Bundesliga Rehat Tiga Pekan, Ratusan Pemain Terbang Bela Negara Masing-Masing
Baca dalam 60 detik
- Kompetisi Bundesliga dan Bundesliga 2 memasuki jeda tiga pekan akibat jendela internasional yang diperpanjang, memaksa klub-klub melepas pemain ke berbagai penjuru dunia.
- Bayern Munich dan Borussia Dortmund menjadi penyumbang terbanyak, dengan Harry Kane, Jamal Musiala, dan Serhou Guirassy memperkuat tim nasional masing-masing.
- Situasi ini menghadirkan tantangan bagi pelatih klub dalam menjaga kebugaran pemain sekaligus peluang bagi pemain Asia, termasuk Kevin Diks dari Borussia Mönchengladbach yang memperkuat Timnas Indonesia.

Kompetisi Bundesliga dan Bundesliga 2 resmi memasuki masa jeda selama tiga pekan seiring dengan jendela pertandingan internasional yang diperpanjang. Alih-alih berlatih bersama klub, para pemain bintang dari dua kasta teratas sepak bola Jerman itu kini tersebar ke berbagai belahan dunia untuk memperkuat tim nasional masing-masing.
Jeda ini bukan sekadar kalender kosong. Bagi klub-klub besar seperti Bayern Munich dan Borussia Dortmund, periode ini menjadi ujian logistik dan manajemen kebugaran. Bayern, misalnya, harus merelakan lebih dari 15 pemainnya memperkuat negara masing-masing, mulai dari Joshua Kimmich dan Jamal Musiala yang membela Jerman, Harry Kane (Inggris), Kim Min-jae (Korea Selatan), hingga Michael Olise dan Dayot Upamecano yang memperkuat Prancis. Dortmund tak kalah sibuk dengan melepas Serhou Guirassy ke Guinea, Gregor Kobel ke Swiss, dan Ramy Bensebaini ke Aljazair.
Menariknya, jendela internasional kali ini juga menjadi panggung bagi para pemain muda. Dortmund mengirim Jobe Bellingham dan Ethan Nwaneri ke timnas U21 Inggris, serta Kauã Prates ke timnas U20 Brasil. Sementara Bayern mempercayakan Tom Bischof untuk memperkuat Jerman senior dan U21 sekaligus. Fenomena ini menegaskan bahwa klub-klub Bundesliga semakin serius mengembangkan talenta muda hingga level internasional.
Bagi sepak bola Asia, jeda ini menghadirkan sorotan tersendiri. Bek Borussia Mönchengladbach, Kevin Diks, kembali dipanggil memperkuat Timnas Indonesia. Kehadirannya di skuad Garuda menjadi bukti bahwa Bundesliga tetap menjadi tujuan utama pesepakbola Asia yang ingin mengasah kemampuan di level tertinggi. Selain Diks, ada pula Ko Itakura (Jepang) yang membela Gladbach, serta Ritsu Dōan (Jepang) dan Can Uzun (Turki) dari Eintracht Frankfurt.
Di kubu Bayer Leverkusen, pelatih Xabi Alonso harus kehilangan beberapa pilar penting seperti Ezequiel Fernández dan Facundo Medina (Argentina), Mark Flekken (Belanda), serta Edmond Tapsoba (Burkina Faso). Sementara RB Leipzig melepas Antonio Nusa (Norwegia) dan Willi Orbán (Hungaria) yang akan berlaga di kualifikasi Piala Eropa. Klub-klub papan tengah seperti Freiburg, Augsburg, dan Mainz juga tidak luput dari eksodus pemain ke timnas.
"Jeda internasional selalu menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, pemain mendapat pengalaman berharga, tetapi di sisi lain kami harus memutar otak menjaga kondisi mereka saat kembali," ujar seorang analis taktik Bundesliga yang enggan disebutkan namanya.
Dampak jeda ini juga terasa di Bundesliga 2. Klub-klub seperti Hertha Berlin, Nuremberg, dan Schalke harus merelakan pemain kunci mereka. Schalke, misalnya, melepas Edin Džeko (Bosnia) dan Hee-chan Hwang (Korea Selatan) yang masih menjadi andalan di level internasional. Sementara Nuremberg mengirim Abu El Haija ke Palestina, sebuah momen bersejarah bagi pemain muda tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, jeda ini menjadi kesempatan menyaksikan langsung kiprah Kevin Diks bersama Timnas Indonesia. Performanya di Bundesliga bersama Gladbach musim ini telah menarik perhatian, dan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi skuad asuhan Shin Tae-yong. Tidak hanya Diks, sejumlah pemain Bundesliga lain yang memiliki darah Indonesia atau bermain di Asia juga turut menjadi incaran media tanah air.
Dengan jeda yang masih menyisakan dua pekan lagi, klub-klub Bundesliga harus bersiap menghadapi risiko cedera dan kelelahan pemain. Pelatih seperti Thomas Tuchel (Bayern) dan Edin Terzić (Dortmund) dituntut cermat merotasi skuad begitu kompetisi bergulir kembali. Pertanyaannya, akankah jeda panjang ini menguntungkan tim-tim besar atau justru menjadi bumerang bagi ambisi mereka di sisa musim?



