Pitso Mosimane Kembali ke Kursi Pelatih Bafana Bafana: Misi Perbaiki Warisan yang Sempat Tercoreng
Baca dalam 60 detik
- SAFA telah mengonfirmasi pendekatan resmi kepada Pitso Mosimane untuk menggantikan Hugo Broos sebagai pelatih kepala timnas Afrika Selatan.
- Kembalinya Mosimane membawa harapan baru setelah kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2014, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang konsistensi taktik dan manajemen tekanan.
- Laga perdana melawan Guinea dan Eritrea pada kualifikasi Piala Afrika bulan depan akan menjadi ujian awal bagi era kedua Mosimane.

Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan (SAFA) dikabarkan telah mengajukan tawaran kepada Pitso Mosimane untuk kembali menukangi Bafana Bafana, menggantikan Hugo Broos yang mundur setelah Piala Dunia 2026. Presiden SAFA, Danny Jordaan, membenarkan bahwa Mosimane menjadi pilihan utama, meski masih ada beberapa hal yang perlu dibereskan sebelum pengumuman resmi pekan depan.
Langkah ini menandai babak baru bagi pelatih berusia 62 tahun yang pernah menangani timnas Afrika Selatan pada 2010โ2012. Saat itu, Mosimane diangkat menggantikan Carlos Alberto Parreira, pelatih asal Brasil yang membawa Bafana Bafana tampil di Piala Dunia 2010. Namun, masa kepemimpinannya berakhir pahit setelah gagal membawa tim melaju ke Piala Dunia 2014, dengan serangkaian hasil buruk di babak kualifikasi.
Keputusan SAFA untuk kembali memercayakan kursi pelatih kepada Mosimane tidak lepas dari rekam jejaknya yang mentereng di level klub. Mosimane sukses mempersembahkan gelar Liga Champions Afrika tiga kaliโdua bersama Mamelodi Sundowns dan satu bersama Al Ahly. Ia juga pernah menangani klub-klub di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran, yang memperkaya pengalaman taktiknya di berbagai kompetisi.
Meski demikian, bayang-bayang kesalahan fatal di masa lalu masih menghantui. Pada kualifikasi Piala Afrika 2012, Mosimane sempat melakukan kesalahan perhitungan yang membuat Afrika Selatan gagal lolos. Ia menerapkan taktik bertahan saat menjamu Sierra Leone karena mengira hasil imbang sudah cukup, padahal timnya wajib menang. Kekeliruan ini menjadi pelajaran berharga yang kini harus ia buktikan mampu diperbaiki.
Bagi pengamat sepak bola, kembalinya Mosimane adalah langkah berani dari SAFA. Di satu sisi, pengalaman dan kapasitasnya tidak diragukan. Namun, tekanan untuk langsung berprestasi di kualifikasi Piala Afrika 2027โyang akan digelar di Kenya, Tanzania, dan Ugandaโmenjadi ujian nyata. Kegagalan di masa lalu sering kali menjadi momok, dan publik Afrika Selatan tentu berharap Mosimane mampu membuktikan bahwa dirinya telah berubah.
Dari perspektif Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Sepak bola Afrika Selatan kerap menjadi barometer kebangkitan sepak bola Afrika, dan keputusan SAFA bisa menjadi pelajaran bagi PSSI dalam mengelola transisi pelatih. Keberanian untuk kembali memercayai sosok yang pernah gagal, dengan catatan prestasi yang kuat, adalah strategi yang juga relevan di tengah upaya Indonesia membangun timnas yang kompetitif.
Mosimane sendiri dijadwalkan memimpin latihan perdana dalam waktu dekat. Pertanyaan besarnya, akankah ia mampu mewarisi semangat baru dan membawa Bafana Bafana tampil lebih konsisten? Atau justru sejarah kelam 2012 akan terulang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: kembalinya Mosimane adalah sinyal bahwa SAFA tidak main-main dalam mengejar tiket ke Piala Afrika 2027.



