Earl Spencer: Diana Diduga Kuat Alami ADHD dan Disleksia, Bukan Gangguan Bipolar
Baca dalam 60 detik
- Adik kandung Putri Diana, Earl Charles Spencer, meyakini mendiang kakaknya mengalami ADHD dan disleksia yang tidak terdiagnosis semasa hidup.
- Dalam buku barunya, Spencer mengaitkan pola hubungan Diana yang mudah memutus kontak dengan gejala ADHD, bukan gangguan kepribadian seperti yang sering dituduhkan publik.
- Pengakuan ini membuka diskusi lebih luas tentang kesehatan mental dan neurodiversitas, termasuk di Indonesia yang masih menghadapi stigma dan keterbatasan layanan.

Earl Charles Spencer, adik kandung Putri Diana, secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa mendiang kakaknya mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan majalah People menjelang peluncuran buku barunya, Swan Song: Diana, My Sister, yang mengulas sisi personal sang putri dari sudut pandang keluarga.
Menurut Spencer, Diana yang lahir pada 1961 tumbuh di lingkungan sekolah privat Inggris yang belum memahami kebutuhan anak dengan kondisi neurodiversitas. "Diana kesulitan dalam mengeja dan menyusun kata," ujarnya, menggambarkan indikasi disleksia. Ia juga melihat kemiripan perilaku antara dirinya yang baru didiagnosis ADHD pada usia dewasa dengan sang kakak. "Saya tahu itu persis yang dialami Diana. Sangat mirip," tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus membantah spekulasi publik yang sering menyebut Diana mengidap gangguan bipolar atau borderline personality disorder. Spencer menilai teori-teori tersebut tidak berdasar dan terlalu stigmatif. "Orang-orang melontarkan teori macam-macam. Saya tahu itu bukan gangguan-gangguan itu. Menurut saya lebih membumi: itu ADHD," katanya. Ia menekankan bahwa individu dengan ADHD sangat sensitif terhadap penolakan, dan hal itu menjelaskan mengapa Diana bisa tiba-tiba memutus hubungan dengan orang-orang terdekatnya.
Dalam buku tersebut, Spencer mengisahkan bagaimana Diana kerap menjauh dari lingkaran dalamnya secara mendadak. Namun ia menegaskan bahwa ini bukan bentuk kritik, melainkan pengakuan bahwa sang kakak berjuang dengan kondisi yang sama sekali tidak terdiagnosis. "Jika ia merasa dikhianati seorang teman, itu menjadi masalah besar dan sulit untuk kembali," ujarnya. Ia juga menyoroti tekanan luar biasa yang dihadapi Diana sebagai figur publik, yang membuatnya memberikan terlalu banyak diri hingga kelelahan. "Saat sendirian di Kensington Palace, ia sering tidur pukul 9 malam karena benar-benar habis. Besoknya ia harus tampil memukau di acara publik. Itu tidak tanpa biaya," kenang Spencer.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia kerajaan. Di Indonesia, kesadaran akan ADHD dan disleksia masih rendah. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa gangguan neurodevelopmental sering tidak terdeteksi karena kurangnya tenaga ahli dan stigma sosial. Banyak anak dianggap "nakal" atau "malas" ketika sebenarnya mengalami kesulitan belajar. Pengakuan Spencer dapat menjadi cermin: bahkan figur sepopuler Diana pun bisa luput dari diagnosis, apalagi masyarakat biasa dengan akses terbatas.
Lebih jauh, narasi ini menyoroti pentingnya memahami neurodiversitas dalam konteks kesehatan mental. ADHD bukanlah kelemahan karakter, melainkan kondisi neurologis yang memerlukan dukungan, bukan penghakiman. Di Indonesia, layanan psikologi klinis dan psikiater anak masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara platform konseling daring mulai menjangkau wilayah terpencil. Namun, edukasi publik tetap menjadi kunci untuk mengurangi diagnosis yang terlewat.
"Ini bukan kritik. Ini pengakuan bahwa ia berjuang dengan kondisi yang sama sekali tidak terdiagnosis," ujar Earl Spencer.
Ke depan, warisan Diana mungkin tidak hanya tentang kemanusiaan dan gaya kepemimpinannya, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami kesehatan mental. Apakah masyarakat Indonesia siap meninggalkan label negatif dan mulai melihat ADHD serta disleksia sebagai bagian dari keragaman neurologis yang perlu direspons dengan empati dan layanan tepat?



