Wisata Akar Sejarah: Keturunan Jepang Berbondong ke Negeri Leluhur, Peluang Baru bagi Ekonomi Regional
Baca dalam 60 detik
- Jumlah pengunjung ke pusat dokumentasi emigrasi di Kobe melonjak hampir 50 persen dalam setahun, didorong minat silsilah dan yen lemah.
- Fenomena 'roots tourism' ini melibatkan sekitar 5 juta keturunan Jepang di luar negeri, membuka peluang revitalisasi daerah.
- Pemerintah Jepang mulai melirik tren ini sebagai potensi besar untuk memperluas pasar wisatawan mancanegara.

Genggaman Sergio Kohatsu pada dokumen perjalanan sang ayah yang telah berusia 97 tahun menjadi pintu pembuka misteri panjang keluarganya. Catatan pelayaran dari Jepang ke Brasil itu mengungkap jejak yang selama ini tersembunyi, dan Kohatsu hanyalah satu dari ribuan keturunan imigran Jepang yang kini berbondong-bondong menelusuri akar leluhur mereka di Negeri Matahari Terbit.
Fenomena yang dikenal sebagai "roots tourism" ini tumbuh subur berkat kombinasi unik: meluasnya penggunaan media sosial, nilai tukar yen yang melemah, dan meningkatnya minat global terhadap genealogi. Sekitar 5 juta orang keturunan Jepang diperkirakan menetap di berbagai penjuru dunia, dan kedatangan mereka bukan sekadar wisata biasaโmelainkan perjalanan emosional yang berpotensi menggerakkan ekonomi daerah-daerah di Jepang.
Di Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction, fasilitas yang berdiri sejak 1928 sebagai pusat pemberangkatan emigran, jumlah kelompok pengunjung melonjak dari 165 pada tahun fiskal 2024 menjadi 243 pada tahun fiskal 2025. Masanori Yabu, direktur eksekutif Japan-Brazil Association di Kobe, mengaitkan lonjakan ini dengan viralnya video media sosial yang menampilkan pasangan Jepang-Brasil, sekaligus meningkatnya akses layanan tes genetik yang memicu rasa ingin tahu orang-orang akan asal-usul mereka.
Bagi Kohatsu, yang ayahnya lahir di Nishihara, Okinawa, pada 1929 dan berangkat ke Brasil untuk bekerja di perkebunan kopi, dokumen yang ditemukannya di pusat tersebut adalah jembatan yang menghubungkan dirinya dengan tiga generasi leluhurnya. "Catatan ini sangat penting karena menghubungkan kami dengan nenek moyang kami," ujarnya. Perasaan serupa diungkapkan seorang akuntan Jepang-Brasil berusia 68 tahun asal Sao Paulo yang datang bersama putrinya, Jessica: "Kami sangat bahagia telah menemukan akar kami. Ini sangat emosional bagi kami."
Pemerintah Jepang pun mulai memberi perhatian serius pada tren ini. Selain Kobe, Perpustakaan Prefektur Okinawa telah menyediakan layanan penelusuran akar keluarga bagi sekitar 400.000 keturunan emigran Okinawa di luar negeri sejak 2016, dengan rata-rata 250 permintaan per tahun. Sementara itu, distrik Mio di Mihama, Wakayama, yang dijuluki "America Village" karena banyak warganya beremigrasi ke Kanada sejak era Meiji, juga aktif menyambut para penelusur akar. Perusahaan Kaju yang berbasis di Tokyo, yang mengkhususkan diri pada pembuatan pohon keluarga, melaporkan menerima 30 hingga 50 permintaan per bulan setelah meluncurkan situs web berbahasa Inggris tahun lalu.
Sachiko Kawakami, profesor di Kyoto University of Foreign Studies yang meneliti sejarah distrik Mio, menilai fenomena ini punya dampak ganda. Di satu sisi, wisata akar sejarah dapat merevitalisasi daerah-daerah yang ditinggalkan generasi mudanya. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pemerintah pusat dan daerah perlu membenahi infrastruktur agar mampu menampung wisatawan yang ingin terhubung kembali dengan warisan leluhur mereka. Tanpa dukungan yang memadai, potensi ekonomi yang menggiurkan ini bisa menguap begitu saja.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan diaspora yang tersebar di Belanda, Suriname, dan Timur Tengah, Indonesia sebenarnya memiliki potensi serupa untuk mengembangkan wisata genealogi. Namun, minimnya dokumentasi imigrasi dan lemahnya promosi membuat potensi itu belum tergarap. Pertanyaannya, akankah Indonesia belajar dari Jepang untuk membangun jembatan emosional dengan anak cucu para perantau? Atau justru membiarkan mereka tetap asing dengan tanah leluhurnya sendiri?



