Demi Vollering Pertahankan Mahkota Tour de France Femmes dengan Aksi Solo di Col d'Eze
Baca dalam 60 detik
- Vollering mengunci gelar kedua Tour de France Femmes usai memenangi etape final di Nice dengan keunggulan 1 menit 18 detik atas Niewiadoma-Phinney.
- Aksi solo di tanjakan Col d'Eze menjadi pembeda, sekaligus mempertegas dominasinya di panggung balap sepeda putri dunia.
- Kemenangan ini menegaskan persaingan sengit dengan Niewiadoma-Phinney yang berpotensi berlanjut di ajang-ajang berikutnya.

Pebalap Belanda, Demi Vollering, sukses mempertahankan gelar juara Tour de France Femmes setelah tampil dominan di etape pamungkas yang berakhir di Nice, Minggu (9/8). Kemenangan ini sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu pebalap putri terbaik generasinya, dengan catatan impresif di berbagai ajang balap bergengsi.
Vollering, yang membela tim FDJ-Suez, memulai etape final sepanjang 99,2 kilometer dengan keunggulan tipis delapan detik atas rival terdekatnya, Katarzyna Niewiadoma-Phinney dari Polandia. Keunggulan tersebut ia raih setelah merebut jersey kuning sehari sebelumnya, dan pada etape penutup ia berhasil mengonversinya menjadi kemenangan yang meyakinkan.
Aksi kunci terjadi di tanjakan terakhir Col d'Eze, di mana Vollering melancarkan serangan decisif yang langsung menjauhkannya dari Niewiadoma-Phinney. Ia kemudian melaju sendirian hingga garis finis di Nice, mencatatkan kemenangan etape ketiganya di edisi tahun ini dan yang keenam sepanjang kariernya di ajang ini. Di klasemen akhir, Vollering unggul 1 menit 18 detik atas Niewiadoma-Phinney, sementara pebalap Italia, Elisa Longo Borghini, melengkapi podium.
Kemenangan ini bukan sekadar soal fisik, tetapi juga mentalitas. Dalam pernyataannya usai balapan, Vollering mengaku terinspirasi oleh rekan setimnya, Celia Gery, yang mengalami malam yang sulit. Ia juga menegaskan bahwa kemenangan ini adalah buah kerja keras kolektif timnya. "Saya berpikir, saya belum pernah menang dengan jersey kuning sebelumnya. Saya memikirkan tim saya, semua orang yang mendukung saya. Ini bukan hanya mimpi untuk menang di sini, tetapi mimpi untuk menjalani hidup ini, bekerja keras bersama orang-orang yang penuh gairah," ujarnya.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kemenangan Vollering menegaskan bahwa persaingan di level tertinggi balap putri semakin menarik. Meski belum ada pebalap Indonesia yang tampil di Tour de France Femmes, ajang ini menjadi tolok ukur perkembangan olahraga sepeda putri global. Dengan semakin banyaknya liputan dan siaran langsung, diharapkan dapat memicu minat generasi muda Indonesia untuk menekuni balap sepeda, baik di level nasional maupun internasional.
Performa Vollering di musim ini juga menambah deretan prestasinya yang mentereng, termasuk kemenangan di Giro d'Italia Women 2026 dan dua gelar La Vuelta Femenina beruntun pada 2024 dan 2025. Dengan usia 29 tahun, ia masih berpeluang menambah koleksi gelarnya di masa mendatang. Pertanyaannya, mampukah Niewiadoma-Phinney atau pebalap lain memberikan perlawanan lebih sengit di edisi mendatang? Atau akankah Vollering semakin memperkokoh dominasinya sebagai ratu balap sepeda putri dunia?



