Vietnam Mulai Bangun Kapal Perang Anti-Kapal Selam Terbesar Buatan Dalam Negeri
Baca dalam 60 detik
- Hanoi memulai konstruksi fregat anti-kapal selam terbesar yang sepenuhnya dirancang dan dirakit di dalam negeri, menandai lompatan besar dalam industri pertahanan Vietnam.
- Proyek ini melibatkan kolaborasi erat dengan Viettel dan unit riset militer, sejalan dengan strategi mengurangi ketergantungan pada impor senjata dari Rusia.
- Langkah ini berpotensi mengubah keseimbangan maritim di kawasan, termasuk di Laut China Selatan, dan menjadi sinyal bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Vietnam resmi memulai pembangunan fregat anti-kapal selam terbesar yang pernah dibuat di dalam negeri. Kapal perang ini diklaim sebagai yang paling canggih dan akan menjadi tulang punggung baru armada laut Hanoi di tengah ketegangan maritim yang masih membara di Laut China Selatan.
Pembangunan kapal tersebut berlangsung di galangan kapal Song Thu milik Kementerian Pertahanan di Kota Danang. Menurut laporan surat kabar Quan Doi Nhan Dan, sebagian besar persenjataan dan perlengkapan militer yang akan dipasang di kapal itu juga dikembangkan atau dirakit secara lokal. Ini merupakan langkah berani yang menegaskan ambisi Vietnam untuk mandiri di sektor pertahanan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemasok senjata tradisional seperti Rusia.
Proyek ini bukan sekadar proyek militer biasa. Pemerintah Vietnam secara eksplisit menyatakan bahwa pembangunan kapal ini sejalan dengan kebijakan industri pertahanan yang "otonom, mandiri, memperkuat diri, dual-use, dan modern". Kelompok teknologi dan telekomunikasi milik militer, Viettel, bersama unit riset dan manufaktur pertahanan lainnya, akan bekerja sama erat dengan Angkatan Laut dan Song Thu selama proses konstruksi, termasuk dalam pengembangan dan pemasangan senjata serta peralatan.
Langkah ini menandai percepatan modernisasi Angkatan Laut Vietnam yang selama beberapa dekade terakhir mengandalkan kapal selam kelas Kilo dan fregat kelas Gepard buatan Rusia. Kini, dengan hadirnya fregat anti-kapal selam buatan dalam negeri, Hanoi menunjukkan bahwa mereka tidak hanya ingin menjadi pembeli, tetapi juga produsen alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Di tengah dinamika geopolitik kawasan yang semakin kompleks, kemampuan Vietnam membangun kapal perang sendiri dapat mengubah keseimbangan kekuatan maritim di Asia Tenggara. Indonesia, yang juga memiliki kepentingan besar di Laut China Selatan dan perairan sekitarnya, perlu mencermati langkah Hanoi ini sebagai bagian dari tren peningkatan kapabilitas pertahanan negara-negara ASEAN.
Vietnam juga dijadwalkan menjadi tuan rumah Vietnam International Defence Expo di Hanoi pada bulan Desember mendatang. Ini akan menjadi edisi ketiga dari acara dua tahunan tersebut. Ajang ini menjadi panggung bagi Hanoi untuk memamerkan produk-produk pertahanan dalam negerinya sekaligus menarik mitra strategis baru, seiring upaya diversifikasi sumber peralatan militer.
Para analis menilai bahwa pembangunan fregat ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga pesan politik. Dengan membangun kapal perang sendiri, Vietnam ingin menunjukkan bahwa mereka mampu menjaga kedaulatan maritim tanpa harus bergantung penuh pada kekuatan asing. Di sisi lain, langkah ini juga bisa memicu kekhawatiran Beijing, mengingat Vietnam adalah salah satu penantang utama klaim Tiongkok di Laut China Selatan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat Vietnam dapat menyelesaikan proyek ini dan sejauh mana kemampuan tempur fregat tersebut dibandingkan dengan kapal-kapal buatan negara maju. Apakah ini akan menjadi awal dari era baru industri pertahanan Vietnam yang mampu bersaing di pasar global? Atau justru menjadi beban anggaran yang besar di tengah tekanan ekonomi? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: peta kekuatan maritim di Asia Tenggara sedang bergeser.



