Meta Muse Geser ChatGPT di App Store AS, tapi Kepercayaan Pengguna Jadi Ujian Berat
Baca dalam 60 detik
- Agen AI Meta, Muse, menempati posisi puncak unduhan gratis iPhone di AS pada 18 September, mengungguli ChatGPT, Gemini, dan Claude.
- Meski populer, survei Oppenheimer menunjukkan hanya 8% konsumen AS yang bersedia memberikan kata sandi mereka ke Meta, jauh di bawah Google dan Apple.
- Peluncuran Muse membuka babak baru persaingan agen AI, tetapi adopsi global dan kepercayaan pengguna akan menentukan keberlanjutan momentumnya.

Meta resmi mencatatkan namanya di jajaran teratas pasar aplikasi AI. Agen kecerdasan buatan mereka, Muse, berhasil menduduki peringkat pertama unduhan gratis di App Store Amerika Serikat pada 18 September, hanya sepuluh hari setelah diluncurkan. Sepanjang periode tersebut, aplikasi ini diunduh lebih dari 730.000 kali di AS, menurut data Sensor Tower. Capaian itu menempatkan Muse di atas ChatGPT, Gemini milik Google, Claude dari Anthropic, bahkan Instagram yang juga dimiliki Meta.
Lonjakan Muse mengingatkan pada momen peluncuran ChatGPT di App Store pada 2023. Kala itu, aplikasi OpenAI tersebut mencatat 697.000 unduhan di AS dalam delapan hari pertama, menurut data.ai. Namun, ChatGPT saat itu masih berada di peringkat ketiga chart gratis AS, berdasarkan pantauan Appfigures. Perbedaan posisi ini menunjukkan bahwa Muse tidak hanya meniru jejak pendahulunya, tetapi juga memanfaatkan ekosistem raksasa Meta yang sudah tertanam di perangkat ratusan juta pengguna.
Muse diluncurkan pada 8 September dan dirancang bukan sekadar sebagai chatbot penjawab pertanyaan. Agen ini mampu mengeksekusi tugas atas nama pengguna, seperti mengirim surel, memesan perjalanan, hingga melakukan pembelian, setelah terhubung dengan aplikasi dan akun pribadi. Layanan ini tersedia di AS melalui iOS, Android, WhatsApp, dan web. Meta menawarkan akses gratis di awal, dengan opsi berlangganan seharga US$20 dan US$100 per bulan.
Respons pasar pun positif. JPMorgan mengubah rekomendasi saham Meta dari Neutral menjadi Overweight dan menaikkan target harganya dari US$640 menjadi US$820, seperti dilaporkan CNBC. CEO Meta Mark Zuckerberg juga mengumumkan versi Mac untuk Muse pada 17 September, memperluas jangkauan perangkat yang didukung.
Meski demikian, kecepatan unduhan Muse masih tertinggal dari ChatGPT secara harian. Muse rata-rata mengantongi sekitar 73.000 unduhan per hari di AS selama sepuluh hari pertama, sedangkan ChatGPT mencatat 87.000 per hari dalam delapan hari pertamanya. Perbedaan ini menggarisbawahi bahwa ledakan awal Muse lebih banyak didorong oleh basis pengguna Meta yang masif, bukan semata-mata daya tarik produknya.
โKepercayaan adalah mata uang baru dalam adopsi agen AI. Tanpa itu, fitur canggih sekalipun akan sulit diterima,โ ujar seorang analis teknologi yang memantau industri ini, merujuk pada survei Oppenheimer.
Tantangan terbesar Muse bukanlah persaingan fitur, melainkan membangun kepercayaan pengguna. Survei Oppenheimer terhadap 1.500 konsumen AS sekitar peluncuran mengungkap hanya 8% yang bersedia memberikan kata sandi mereka kepada Meta. Angka itu jauh di bawah Google (30%), Apple (23%), dan ChatGPT (16%). Sebanyak 58% responden bahkan menyatakan tidak akan berbagi kata sandi dengan agen AI mana pun. Keraguan ini muncul di tengah rekor Meta yang baru saja menyetujui penyelesaian multi-negara bagian terkait dampak media sosial, dengan nilai yang dilaporkan mencapai US$18 miliar pada Agustus lalu.
Kinerja Muse di platform Android juga belum menggembirakan. Di Google Play, aplikasi ini berada di peringkat 338 untuk kategori Produktivitas hingga pekan lalu, menurut TechCrunch yang mengutip Sensor Tower. Kesenjangan antara iOS dan Android ini bisa menjadi sinyal bahwa penetrasi Muse masih bergantung pada ekosistem Apple yang lebih terkontrol, sementara pengguna Android lebih berhati-hati atau kurang terpapar promosi.
Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan pelajaran penting. Pasar AI di Tanah Air sedang tumbuh pesat, dengan adopsi chatbot dan asisten digital yang semakin luas. Jika Meta membawa Muse ke Indonesia, mereka harus menghadapi tantangan serupa: keraguan pengguna untuk memberikan akses ke akun pribadi, terlebih setelah sejumlah kasus kebocoran data di dalam negeri. Regulasi Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang mulai berlaku juga akan menjadi rambu-rambu ketat bagi agen AI yang mengakses data sensitif. Di sisi lain, kehadiran Muse bisa memacu pemain lokal untuk mengembangkan agen AI yang lebih memahami konteks Indonesia, termasuk bahasa dan kebiasaan pengguna.
Ke depan, pertarungan agen AI tidak lagi sekadar soal siapa yang paling cepat mencapai peringkat satu di App Store. Meta perlu membuktikan bahwa Muse mampu menjaga keamanan dan privasi pengguna, sekaligus meyakinkan bahwa otonomi yang diberikan tidak disalahgunakan. Apakah kepercayaan publik terhadap raksasa teknologi dapat pulih, atau justru menjadi tembok penghalang adopsi massal? Waktu yang akan menguji, tetapi langkah Meta selanjutnya akan sangat menentukan arah industri agen AI global.



