Meninggal di Usia 27, Presley Gerber Diduga Overdosis: Investigasi Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Presley Gerber, putra supermodel Cindy Crawford, ditemukan tewas di fasilitas rehabilitasi di Santa Monica pada Minggu (20/9/2026) dan polisi menyelidiki dugaan overdosis.
- Keluarga meminta privasi; sebelum wafat, Presley vokal soal perjuangan kesehatan mental dan penyalahgunaan zat, berharap bisa membantu orang lain.
- Kasus ini menyoroti darurat kesehatan mental dan akses rehabilitasi, termasuk di Indonesia, serta pentingnya dukungan berkelanjutan bagi generasi muda.

Kabar duka menyelimuti keluarga besar Cindy Crawford. Presley Gerber, putra supermodel legendaris itu, meninggal dunia pada Minggu (20/9/2026) di sebuah fasilitas rehabilitasi di Santa Monica, California, pada usia 27 tahun. Otoritas setempat tengah menyelidiki kematiannya sebagai dugaan overdosis.
Menurut pernyataan Kepala Kantor Pemeriksa Medis Los Angeles County kepada Daily Mail, petugas Kepolisian Santa Monica merespons laporan dugaan overdosis di blok 1000 Berkeley Street sekitar pukul 09.35 waktu setempat. Setibanya di lokasi, mereka menemukan seorang pria dewasa dalam kondisi tak bernyawa. Hingga kini, penyebab resmi kematian belum ditetapkan, dan penyelidikan masih berlangsung. Polisi menyatakan tidak ada indikasi keterlibatan pihak lain atau tindak pidana.
Presley adalah anak dari pasangan Cindy Crawford dan pengusaha Rande Gerber, serta kakak dari aktris dan model Kaia Gerber. Seorang perwakilan keluarga menyampaikan permohonan privasi. "Keluarga meminta privasi selama masa yang sangat sulit dan menyakitkan ini," ujarnya kepada PEOPLE. Kepergian Presley mengejutkan banyak pihak, mengingat ia sempat tampil di karpet merah pada Januari lalu untuk premiere dokumenter "Infinite Icon: A Visual Memoir" milik Paris Jackson.
Sebelum wafat, Presley cukup terbuka mengenai perjuangannya melawan masalah kesehatan mental dan penyalahgunaan zat. Dalam wawancara di podcast Studio 22, ia mengungkapkan keinginan kuat untuk membantu orang lain yang mengalami hal serupa. "Jika saya bisa membantu satu orang atau seratus orang keluar dari tempat di mana saya pernah berada, itu sudah cukup," tuturnya. Ia menegaskan bahwa kesehatan mental adalah isu yang sangat personal dan menjadi bagian besar hidupnya. "Ini seperti pekerjaan 24 jam, dan ada begitu banyak hal di dalamnya. Saya ingin membantu siapa pun yang depresi, yang bergumul dengan sesuatu yang berdampak negatif pada tubuh mereka. Tidak ada penghakiman," tambahnya.
Presley berharap pengalaman pahitnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi orang lain. "Saya telah melihat banyak hal dan belajar banyak. Yang saya harapkan adalah saya telah membuat kesalahan untuk orang lain, sehingga mereka tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama," ujarnya. Pernyataan itu kini menjadi semacam warisan pesan tentang pentingnya kesadaran dan dukungan bagi mereka yang berjuang dengan kesehatan mental.
"Kesehatan mental adalah isu yang sangat besar dalam hidup saya. Ini pekerjaan 24/7, dan saya ingin membantu orang lain tanpa menghakimi." โ Presley Gerber
Kasus ini juga menyoroti persoalan yang lebih luas: meningkatnya kematian akibat overdosis di kalangan usia produktif, termasuk selebritas muda. Di Amerika Serikat, krisis opioid dan penyalahgunaan zat telah menjadi darurat kesehatan masyarakat selama bertahun-tahun. Meski data resmi belum dirilis, kejadian ini kembali mengingatkan bahwa akses terhadap layanan kesehatan mental dan rehabilitasi yang memadai masih menjadi tantangan, bahkan di negara maju.
Bagi Indonesia, peristiwa ini bisa menjadi cermin. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi depresi di Indonesia mencapai 6,1% untuk usia di atas 15 tahun, sementara akses layanan kesehatan jiwa masih terbatas. Stigma terhadap gangguan mental dan penyalahgunaan zat juga masih kuat. Kisah Presley Gerber, yang berani berbicara terbuka, dapat mendorong dialog yang lebih jujur tentang pentingnya dukungan psikologis dan rehabilitasi, terutama bagi generasi muda yang rentan terhadap tekanan hidup modern.
Keluarga Presley belum mengumumkan rencana upacara atau peringatan. Sementara itu, penyelidikan kepolisian masih berjalan dan hasil otopsi akan menentukan penyebab resmi kematian. Publik pun menantikan kejelasan, sekaligus mengenang sosok yang berusaha mengubah luka menjadi kekuatan. Akankah tragedi ini memicu perhatian lebih serius terhadap kesehatan mental dan penyalahgunaan zat, tidak hanya di Hollywood tetapi juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia?



