Kejutan di Eropa: Tiga Pelari 800m Putri Siap Ukir Sejarah di Kejuaraan Eropa
Baca dalam 60 detik
- Keely Hodgkinson, Audrey Werro, dan Femke Broeders-Bol melaju mulus ke semifinal 800m putri di Kejuaraan Eropa, memanaskan persaingan menuju final.
- Werro, yang memecahkan rekor 43 tahun musim ini, menjadi ancaman serius bagi dominasi Hodgkinson, sementara Broeders-Bol menunjukkan performa impresif setelah pindah nomor.
- Pertarungan ini diprediksi bisa memecahkan rekor dunia 800m putri yang bertahan sejak 1983, dengan tiga pelari tercepat dunia saat ini berada di Eropa.

Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham menyajikan panggung yang menggoda: tiga pelari 800 meter putri tercepat di dunia musim ini—Keely Hodgkinson, Audrey Werro, dan Femke Broeders-Bol—dipastikan bertemu di semifinal, membuka peluang terciptanya final paling bersejarah dalam dekade terakhir. Ketiganya lolos dengan mudah pada babak penyisihan Selasa pagi, menegaskan status mereka sebagai kandidat kuat medali emas dan bahkan pemecah rekor dunia.
Hodgkinson, peraih emas Olimpiade Tokyo dan dua kali juara Eropa, tampil dominan dengan catatan waktu 1 menit 57,28 detik—tercepat di antara empat heat. Namun, yang menjadi sorotan adalah Audrey Werro asal Swiss, yang musim ini mencatatkan waktu 1:53,80, tercepat ketiga sepanjang sejarah nomor 800m putri. Werro bahkan mengalahkan Hodgkinson di Stockholm Juni lalu dengan waktu terbaik dunia dalam 43 tahun terakhir. Sementara itu, Broeders-Bol, juara dunia 400m gawang dua kali asal Belanda, memutuskan pindah nomor musim ini dan langsung tampil meyakinkan dengan 1:59,96.
Persaingan ini bukan sekadar perebutan gelar Eropa. Dengan tiga pelari tercepat dunia saat ini berada di satu ajang, rekor dunia Jarmila Kratochvilova yang bertahan sejak 1983 (1:53,28) dianggap dalam jangkauan. Hodgkinson sendiri telah memangkas rekor Inggrisnya menjadi 1:54,33, hanya satu detik di belakang rekor dunia. "Semua orang tahu untuk bertahan, Anda harus terus menjadi lebih baik. Ini saat yang menarik untuk 800m putri," ujar Hodgkinson, yang sempat mengalami beberapa kendala di musim outdoor namun menegaskan kejuaraan adalah awal yang segar.
Greg Rutherford, mantan juara lompat jauh Olimpiade, yang menyaksikan langsung di Alexander Stadium, menilai ketiganya tampil begitu mudah dibanding pelari lain. "Mereka membuatnya terlihat sangat mudah, sungguh luar biasa. Ini menyiapkan pertarungan yang sangat bagus ke depan," katanya kepada BBC TV. Rutherford menambahkan, kejuaraan adalah tentang medali, tetapi dengan tiga pelari terbaik dunia di Eropa, peluang memecahkan rekor dunia sangat terbuka.
Bagi Indonesia, persaingan ini menjadi tontonan yang menarik sekaligus pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan inovasi dalam olahraga. Meski atletik Indonesia belum berada di level tersebut, perkembangan pesat para pelari Eropa menunjukkan bahwa dengan program latihan yang tepat dan mental juara, batas kemampuan manusia terus bergeser. Federasi Atletik Indonesia (PASI) dapat menjadikan momen ini sebagai referensi untuk memacu pembinaan atlet muda, khususnya di nomor lari jarak menengah.
Werro, yang meraih perak dunia indoor di belakang Hodgkinson pada Maret lalu, mengaku persaingan ini saling memacu. "Saya pikir ini sangat bagus karena kami benar-benar bisa saling mendorong. Kami sangat cepat dan saya bersemangat untuk apa yang akan datang," katanya. Dengan semifinal dijadwalkan Kamis, publik Eropa—dan dunia—menantikan apakah final nanti akan menjadi panggung lahirnya rekor baru. Satu pertanyaan menggantung: akankah salah satu dari mereka mampu menembus tembok 1:53.28 yang telah bertahan lebih dari empat dekade?



