Vollering Ukir Sejarah: Juara Tour de France Femmes Dua Kali Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Demi Vollering memenangkan etape pamungkas dan mengunci gelar juara umum Tour de France Femmes untuk kedua kalinya secara beruntun.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Vollering di panggung balap sepeda wanita, sekaligus mematahkan perlawanan sengit Katarzyna Niewiadoma-Phinney.
- Prestasi ini berpotensi mendongkrak popularitas balap sepeda wanita di Indonesia, yang mulai melirik ajang bergengsi Eropa.

Demi Vollering memastikan diri sebagai pembalap pertama yang merebut dua gelar juara Tour de France Femmes secara beruntun setelah memenangi etape penutup yang menuntut taktik dan kekuatan luar biasa di rute pegunungan Nice, Minggu (18/8). Pebalap Belanda berusia 29 tahun dari tim FDJ-Suez itu tampil dominan dengan menyerang di tanjakan terakhir dan finis lebih dari satu menit di depan rival terdekatnya, mengunci kemenangan umum dengan total waktu 30 jam 54 menit 51 detik.
Kemenangan ini bukan sekadar catatan pribadi. Vollering berhasil merebut kembali jersey kuning dari Katarzyna Niewiadoma-Phinney setelah etape sebelumnya, dan membawa keunggulan tipis delapan detik menjelang final. Di etape pamungkas sepanjang 99,2 kilometer dengan empat kali pendakian Col d'Eze dan total tanjakan 2.100 meter, ia melancarkan akselerasi tepat sebelum puncak tanjakan terakhir, sebuah manuver yang sama seperti yang ia lakukan sehari sebelumnya. Strategi ofensif ini membuat Niewiadoma-Phinney, yang juga mantan juara, tak mampu membalas.
Persaingan ketat sempat terusik oleh insiden yang menimpa Marlen Reusser, pebalap Swiss yang berada di posisi ketiga klasemen. Reusser terjatuh pada penurunan kedua Col d'Eze dan meski mampu melanjutkan balapan, ia kehilangan peluang untuk bersaing memperebutkan podium utama. Kejadian ini sekaligus mengubah peta persaingan, menyisakan duel dua mantan juara di depan.
Di luar persaingan utama, beberapa nama mencuri perhatian. Elisa Longo Borghini dari Italia berhasil naik podium untuk pertama kalinya dalam kariernya di ajang ini setelah finis ketiga secara keseluruhan. Sementara itu, Puck Pieterse mengunci gelar klasifikasi gunung, Lorena Wiebes memuncaki klasifikasi poin, dan Antonia Niedermaier dinobatkan sebagai pebalap muda terbaik. Juliette Berthet juga menerima penghargaan sebagai domestique terbaik, sebuah apresiasi bagi pebalap yang bekerja keras untuk pemimpin timnya.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, prestasi Vollering ini menjadi pengingat bahwa ajang sebesar Tour de France Femmes kini semakin kompetitif dan menarik untuk diikuti. Meski belum ada pebalap Indonesia yang tampil di level ini, perkembangan balap sepeda wanita di Tanah Air perlahan menunjukkan grafik positif. Beberapa pebalap muda mulai mencuri perhatian di ajang Asia Tenggara, dan kesuksesan Vollering bisa menjadi inspirasi bahwa kerja keras dan strategi yang matang mampu membawa seorang atlet ke puncak dunia.
Dengan dua gelar beruntun, pertanyaan besarnya kini mengarah pada kemampuan Vollering untuk mempertahankan dominasinya di tahun-tahun mendatang. Apakah ia akan mampu menciptakan era baru dalam balap sepeda wanita, atau muncullah penantang baru yang mampu memecah dominasinya? Satu hal yang pasti, persaingan di Tour de France Femmes musim depan akan semakin layak dinantikan.



