Medali Commonwealth, Lalu Kembali ke Kasir McDonald's: Realitas Atlet Judo yang Jarang Terlihat
Baca dalam 60 detik
- Summer Shaw, peraih medali perunggu Commonwealth Games untuk Skotlandia, kembali bekerja paruh waktu di McDonald's, memicu perbincangan viral tentang nasib atlet non-unggulan.
- Di balik medali, atlet judo seperti Shaw kerap menanggung biaya kompetisi sendiri, dengan dukungan finansial yang terbatas dari pemerintah Inggris.
- Kisah ini menyoroti kesenjangan pendanaan atlet di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana banyak atlet harus berjuang ekstra di luar arena.

Medali perunggu Commonwealth Games baru saja digantung di lehernya, namun beberapa hari kemudian Summer Shaw sudah kembali mengenakan seragam McDonald's. Atlet judo asal Skotlandia berusia 22 tahun ini menjadi sorotan setelah videonya di TikTok memperlihatkan dirinya bekerja di restoran cepat saji itu viral, ditonton lebih dari satu juta kali. Kisahnya membuka tabir realitas pahit yang jarang terlihat: menjadi atlet kelas dunia tidak selalu berarti hidup berkecukupan.
Shaw meraih medali perunggu di kelas 48 kg pada Commonwealth Games di Glasgow, medali judo pertama bagi Skotlandia di ajang tersebut. Namun, keesokan minggunya, ia kembali ke rumah orang tuanya di Surrey dan bekerja shift di McDonald's, pekerjaan yang ia tekuni sejak masa A-level. "Sulit menemukan pekerjaan yang fleksibel dengan jam latihan," ujarnya kepada BBC Sport. Ia mengaku banyak atlet paruh waktu lain mengeluhkan bos yang tidak memberi libur akhir pekan.
Kontras antara podium dan meja kasir ini memicu perdebatan publik. Banyak komentar di media sosial mempertanyakan bagaimana mungkin seorang atlet berprestasi harus bekerja di restoran cepat saji. Namun, bagi Shaw, ini adalah kenyataan yang lumrah di cabang olahraga seperti judo. "Sepak bola, Formula One... tapi saya tidak bisa memikirkan banyak olahraga lain di mana Anda mencapai level tertinggi dan langsung mapan secara finansial," katanya.
Shaw menerima Athlete Performance Award (APA), dana dari UK Sport dan National Lottery yang membantunya memenuhi biaya hidup dan latihan. Namun, dana tersebut tidak menutup semua kebutuhan. "Kompetisi berikutnya saya bayar sendiri karena tidak didanai British Judo," ungkapnya. Perjalanan ke Peru untuk Grand Prix, misalnya, menghabiskan banyak biaya yang tidak kembali. Ia juga mengaku ingin menabung untuk membeli rumah, sesuatu yang sulit diraih hanya dari dana atlet.
Kisah Shaw bukanlah kasus terisolasi. Di banyak negara, atlet non-unggulan seringkali harus mencari penghasilan tambahan. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi. Banyak atlet nasional yang berjuang dengan dukungan dana terbatas, harus bekerja sampingan atau mengandalkan sponsor pribadi. Padahal, mereka juga bermimpi tampil di Olimpiade, seperti Shaw yang menargetkan Los Angeles 2028. Untuk mewujudkannya, Shaw bahkan membuat halaman GoFundMe di awal tahun.
Menurut Shaw, sponsor akan menjadi "pengubah permainan" bagi atlet sepertinya. Dengan sponsor, ia bisa lebih selektif dalam memilih kompetisi tanpa khawatir menguras tabungan. Meski demikian, ia mengaku tidak ingin meninggalkan pekerjaannya di McDonald's sepenuhnya. "Saya bertemu banyak teman dekat dan pacar saya di sana! Jadi saya berutang banyak hal baik pada McDonald's itu," katanya sambil tersenyum. Namun, dengan sponsor, ia bisa lebih leluasa mengatur waktu antara bekerja dan berlatih.
Komentar di TikTok-nya pun beragam, dari yang merasa tidak percaya hingga yang memuji kerja kerasnya. Salah satu komentar berbunyi, "Superman juga punya pekerjaan sampingan." Hal ini menunjukkan bahwa publik mulai menyadari bahwa di balik medali, ada perjuangan finansial yang tak terlihat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah sistem pendanaan atlet di berbagai negara, termasuk Indonesia, akan berbenah? Atau akankah semakin banyak atlet yang harus berbagi waktu antara podium dan pekerjaan sampingan? Kisah Shaw setidaknya menjadi pengingat bahwa menjadi atlet profesional bukanlah jaminan hidup mapan, dan dukungan yang berkelanjutan sangat diperlukan agar mereka bisa fokus meraih prestasi tanpa beban ekonomi.



