Australia Mulai Vaksinasi Burung Liar dan Ternak untuk Lawan Flu Burung H5
Baca dalam 60 detik
- Australia mengumumkan program vaksinasi darurat untuk spesies burung yang rentan terhadap virus flu burung H5, setelah kasus pertama ditemukan pada burung laut migran.
- Langkah ini menyusul kematian massal satwa liar dan kekhawatiran penyebaran virus yang telah memusnahkan koloni anjing laut di pulau terpencil.
- Meski fokus pada burung liar dan penangkaran, otoritas setempat memperkirakan kasus akan terus bertambah, sementara industri unggas Australia masih bebas dari wabah.

Pemerintah Australia akhirnya mengambil langkah drastis dengan mengumumkan program vaksinasi darurat untuk burung-burung yang dianggap rentan terhadap virus flu burung H5, menyusul deteksi pertama strain mematikan ini di negara tersebut. Keputusan ini diumumkan Selasa (11/8) sebagai respons atas kekhawatiran penyebaran virus yang telah memicu kematian massal satwa liar dan mengancam keanekaragaman hayati yang unik di benua itu.
Australia selama ini menjadi satu-satunya daratan utama di dunia yang bebas dari strain H5, yang telah menyebabkan kerugian besar pada industri unggas dan populasi burung liar di berbagai belahan dunia. Namun, status tersebut berakhir pada Juni lalu ketika virus ditemukan pada seekor burung laut migran. Pekan lalu, pemerintah melaporkan peristiwa kematian massal pertama pada satwa liar, menandakan eskalasi penyebaran yang cepat.
Menteri Lingkungan Australia, Murray Watt, mengakui tantangan besar dalam upaya vaksinasi, terutama untuk burung liar. "Sulit untuk menangkap burung liar sekali saja, apalagi dua kali untuk dosis kedua," ujarnya. Meski demikian, pemerintah akan tetap berupaya menjangkau populasi liar yang memungkinkan, namun prioritas utama adalah burung-burung yang berada dalam penangkaran, seperti di kebun binatang dan fasilitas konservasi.
Menteri Pertanian, Julie Collins, memperingatkan bahwa wabah ini akan terus menyebar ke seluruh negeri. "Kita harus mengantisipasi lebih banyak kematian massal burung," katanya. Hingga Senin lalu, otoritas mencatat 231 kasus positif atau terduga infeksi H5 di Australia, meskipun belum ada laporan kasus pada unggas ternak atau produk pertanian.
Spesies burung yang paling terdampak antara lain unggas air, burung pantai, burung laut, dan burung pemangsa. Keunikan fauna Australia menjadikan wabah ini ancaman serius, karena hampir setengah dari spesies burung liar dan 83% mamalia hanya ditemukan di negara tersebut. Para ilmuwan memperkirakan dampak ekologis bisa sangat parah jika virus menyebar ke populasi yang belum pernah terpapar.
Konteks Indonesia: Wabah flu burung H5 di Australia menjadi peringatan bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memiliki jalur migrasi burung yang sama. Indonesia sendiri pernah mengalami wabah H5N1 yang mematikan pada awal 2000-an dan masih melakukan surveilans ketat. Para ahli menilai koordinasi regional dalam pemantauan dan respons cepat menjadi kunci untuk mencegah penyebaran lintas batas. "Kita harus belajar dari Australia bahwa virus ini tidak mengenal batas negara," ujar seorang epidemiolog veteriner yang enggan disebut namanya.
Ke depan, efektivitas program vaksinasi Australia akan menjadi ujian bagi strategi pengendalian flu burung di alam liar. Pertanyaannya, apakah vaksinasi dapat mengejar laju penyebaran virus yang cepat, atau justru memicu kekebalan parsial yang berisiko? Sementara itu, industri unggas Australia tetap waspada, meski belum ada kasus, karena virus dapat bermutasi dan menginfeksi ternak kapan saja.



