Gibran Turun ke Bireuen: Perbaikan SD Negeri 11 Jangka Jadi Prioritas Usai Banjir
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming memerintahkan jajarannya untuk segera mengaudit dan memperbaiki SD Negeri 11 Jangka di Bireuen, Aceh, yang rusak akibat banjir November 2025.
- Instruksi ini muncul setelah kunjungan mendadak Gibran ke sekolah tersebut, di mana ia berinteraksi langsung dengan siswa dan membagikan buku, menandakan perhatian khusus pada pemulihan pendidikan pascabencana.
- Langkah ini berpotensi mempercepat alokasi anggaran perbaikan infrastruktur sekolah di daerah rawan banjir, dengan implikasi pada kebijakan pendidikan nasional.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming memerintahkan jajarannya untuk segera menindaklanjuti perbaikan SD Negeri 11 Jangka di Kabupaten Bireuen, Aceh, yang rusak akibat banjir November 2025. Instruksi ini disampaikan saat kunjungan kerja di daerah tersebut, Kamis (6/8), setelah ia mendapati langsung kondisi sekolah yang memprihatinkan.
Kunjungan Gibran ke SD Negeri 11 Jangka di Desa Jangka Alue U, Kecamatan Jangka, bukan sekadar seremoni. Ia turun dari kendaraan saat melintas di depan sekolah, berinteraksi dengan para siswa, dan membagikan buku. Momen ini menjadi titik awal perhatian serius terhadap fasilitas pendidikan yang terdampak bencana.
Kepala SD Negeri 11 Jangka, Nuraini Ibrahim, melaporkan bahwa sejumlah fasilitas sekolah rusak akibat banjir yang melanda pada November 2025. Kerusakan ini mengganggu kegiatan belajar mengajar dan membutuhkan penanganan segera. Gibran merespons dengan meminta jajaran terkait melakukan pengecekan langsung dan mengidentifikasi kebutuhan perbaikan secara menyeluruh.
Lebih dari sekadar perbaikan fisik, instruksi ini menyiratkan urgensi pemulihan pendidikan pascabencana. Sekolah yang tidak layak huni berisiko menghambat hak anak atas pendidikan yang aman dan nyaman. Pemerintah pusat, melalui Wakil Presiden, tampaknya ingin memastikan bahwa pemulihan tidak berlarut-larut dan anggaran dialokasikan tepat sasaran.
Langkah ini juga menjadi sorotan bagi daerah lain yang kerap dilanda banjir. Bireuen, yang terletak di pesisir timur Aceh, memiliki sejarah panjang bencana hidrometeorologi. Perbaikan SD Negeri 11 Jangka bisa menjadi model penanganan infrastruktur pendidikan di wilayah rawan bencana lainnya di Indonesia.
Meski demikian, pertanyaan besar masih menggantung: seberapa cepat realisasi perbaikan ini? Pengalaman di daerah lain menunjukkan bahwa birokrasi sering menjadi penghambat. Namun, dengan intervensi langsung dari Wakil Presiden, ada harapan bahwa proses ini akan dipercepat. Publik menanti langkah konkret, bukan sekadar janji.
Ke depan, insiden ini membuka diskusi tentang pentingnya infrastruktur pendidikan yang tahan bencana. Apakah pemerintah akan mengadopsi standar bangunan sekolah yang lebih tangguh di daerah rawan banjir? Atau akankah perbaikan hanya bersifat reaktif? Jawabannya akan menentukan nasib jutaan siswa di Indonesia yang tinggal di wilayah rawan bencana.



