Anna Faris Buka Suara soal Mom Guilt: Tekanan Jadi Ibu di Los Angeles dan Harapan untuk Generasi Mendatang
Baca dalam 60 detik
- Aktris Anna Faris mengaku bergelut dengan perasaan bersalah sebagai ibu selama bertahun-tahun, terutama karena tekanan sosial di Los Angeles.
- Ia menyoroti kompetisi antarmama di kota tersebut dan pergulatan identitas setelah kelahiran anaknya, Jack.
- Melalui film terbarunya 'Spa Weekend', Faris berharap dapat menginspirasi perempuan untuk saling mendukung dan mengurangi beban kesempurnaan.

Anna Faris, aktris Hollywood yang dikenal lewat franchise Scary Movie, kembali menjadi sorotan setelah secara blak-blakan membicarakan pengalamannya menghadapi mom guilt atau perasaan bersalah sebagai ibu. Dalam wawancara terbarunya dengan E! News, perempuan 49 tahun itu mengaku telah bergulat dengan perasaan tersebut selama bertahun-tahun, bahkan sejak kelahiran putranya, Jack, yang kini berusia 14 tahun.
Faris, yang menikah dengan Chris Pratt pada 2009 dan bercerai pada 2018, menyebut bahwa perasaan bersalah itu bagaikan selimut yang menyelimuti dirinya. "Saya selalu merasa melakukan sesuatu yang salah," ujarnya. Ia juga menggarisbawahi bahwa menjadi ibu di Los Angeles, kota dengan standar sosial yang tinggi, membuatnya kerap merasa tidak pernah cukup baik. "Ada banyak kompetisi di antara para ibu di sini," tambahnya.
Pergulatan identitas juga menjadi bagian dari cerita Faris. Setelah melahirkan Jack, ia mengaku sempat kehilangan arah. "Dari aktris komedi, ratu film spoof, tiba-tiba saya harus beradaptasi dengan identitas sebagai ibu. Saya khawatir tentang apa artinya itu semua," kenangnya. Ia pun berharap generasi mendatang tidak lagi dibebani oleh tuntutan kesempurnaan yang sama. "Kita semua punya kekurangan," tegasnya.
Di tengah refleksi personalnya, Faris juga tengah mempromosikan film komedi terbarunya berjudul Spa Weekend, yang juga dibintangi Isla Fisher, Leslie Mann, dan Michelle Buteau. Film yang syutingnya dilakukan di Gold Coast, Australia, ini ia harap bisa menjadi ajang berkumpulnya banyak kelompok perempuan. "Saya berharap film ini menginspirasi orang-orang untuk merencanakan liburan spa bersama teman-teman, lalu menonton filmnya," katanya.
Faris mengaku pengalaman syuting Spa Weekend terasa seperti mimpi. Cuaca yang bersahabat, pemandangan laut, dan kerja sama dengan para aktris yang ia kagumi membuat proses produksi menjadi sangat berkesan. "Saya akhirnya bisa membangun persahabatan baru yang tulus melalui pekerjaan ini. Setiap hari saya belajar untuk mengagumi dan mencintai mereka," ungkapnya.
Kisah Faris ini menyentuh realitas yang juga dialami banyak ibu di Indonesia. Tekanan untuk menjadi ibu yang sempurna, ditambah dengan ekspektasi sosial yang tinggi, sering kali memicu perasaan bersalah dan stres. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa mom guilt adalah fenomena universal yang diperparah oleh media sosial. "Banyak ibu merasa tidak cukup baik ketika membandingkan diri dengan orang lain di dunia maya," ujarnya. Ia menyarankan agar para ibu lebih realistis dan mau berbagi cerita, karena perasaan tersebut adalah hal yang wajar.
Faris sendiri berharap bahwa dengan berbicara terbuka, ia dapat membantu mengurangi stigma seputar mom guilt. "Saya ingin generasi mendatang tidak lagi dibebani oleh tuntutan kesempurnaan. Kita semua punya kekurangan, dan itu tidak apa-apa," katanya. Pertanyaannya, apakah masyarakat, termasuk di Indonesia, siap untuk lebih menerima ketidaksempurnaan dalam pengasuhan anak? Atau justru tekanan itu akan terus menghantui para ibu di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern?



