Badai Geomagnetik Hantam Bumi, Aurora Borealis Terlihat di 22 Negara Bagian AS
Baca dalam 60 detik
- Aliran angin matahari berkecepatan tinggi diperkirakan mencapai medan magnet Bumi pada Rabu malam hingga Kamis dini hari, memicu badai geomagnetik skala G1 hingga G2.
- Fenomena aurora borealis berpotensi terlihat di 22 negara bagian AS, dari Alaska hingga New York, dengan syarat langit gelap dan cuaca cerah.
- Meski demikian, cahaya bulan yang semakin terang menjelang purnama pada 26 September dapat mengurangi visibilitas aurora, terutama di wilayah selatan.

Badai geomagnetik diperkirakan menghantam Bumi pada Rabu malam (23/9) hingga Kamis dini hari (24/9), memicu peluang munculnya aurora borealis di sejumlah wilayah Amerika Serikat bagian utara. Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA (Space Weather Prediction Center) melaporkan bahwa aliran angin matahari berkecepatan tinggi dari lubang korona akan berinteraksi dengan medan magnet Bumi, menciptakan kondisi badai geomagnetik setidaknya skala minor (G1), dengan kemungkinan meningkat ke level G2 yang lebih mudah diamati.
Fenomena ini menjadi perhatian karena aurora biasanya hanya terlihat di lintang tinggi, tetapi badai yang lebih kuat dapat mendorong oval aurora ke arah selatan. Jika aktivitas mencapai G1, warga di dekat perbatasan Kanada memiliki peluang terbaik dari lokasi gelap di Alaska, Washington, Idaho, Montana, North Dakota, South Dakota, Minnesota, Wisconsin, Michigan, Maine, Vermont, dan New Hampshire. Sementara jika badai menguat ke G2, cahaya redup aurora bisa terlihat hingga Oregon, Wyoming, Nebraska, Iowa, Illinois, Indiana, Ohio, Colorado, Pennsylvania, dan New York.
Meski demikian, pengamat harus memperhitungkan faktor bulan. Fase bulan yang sedang menuju purnama pada Sabtu (26/9) akan membuat langit malam lebih terang, sehingga aurora redup berpotensi tersapu cahaya bulan. "Semakin gelap lingkungan sekitar, semakin besar peluang Anda," demikian saran dari NOAA, seperti dikutip dari laporan tersebut. Selain itu, aurora dikenal sulit diprediksi; aktivitas dapat berfluktuasi cepat, kadang hanya tampak sebagai pendar samar sebelum tiba-tiba meletus menjadi pita hijau terang.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena aurora borealis memang tidak dapat disaksikan langsung karena letak geografis yang berada di ekuator. Namun, badai geomagnetik yang dipicu aktivitas matahari tetap relevan. Gangguan pada medan magnet Bumi dapat memengaruhi sistem navigasi satelit, komunikasi radio frekuensi tinggi, dan jaringan listrik di lintang tinggi. Meskipun dampak langsung ke Indonesia minim, perusahaan penerbangan dan operator satelit perlu mewaspadai potensi gangguan sinyal, terutama untuk rute penerbangan polar yang melintas dekat wilayah aurora.
Selain itu, bagi wisatawan Indonesia yang sedang berada di Amerika Serikat atau Kanada, momen ini bisa menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan aurora tanpa harus pergi ke Islandia atau Norwegia. Namun, diperlukan perencanaan matang: menjauh dari polusi cahaya kota, memantau peta aurora NOAA secara real-time, dan bersiap dengan kamera smartphone mode malam atau eksposur panjang. Penelitian menunjukkan bahwa kamera ponsel sering kali lebih sensitif daripada mata manusia dalam mendeteksi aurora redup, sehingga hasil foto bisa lebih memukau daripada penglihatan langsung.
"Aurora bisa muncul sebagai pendar lemah lalu berkembang cepat menjadi tirai cahaya. Kesabaran dan lokasi gelap adalah kunci," ujar seorang forecaster NOAA dalam laporan tersebut.
Ke depan, aktivitas matahari diperkirakan masih dalam fase meningkat menuju puncak siklus 25 yang diprediksi terjadi sekitar 2025-2026. Artinya, peluang badai geomagnetik dan aurora di lintang menengah akan lebih sering muncul. Namun, tantangan utama tetap pada prediksi cuaca antariksa yang masih memiliki ketidakpastian tinggi. Masyarakat di wilayah berisiko disarankan untuk terus memantau informasi resmi dari NOAA dan lembaga cuaca antariksa lainnya, serta tidak bergantung pada ramalan jangka panjang. Pertanyaannya, apakah infrastruktur teknologi global sudah cukup siap menghadapi badai matahari yang lebih kuat di masa depan?



