Rocky Flintoff Ukir Sejarah: Century Perdana di Usia 18 Tahun, Nama Besar Ayahnya Kian Terbayang
Baca dalam 60 detik
- Putra bungsu Andrew Flintoff mencetak 123 run dari 76 bola, menjadi century senior pertamanya di ajang One-Day Cup.
- Pencapaian ini menegaskan potensi besar Flintoff junior setelah sempat terhambat cedera dan baru meneken kontrak anyar dengan Lancashire.
- Performa ini memicu spekulasi tentang masa depannya di kriket Inggris, termasuk peluang menembus timnas senior dalam beberapa tahun ke depan.

Rocky Flintoff, pemukul berusia 18 tahun asal Lancashire, akhirnya mencatatkan century senior perdananya dalam karier profesional. Dalam laga One-Day Cup melawan Somerset di Taunton, ia meledak dengan 123 run dari 76 bola, menghantam 10 four dan 7 six. Rentetan pukulannya yang agresif mengantarkan Lancashire ke skor 443-6, rekor tertinggi tim dalam format List A.
Flintoff masuk saat timnya berada di 138-3, lalu membangun kemitraan brutal senilai 214 run bersama Keaton Jennings. Jennings sendiri mencetak 156 run, tetapi sorotan tetap tertuju pada Flintoff yang mencapai tiga digit hanya dalam 65 bola. Somerset yang tampil tanpa beberapa pemain inti akibat The Hundred, menjadi korban keganasan pemukul muda ini.
Pencapaian ini bukan sekadar angka. Flintoff telah mencatatkan namanya dalam buku rekor sejak usia 16 tahun, saat menjadi pemain termuda Lancashire dan pencetak century termuda untuk Inggris U-19. Pada Januari 2025, ia memecahkan rekor ayahnya, Andrew Flintoff, sebagai pencetak century termuda untuk England Lions. Namun, cedera sempat menghambat laju kariernya, membuatnya absen di Piala Dunia U-19 dan The Hundred 2025.
Konsistensi menjadi tantangan berikutnya. Flintoff baru tampil dalam empat pertandingan kelas satu, terakhir pada 2024. Namun, di One-Day Cup musim ini, ia menunjukkan performa menjanjikan dengan skor 33*, 41*, 34, dan 61* dalam enam penampilan sebelumnya. Kontrak dua tahun yang ia teken dengan Lancashire pada Maret lalu menjadi sinyal keseriusan kedua belah pihak dalam mengembangkan potensinya.
Gaya bermain Flintoff mengingatkan pada sang ayah, terutama saat ia melesakkan six ke arah mid-wicket. Andrew Flintoff, legenda all-rounder Inggris dengan 79 Test dan 141 ODI, baru saja mengundurkan diri sebagai pelatih England Lions pekan lalu. Kini, publik kriket Inggris mulai bertanya: apakah Rocky akan mengikuti jejak ayahnya menembus timnas senior?
Bagi pengamat kriket Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana regenerasi pemain muda di negara dengan tradisi kriket kuat. Meski kriket belum populer di Indonesia, kisah Flintoff bisa menjadi inspirasi bagi pembinaan olahraga usia muda, terutama dalam hal manajemen bakat dan ketahanan mental menghadapi cedera.
Ke depan, tantangan terbesar Flintoff adalah membuktikan konsistensi di level yang lebih tinggi. Dengan One-Day Cup yang kini berstatus kompetisi lapis kedua di bawah The Hundred, ia memiliki panggung untuk terus mengasah kemampuan. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa ini saat kembali berhadapan dengan bowler kelas dunia? Jika ya, bukan tidak mungkin namanya akan segera masuk dalam radar seleksi timnas Inggris.



