Brad Pitt Buka Suara soal Duka Mendalam Setahun Kepergian Sang Ibu: 'Rasa Kehilangan adalah Hal Terdalam yang Bisa Dialami Manusia'
Baca dalam 60 detik
- Aktor Hollywood Brad Pitt mengaku masih diliputi kesedihan mendalam setahun setelah ibunya, Jane Pitt, meninggal dunia pada Agustus 2025.
- Dalam wawancara dengan Esquire, Pitt menggambarkan duka sebagai 'lubang menganga' yang menyisakan 'keindahan yang menyakitkan', dan menekankan pentingnya menerima kenyataan.
- Ia juga mengungkapkan hubungannya dengan sang ayah, William, yang jarang membahas kehilangan secara mendalam, namun tetap saling menguatkan melalui kehadiran.

Setahun setelah kepergian sang ibu, Jane Pitt, aktor papan atas Hollywood Brad Pitt akhirnya membuka diri tentang pergulatan batinnya. Dalam wawancara terbaru dengan majalah Esquire, pria 62 tahun itu menyebut rasa duka yang dialaminya sebagai pengalaman paling 'mendalam' sekaligus 'menghancurkan' yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Pitt mengaku bahwa kehilangan adalah ujian emosional terberat yang bisa dialami manusia. Ia bahkan menyebut kesepian yang menyertainya sebagai 'siksaan terbesar'. Namun di balik kepedihan itu, ia menemukan ada semacam keindahan yang lahir dari proses berduka—sesuatu yang ia gambarkan sebagai 'keindahan yang menyakitkan'.
Menariknya, Pitt tidak melihat duka sebagai sesuatu yang harus 'dilompati' atau 'ditinggalkan'. Justru, ia memilih untuk menjalaninya perlahan, hingga suatu hari ia bangun dan merasa matahari sedikit lebih cerah, udara terasa lebih segar. 'Mungkin kita harus mulai dengan melepaskan kendali, keyakinan tentang bagaimana segala sesuatu seharusnya terjadi,' ujarnya, menekankan pentingnya penerimaan.
Di tengah proses berduka, Pitt juga mengungkapkan kedekatannya dengan sang ayah, William, yang tinggal di Missouri. Meski mereka jarang berbicara secara mendalam tentang kehilangan, Pitt mengatakan bahwa sesekali satu kalimat sederhana dari ayahnya mampu menembus inti perasaannya. 'Kami orang desa, kami tidak berbicara terlalu dalam,' katanya, menggambarkan cara mereka berdua saling menguatkan.
Kisah Pitt ini mengingatkan kita bahwa duka adalah pengalaman universal yang dialami setiap manusia, termasuk figur publik sekaliber bintang Hollywood. Di Indonesia, di mana budaya gotong royong dan kebersamaan masih kuat, duka sering kali dihadapi bersama-sama. Namun, tekanan sosial untuk 'terlihat kuat' kadang membuat orang enggan menunjukkan kerapuhan. Kisah Pitt bisa menjadi pengingat bahwa tidak apa-apa untuk berduka, dan bahwa penerimaan adalah bagian dari penyembuhan.
Para psikolog menilai bahwa pernyataan Pitt sejalan dengan teori berduka modern yang menekankan pentingnya 'melalui' bukan 'melupakan'. Menurut mereka, proses berduka yang sehat justru melibatkan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan rasa kehilangan, bukan berusaha menghapusnya. Pandangan Pitt tentang 'mikrodosis' kebahagiaan—momen-momen kecil ketika rasa sakit mereda—juga dianggap sebagai strategi koping yang realistis.
Bagi penggemar Pitt di Indonesia, pengakuan ini menambah dimensi baru pada sosoknya yang selama ini dikenal sebagai aktor tangguh di layar lebar. Ini juga menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap Hollywood, ada manusia biasa yang bergulat dengan emosi yang sama seperti kita semua.
Ke depannya, publik mungkin akan melihat bagaimana Pitt terus menjalani hidupnya setelah kehilangan besar ini. Apakah ia akan semakin terbuka tentang pengalaman pribadinya, atau justru memilih untuk kembali menjaga privasi? Yang jelas, kisahnya telah memberi ruang bagi banyak orang untuk merenungkan makna kehilangan dan penerimaan dalam hidup mereka sendiri.



