang lebih besar pada jam biologis tubuh. Carroll dan timnya berencana mempelajari efek jangka panjang 5–10 tahun untuk melihat apakah penuaan biologis benar-benar melambat secara signifikan. Sementara itu, masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan gangguan tidur dan mencari bantuan profesional jika diperlukan, karena tidur yang sehat bukan sekadar kebutuhan, melainkan investasi untuk kesehatan jangka panjang.



