Terjepit Api di Bawah dan Terik di Atas: Buruh Kilang Bata Pakistan Melawan Krisis Iklim
Baca dalam 60 detik
- Pekerja kilang bata tradisional di Pakistan menghadapi kondisi kerja ekstrem dengan suhu tungku melebihi 1.000 derajat Celsius, diperparah oleh gelombang panas akibat perubahan iklim.
- Lebih dari satu juta orang bekerja di 18.000 kilang bata di Pakistan, namun upah harian hanya sekitar US$3 dan banyak yang terjerat utang karena sistem pembayaran di muka.
- Para advokat buruh mendesak perbaikan regulasi dan perlindungan sosial, sementara Pakistan menempati peringkat tinggi negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Di distrik Sheikhupura, Pakistan, para pekerja kilang bata harus bertahan di tengah sengatan matahari yang kian menyengat dan panas tungku yang membara di bawah kaki mereka. Suhu tungku tradisional yang mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius, ditambah dengan meningkatnya suhu udara akibat perubahan iklim, menjadikan pekerjaan ini semakin tidak manusiawi. Abid Hussain, seorang buruh berusia 35 tahun, menggambarkan situasi ini sebagai 'terjebak di antara api di bawah dan terik di atas'. Ia mengaku tidak punya pilihan selain terus bekerja meski panasnya tak tertahankan, karena tekanan ekonomi di rumah.
Industri kilang bata di Pakistan mempekerjakan lebih dari satu juta orang yang tersebar di 18.000 kilang, menurut data Climate and Clean Air Coalition pada 2018. Namun, sektor ini dikenal minim regulasi, upah rendah, dan semakin berbahaya seiring naiknya suhu global. Para pekerja seperti Hussain hanya menerima sekitar 25.000 rupee Pakistan (sekitar RM368) per bulan, yang nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sewa rumah dan anak-anaknya. Sistem pembayaran di muka yang umum diterapkan membuat pekerja terikat utang dan tidak bisa menolak bekerja dalam kondisi berbahaya.
Syeda Ghulam Fatima, Sekretaris Jenderal Bonded Labour Liberation Front Pakistan, menyebut kilang bata sebagai 'tempat penahanan' bagi para pekerja. Mereka harus menahan panas yang datang dari dua arah: dari matahari yang membakar di atas dan dari tungku yang menyala di bawah. Fatima menegaskan bahwa pekerja terjebak dalam lingkaran utang, panas ekstrem, dan kesehatan yang memburuk. Ia menambahkan bahwa kenaikan suhu global semakin memperbesar risiko yang mereka hadapi.
Pakistan sendiri termasuk negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, menurut para ahli. Gelombang panas yang semakin sering dan intens membuat pekerjaan di luar ruangan, seperti di kilang bata, menjadi semakin berisiko. Meski demikian, permintaan akan batu bata terus meningkat seiring dengan booming konstruksi di Pakistan, sehingga pekerja tetap dibutuhkan meski kondisinya memprihatinkan.
Kisah para buruh kilang bata di Pakistan ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga keadilan sosial dan hak asasi manusia. Di Indonesia, fenomena serupa dapat ditemui pada pekerja informal di sektor konstruksi, pertanian, dan industri padat karya yang juga rentan terhadap cuaca ekstrem. Tanpa perlindungan sosial yang memadai, mereka yang paling tidak bertanggung jawab atas krisis iklim justru menjadi korban utamanya.
Pemerintah Pakistan dan negara-negara berkembang lainnya perlu segera mengambil langkah konkret, seperti memperketat regulasi keselamatan kerja, menyediakan akses kesehatan, dan memastikan upah layak. Namun, tanpa aksi global yang nyata untuk menekan emisi karbon, nasib para pekerja seperti Hussain akan semakin terpinggirkan. Akankah dunia hanya menjadi penonton ketika mereka 'terjebak di antara api dan terik'?



