Brendan Cole Soroti Penampilan Josh Widdicombe di Strictly: 'Seperti Anak Domba'
Baca dalam 60 detik
- Brendan Cole menilai Josh Widdicombe tampil canggung saat debut sebagai co-host Strictly Come Dancing.
- Kritik muncul karena Josh bukan penari, melainkan komedian yang dipasangkan dengan presenter profesional.
- Cole meminta publik memberi kesempatan hingga pertunjukan utama, bukan hanya episode peluncuran.

Mantan bintang Strictly Come Dancing, Brendan Cole, mengomentari penampilan perdana Josh Widdicombe sebagai co-host acara tersebut. Menurut Cole, komedian berusia 43 tahun itu tampak seperti "anak domba" di atas panggung, bukan karena kemampuannya buruk, melainkan karena posisinya yang kurang pas di antara para presenter berpengalaman.
Widdicombe diperkenalkan sebagai co-host baru pada akhir pekan lalu, mendampingi Emma Willis dan Johannes Radebe. Cole, yang pernah menjadi penari profesional di Strictly antara 2004 dan 2017, menilai bahwa kombinasi antara gaya flamboyan Radebe dan ketegasan Willis membuat penampilan Widdicombe terasa janggal. "Dia bukan penari, dia komedian. Dia presenter yang baik dan menghibur, tapi di acara seperti Strictly, kehadirannya terasa sedikit keluar dari konteks," ujar Cole kepada The Sun.
Meski mengkritik, Cole mendorong penonton untuk tidak terburu-buru menilai. Ia menekankan bahwa episode yang baru tayang adalah acara peluncuran, sehingga performa Widdicombe di pertunjukan reguler belum terlihat. "Sebagai presenter, Anda hanya diberi naskah dan menjalankannya. Saya tidak ingin berada di posisinya," tambahnya.
Sebelum penunjukannya, seorang sumber dalam industri menyebut Widdicombe sebagai kandidat ideal untuk mengisi celah komedi yang ditinggalkan Claudia Winkleman. Menurut sumber tersebut, Widdicombe lolos uji chemistry dan dianggap cocok karena kepiawaiannya di acara live serta gaya humornya yang canggung namun menghibur. Emma Willis diproyeksikan mengisi peran sebagai figur senior seperti Tess Daly.
"Dia masuk dalam bursa belakangan, tetapi dia berhasil melewati tes chemistry dengan baik. Josh sangat piawai di TV live berkat pengalamannya membawakan The Last Leg," ujar sumber tersebut.
Kritik terhadap Widdicombe menyoroti dinamika unik dalam industri televisi hiburan: ketika seorang komedian ditempatkan dalam format kompetisi dansa yang sarat ekspektasi. Strictly Come Dancing bukan sekadar ajang unjuk bakat, melainkan juga tontonan keluarga yang mengandalkan keseimbangan antara profesionalisme dan hiburan. Kehadiran Widdicombe diharapkan membawa kesegaran, namun tekanan untuk tampil mulus di samping presenter kawakan menjadi tantangan tersendiri.
Bagi penonton Indonesia, fenomena ini mencerminkan bagaimana acara realitas dan kompetisi global terus berevolusi dalam meracik formula presenter. Di tanah air, program serupa seperti Indonesian Idol atau The Voice juga kerap menghadirkan kombinasi host dan komedian untuk menjaga momentum tontonan. Kritik yang dialami Widdicombe bisa menjadi pelajaran bahwa transisi peran dari komedian ke pembawa acara live tidak selalu mulus, terutama bila bersanding dengan figur yang sudah mapan.
Ke depan, apakah Widdicombe mampu membuktikan diri di episode-episode selanjutnya, atau justru kritik serupa terus mengiringi? Publik tampaknya perlu menunggu hingga pertunjukan reguler dimulai untuk menilai secara adil. Yang jelas, eksperimen peran presenter di acara hiburan besar selalu menyisakan ruang debat antara selera penonton dan tuntutan profesionalisme.



