Khanh Hoa Menuju Pusat Halal Vietnam: Strategi Ekonomi dan Pariwisata Ramah Muslim
Baca dalam 60 detik
- Provinsi Khanh Hoa, Vietnam, meluncurkan rencana komprehensif untuk membangun ekosistem halal yang terintegrasi, mencakup pariwisata, pertanian, dan manufaktur, dengan target pasar global.
- Investasi besar dialokasikan untuk proyek peternakan kambing dan domba halal senilai US$7,6 juta, menargetkan ekspor ke Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Uni Eropa.
- Inisiatif ini diharapkan menjadi model bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam mengembangkan sektor halal yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Provinsi Khanh Hoa di Vietnam tengah bertransformasi menjadi pusat ekonomi halal yang ambisius, menggabungkan pariwisata kelas dunia dengan produk pertanian bersertifikat halal. Langkah ini bukan sekadar diversifikasi pasar, melainkan upaya strategis untuk merebut pangsa pasar wisatawan dan konsumen Muslim global yang terus tumbuh.
Dalam sebuah konferensi pariwisata halal baru-baru ini, Truong Van Tien, direktur Pusat Promosi Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata provinsi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun rencana induk untuk pengelolaan kualitas dan kebijakan pengembangan produk serta layanan halal. Rencana ini dirancang untuk membangun ekosistem halal yang terpadu, berpusat pada pelaku usaha, sekaligus mempromosikan Khanh Hoa sebagai destinasi ramah Muslim.
Dengan garis pantai lebih dari 500 kilometer dan hampir 200 pulau, termasuk Teluk Nha Trang, Cam Ranh, Van Phong, dan Vinh Hy, provinsi ini memiliki modal alam yang kuat. Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Vietnam, Bader Almatrooshi, menilai Khanh Hoa sebagai salah satu destinasi paling menjanjikan untuk menarik wisatawan bernilai tinggi dari negaranya. Kehadiran resor mewah seperti Six Senses dan Aman menjadi daya tarik utama, terutama bagi keluarga besar atau rombongan dari UEA yang mengutamakan privasi dan kenyamanan.
Selain keindahan alam, Khanh Hoa menawarkan koneksi budaya yang dalam melalui warisan peradaban Cham dan produksi gaharu serta oud berkualitas tinggi, yang memiliki nilai khusus di Timur Tengah. Pemerintah provinsi berencana meningkatkan layanan ramah Muslim, termasuk menyediakan ruang salat di bandara, melatih pekerja pariwisata tentang sensitivitas budaya, serta mendorong investasi di akomodasi dan restoran bersertifikat halal. Promosi gencar dilakukan ke Malaysia, Indonesia, Brunei, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah.
Di sektor pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Khanh Hoa telah menyetujui proyek pengembangan produk kambing dan domba halal hingga 2030. Dengan investasi sekitar VND200 miliar (US$7,6 juta), proyek ini menargetkan ekspor ke Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Uni Eropa. Pada 2030, provinsi ini menargetkan memiliki setidaknya 14 kawasan peternakan di atas lahan 1.735 hektare dengan populasi 200.000 kambing dan 300.000 domba, serta dua rumah potong hewan berstandar halal dengan kapasitas 200-300 ekor per hari.
Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan merek "Khanh Hoa Halal Goat and Sheep" yang dikaitkan dengan indikasi geografis dan standar internasional. Sistem manajemen penyakit juga dirancang untuk memastikan 100 persen kawasan peternakan bebas penyakit sesuai standar Organisasi Kesehatan Hewan Dunia. Pelaku usaha lokal, seperti Tri Tin Co Ltd, telah memanfaatkan sertifikasi halal untuk menembus pasar negara-negara Teluk. Le Ben, pendiri perusahaan, mengakui bahwa sertifikasi halal memberikan keunggulan kompetitif, terutama di pasar Singapura dan Amerika Serikat.
Di sektor pariwisata, Kim Ngan, salah satu pendiri Koperasi Pariwisata Pertanian Green Life, telah menerapkan konsep farmstay ramah Muslim. Setelah sempat terhenti akibat banjir tahun lalu, koperasi ini kembali beroperasi dan tengah memperbarui sertifikasi halalnya. Ngan menekankan pentingnya kepercayaan wisatawan, yang dibangun melalui kepatuhan terhadap standar halal, penyediaan ruang salat, dan fasilitas memasak terpisah. Langkah ini, menurutnya, adalah kunci keberhasilan model akomodasi dan restoran halal.
Bagi Indonesia, perkembangan Khanh Hoa menjadi cermin sekaligus tantangan. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama ekonomi halal global. Namun, inisiatif Khanh Hoa menunjukkan bahwa negara tetangga mampu bergerak cepat dan terstruktur dalam membangun ekosistem halal yang komprehensif. Apakah Indonesia akan merespons dengan strategi serupa untuk mempertahankan daya saingnya di pasar halal internasional?



