Peta Dukungan 210 Anggota FIFA Terbelah: Infantino Terancam Kehilangan Kursi Presiden
Baca dalam 60 detik
- Hanya dalam dua pekan, posisi Gianni Infantino berbalik dari calon kuat presiden FIFA menjadi sorotan setelah rencana penjualan saham kompetisi dibatalkan.
- Sebanyak 124 asosiasi sepak bola nasional diperkirakan menolak Infantino, sementara 73 mendukung dan 13 belum menentukan sikap, menciptakan peta kekuatan yang cair.
- Liga Indonesia dan PSSI perlu mencermati dinamika ini karena dapat memengaruhi arah kebijakan FIFA dan alokasi dana pembangunan sepak bola global.

Gianni Infantino, yang selama ini dipandang tak tergoyahkan di puncak sepak bola dunia, kini menghadapi tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga pertengahan Juli lalu, hampir seluruh dari 210 anggota FIFA telah menyatakan dukungan untuk masa jabatan keempatnya, dan tidak ada satu pun penantang serius yang muncul. Namun, dua pekan setelah rencana kontroversialnya untuk menjual saham Piala Dunia dan kompetisi lain kepada investor swasta dibatalkan, peta dukungan berubah drastis.
BBC Sport memetakan sikap seluruh asosiasi anggota dan menemukan dunia terbelah: sekitar 124 asosiasi menentang Infantino, 73 mendukung, dan 13 belum menentukan sikap. Angka ini masih cair dan bisa berubah dalam beberapa bulan ke depan, terutama karena beberapa konfederasi mulai terpecah. Eropa, yang memiliki 55 suara, menjadi basis utama penolakan, sementara Afrika (54 suara) dan Amerika Selatan (10 suara) masih menjadi benteng loyalitas Infantino berkat investasi besar yang digelontorkan FIFA selama satu dekade terakhir.
Lonjakan kritis datang ketika UEFA, Concacaf, dan AFC—yang mewakili 136 asosiasi—menandatangani surat bersama yang menuduh Infantino dan FIFA melanggar kepercayaan melalui penipuan. Ini adalah koalisi yang signifikan, tetapi di dalamnya terdapat suara-suara yang berbeda. Bhutan, Filipina, dan Uni Emirat Arab di Asia justru mendukung Infantino, sementara Meksiko memilih berseberangan dengan Concacaf. Amerika Serikat dan Kanada mendukung pernyataan Concacaf, tetapi belum secara tegas menyatakan oposisi terhadap kepemimpinan Infantino.
Asia menjadi wilayah yang paling menarik untuk dipantau. Banyak asosiasi di sana belum menyatakan sikap, dan hasil pemilihan kepemimpinan sepak bola Arab Saudi pada Agustus mendatang bisa menjadi penentu. Arab Saudi, yang belum mengambil posisi publik, dianugerahi hak tuan rumah Piala Dunia 2034 di bawah pengawasan Infantino. Jika kerajaan itu berbalik arah, pengaruhnya bisa meluas ke negara-negara Teluk dan Asia lainnya. Selain itu, keputusan FIFA Council untuk memanggil rapat darurat—yang membutuhkan 19 dari 37 anggota—masih mungkin terjadi, meskipun komposisi dewan yang didominasi Eropa dan Asia membuat langkah ini sulit direalisasikan.
Di tengah ketidakpastian ini, nama Victor Montagliani, presiden Concacaf, terus disebut-sebut sebagai calon penantang paling potensial. Namun, belum ada satu pun kandidat yang secara resmi mengumumkan diri. Batas waktu pendaftaran calon adalah November mendatang. Jika UEFA, Concacaf, dan AFC serius ingin menjatuhkan Infantino, mereka harus bersatu di belakang satu kandidat. Sejarah menunjukkan bahwa konfederasi lain kerap resah dengan dominasi Eropa dalam hal kompetisi dan kekayaan, sehingga Montagliani bisa menjadi figur pemersatu.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. PSSI, sebagai salah satu anggota FIFA, akan terlibat dalam pemilihan presiden Maret mendatang. Meskipun posisi Indonesia belum jelas, arah kebijakan FIFA—termasuk program FIFA Forward yang mengucurkan miliaran dolar untuk pembangunan sepak bola—sangat bergantung pada siapa yang memimpin. Jika Infantino jatuh, prioritas investasi bisa berubah, dan negara-negara berkembang seperti Indonesia mungkin perlu menyesuaikan strategi.
Infantino sendiri belum menunjukkan niat untuk mundur. Namun, jika tekanan terus meningkat, bukan tidak mungkin ia akan menghadapi pemilihan yang sengit. Skenario terburuk baginya adalah munculnya kandidat tunggal dari koalisi penentang, yang akan memaksanya bertarung memperebutkan 106 suara untuk menang. Dengan peta dukungan yang masih cair, pertanyaan besarnya adalah: akankah Infantino mampu mempertahankan kursinya, atau justru menjadi presiden FIFA pertama yang gagal terpilih kembali dalam beberapa dekade?



